
Menjelang pagi, Bayu baru bisa memejamkan matanya hingga akhirnya ia merasa sedikit kesiangan. Ayam telah ramai berkokok, burung telah ramai berkicau dan suara-suara sapu lidi terdengar bergesekan dengan tanah, pertanda beberapa orang sedang menyapu secara bersamaan. Bayu mengintip dari balik tirai jendela, halaman di luar terlihat terang benderang. Nawang pun sudah tidak ada di sisinya lagi.
Setelah merasa kesadarannya telah penuh, Bayu bangkit dari tidurnya untuk mencari Nawang. Tidak sulit menemukannya karena sudah pasti perempuan itu berada di dapur. Perempuan itu berjongkok di depan tungku, rambutnya tergerai masih agak basah. Dia belum menyadari Bayu di dekatnya lantaran sedang sibuk sendiri meniup-niup api di tungku yang padam.
“Kau kesulitan?” tanya Bayu.
“Eh, Bayu,” katanya agak tersentak. “Aku kaget, biasanya hanya aku sendiri di rumah ini.” Nawang terkekeh.
“Mau aku bantu?”
“Oh, tidak usah. Bayu bisa langsung mandi saja di belakang rumah. Sudah ada air hangatnya di tempayan.”
“Terima kasih, Nawang,” kata Bayu yang direspons dengan anggukan dan senyuman.
Bayu menuju ke belakang. Menuju ke kamar mandi dengan ukuran satu kali setengah meter. Pinggir-pinggirnya ditutup dengan anyaman bambu. Airnya berasal dari gunung asli. Mengalir dengan bebas dari atas memakai bambu yang dibelah dan saling menyambung. Tidak ada sabun di sini, Nawang mengatakan, dia biasa mandi memakai cairan yang ada di wadah kecil yang disediakan. Yakni terbuat dari akar tanaman dicampur rempah yang menyehatkan. Dan di dalam tempayan itu terdapat daun dan bunga-bungaan. Pantas saja tubuh Nawang selalu harum. Ya, harum. Bahkan masih terasa menempel di tubuhnya. Sekelebat dia mengingat kejadian semalam. Bayu mengagumi kehebatannya.
Setelah selesai mandi, Bayu menuju ke ruang paling depan, sedangkan pintu dibiarkan terbuka. Di atas meja telah terhidang pacitan berupa umbi-umbian dan minuman hangat. Asap mengepul dari makanan itu.
Nawang bersemu-semu pada saat duduk di depannya. Dia mengucapkan berterima kasih berkali-kali. Seandainya dia bisa diberi kesempatan—Nawang ingin ikut dengannya untuk keluar dari tempat ini. Namun segera ia menyadari bahwa Bayu datang ke sini mempunyai tujuan. Yakni membawa kekasihnya kembali. Bukan dikirim untuk menyenangkannya. Maka dari itu, Nawang mengubur harapannya dalam-dalam.
“Aku harus pergi, Nawang. Purnama mungkin sehari atau dua hari lagi akan tiba. Aku takut terlambat,” kata Bayu.
“Ya, pergilah, Bayu. Semoga kau selamat sampai tujuan. Aku akan mengantarkanmu sampai akhir desa ini,” balasnya.
Setelah Bayu menyantap sarapan—Bayu menggendong lagi tas ranselnya. Lalu mendekati kudanya yang diikat ke bambu tempat biasa Nawang menjemur pakaian. Dia mengelus-elus kuda itu. “Kita lanjutkan lagi perjalanan kita.”
Kuda itu meringkik, mengerti ucapannya.
__ADS_1
Bayu berpamitan kepada semua warga perempuan yang ia temui. Duduk sebentar berbasa-basi sekadar menjaga kesantunan. Ucapan terima kasih berkali-kali lolos dari mulutnya karena sudah diberi tumpangan. Setelah Bayu rasa cukup, keduanya lantas berjalan beriringan dengan Bayu yang menuntun serta kudanya. Dia baru naik ke atas kuda setelah berada di ujung desa.
“Aku sampai di sini saja, Bayu. Kau hati-hati. Perjalanan ini tidak sejauh kemarin,” ucap Nawang. Bibirnya melengkung, namun matanya memancarkan kesedihan. Dia merasa kehilangan. Karena mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini.
Bayu menatap ke bawah dan tersenyum, “Sampai bertemu lagi, Nawang,” katanya tak bisa mengatakan hal lain, apalagi selamat tinggal. Itu terdengar menyedihkan. "Sampaikan salamku padanya bila memang perkataanmu akan benar terjadi.”
Nawang menjawab, “Itu pasti, Bayu.”
"Ini untuknya dariku, simpanlah untuk kenang-kenangan," kata Bayu mengeluarkan sebilah keris kecil dari tas ranselnya.
Nawang menerimanya, "Terima kasih. Akan aku sampaikan."
Kuda mulai berjalan dan semakin menjauh, namun tatapan Nawang tak pernah lepas dari dirinya. Tatapan yang melunak, tatapan yang penuh harapan dan impian. Bayu agak tersentuh dibuatnya.
“Terima kasih untuk malam ini, untuk seluruh kedirianmu,” katanya bergumam. Kuda memacu jalannya lebih cepat. Karena telah beristirahat dan makan yang banyak tentunya membuat tubuh kuda itu lebih bugar daripada kemarin. Jalanan setapak sudah Bayu lewati, Desa itu semakin mengecil dan semakin tak terlihat. Menyusuri perkebunan kopi dan belantara yang maha luas hingga akhirnya sekarang ia telah tiba di pinggiran rawa-rawa. Medan agak sulit sehingga kuda itu berjalan secara perlahan dan penuh kehati-hatian.
Bayu memejamkan matanya. Dia mencoba melihat dengan mata kebatinan. Istana terlihat, namun tampaknya sudah tak terlalu jauh. Bayu tersenyum lega, “Sore ini aku akan sampai di tempatmu, Put.”
Sinar yang samar-samar itu terlihat dari ufuk barat, pertanda bahwa hari sebentar lagi akan menggelap. Telinga Bayu sudah menangkap suara-suara hiruk pikuk dari banyaknya orang-orang. Bau-bau aroma makanan menyeruak di hidungnya.
Hamparan rumput terlihat sangat luas, mirip seperti di mimpinya—dan istana mulai terlihat. Ah, alangkah indahnya istana itu terlihat sangat nyata. Sejenak Bayu berhenti untuk melihat secara jelas pemandangan itu. Awan terlihat menggantung lebih rendah, tak sejauh seperti yang biasa ia lihat. Langit biru membentang membuat Bayu ingin terbang ke angkasa sana.
Tetapi tunggu. Bayu tersentak pada saat pandangannya beralih ke bawah. Ia telah di hadang oleh beberapa prajurit. Terkepung di tengah. Beberapa prajurit itu menodongkan panah ke arahnya.
“Aku tidak berniat jahat, aku hanya ingin bertemu dengan Roro Ageng,” kata Bayu setelah turun dari kuda. “Tolong antarkan aku ke sana.”
“Tidak bisa, kau harus membuat janji dulu dengannya. Kalau tidak kau tidak bisa masuk,” sahut salah satu prajurit.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu, tolong panggilkan Roro Ageng ke hadapanku. Dia sudah pasti mengenalku.”
“Beliau sedang dipingit untuk menikah besok hari dengan Pangeran Hanung.”
“Tolong, aku datang dari jauh. Sangat jauh sekali bahkan menembus waktu.”
“Apa kata orang aneh ini?” tanya salah satu prajurit dengan yang lainnya. “Aku tidak mengerti bahasanya.” Mereka saling berbisik.
“Aku datang dari masa depan. Kedatanganku ke sini hanya untuk menemui Roro Ageng. Ini sangat penting.”
“Apa hubunganmu dengannya?”
“Kami pernah tinggal bersama. Bahkan hampir menikah.”
Beberapa prajurit itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jangan mimpi!” sahut yang lain. “Pasti kau hanya rakyat biasa. Mana mungkin kau bisa bersanding dengan calon Ratuku.”
Bayu memejamkan matanya, dia menghubungkan ikatan dengan Roro, lantas memanggil namanya tiga kali. “Nyai Roro Putri, Putri, Putri. Sayang ... aku di sini, keluarlah! Temui aku.”
Kedua telinga perempuan cantik yang kini sedang berada di taman kaputren itu sayup-sayup mendengar pemuda memanggil namanya sebanyak tiga kali. Suara itu terdengar jelas dan dekat. Maka detik itu juga, ia menuju ke sebuah gerbang.
“Den Ayu, Den Ayu tidak boleh keluar dulu,” kata Dayang namun tak dipedulikannya.
“Bayu ....” Perempuan itu berdiri di depan istana. Sehingga membuat para prajurit serentak menunduk.
“Silahkan masuk, Pangeran,” sahut salah satu perwakilan.
__ADS_1
Bayu tersenyum menatap perempuan yang sangat jelita itu. Dia menunggunya dan mengulurkan tangannya.
“Ayo, masuk.”