Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Mimpi yang Aneh


__ADS_3

Putri mencoba tersenyum untuk sekadar menghargai. Entah bagaimana perasaannya selama ini. Dia tidak mengenal cinta. Kebanyakan orang-orang di kerajaan, hidup berkeluarga karena dijodohkan oleh orang tuanya. Ya--meskipun ada beberapa yang tidak demikian. Tetapi intinya, Putri sendiri sekalipun tidak pernah bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan seorang pria.


Apa itu cinta? Putri sendiri tidak tahu bagaimana cara mencintai dan dicintai.


Apakah benar, lelaki di depannya ini adalah sosok yang tepat untuknya? Kepada siapa Putri harus bertanya? Tidak ada satu teman pun yang diutus menemaninya untuk hidup pada masa sekarang ini. Seperti apa caranya kembali, kenapa dia bisa ada di sini? Dan Putri akan senantiasa terus dalam kebingungan.


Bayu mengajaknya pulang setelah selesai berbincang. Bayu kembali berangkat ke Bengkel setelah mengajarkan caranya Putri meminum obat.


“Sudah selesai urusannya, Yu?” tanya Kampleng saat Bayu baru sampai di lokasi.


“Sudah,” jawab Bayu singkat lantas mengambil bagian. Setelah melihat catatan keluhan pelanggan. “Kayaknya aku kenal sama motor ini, Pleng,” kata Bayu menebak tentang motor yang sedang diperbaikinya.


“Coba tebak, itu motornya siapa?”


“Punya Liana, ya?” tebak Bayu.


“Yaps, betul sekali!”


“Ke mana orangnya?”


“Dia cuma ninggalin catatan; apa saja yang harus diganti, nanti kau antarkan ke rumahnya.”


“Huu, sial!” kata Bayu setengah kesal. Sebab rumah Liana lumayan jauh. Harus ada dua orang yang mengantarkan motor ini. Kalau tidak, ia akan terkena apes karena harus kembali dengan berjalan kaki berjarak ratusan meter.


“Kenapa?” tanya Kampleng tanpa merasa bersalah.


“Pakai tanya lagi, ya antarinlah!”


“Iya, iya, gampang. Kalau sudah sempat tak antarin nanti ke sana.”


Malam harinya~


Ketiganya sedang berada di ruang tamu, tetapi bukan menonton televisi seperti biasanya. Melainkan membahas rencana pernikahan. Julia bertanya kepada mereka secara sungguh-sungguh. 


“Apa kalian sudah memikirkannya matang-matang? Menikah adalah ibadah seumur hidup. Menikah itu bukan hanya menyatukan dua tubuh, tapi juga menyatukan kepala yang berbeda. Ada tanggung jawab yang akan kalian pikul nanti, apalagi setelah mempunyai anak,” papar Julia panjang kali lebar. “Bayu, apa kamu sudah benar-benar siap?”


“Siap dong, Bu.” Bayu menjawab dengan sangat yakin.


Julia beralih kepada Putri yang terlihat menurut saja, “Putri?”


Putri mengangguk, "Iya, Bu."


“Putri sendiri siap atau tidak untuk menikah dengan Bayu? Putra Ibu memang tidak ganteng-ganteng amat, tapi insyaallah bertanggung jawab.”


Putri kembali mengangguk, namun kali ini anggukannya disertai senyum sipu. Namun untuk pertanyaan selanjutnya—Putri agak bingung ketika Julia menanyakan sesuatu lagi.


“Putri ... Putri umur berapa? Soalnya pernikahan kalian akan di urus ke kantor sipil. Nanti biar kami buatkan kamu identitas. Supaya kamu punya KTP.”


Setahu Putri, pada saat terakhir kali Putri dikutuk menjadi patung adalah umur dua puluh empat tahun. Tetapi bukannya dulu dia hidup di tahun ke delapan ratusan. Sedangkan sekarang? Sudah tahun dua ribuan lebih.


“Putri bingung, Bu. Diperkirakan sendiri saja.”

__ADS_1


Bayu dan Julia saling menatap, namun beberapa detik kemudian bayu mengangguk untuk menuruti saja kemauan Putri bagaimana.


“Ya, sudah. Besok kau uruslah identitas Putri, Yu. Biar cepat, nembak saja. Jaman sekarang, kalau tidak nyogok, lama jadinya. Tahu sendirilah!”


Bayu menyetujui perkataan Ibunya.


***


Pukul dua belas malam di kamar Roro Putri.


“Sugeng rawuh, Guru. Apakah itu kau?” Dia menyatukan tangannya di depan dada, begitulah caranya ia bersikap untuk menyambut kedatangan orang yang lebih tua darinya.


“Akhirnya kau datang juga, selama ini aku menunggumu Guru. Aku membutuhkan bantuanmu. Aku ingin menyelesaikan masa laluku. Aku sangat ingin bertemu Ayahanda dan Ibundaku. Kumohon, pertemukanlah aku dengannya.”


“Guru, tolong dengarkan aku, Guru ....”


Beberapa saat kemudian cahaya putih menyilaukan menerabas jendela kaca, lalu mengubah Roro Putri menjadi wujud yang sebenarnya.


***


Bayu menoleh ke kanan dan ke kiri. Dunia luas terbentang padang rerumputan seperti tak bertepi. Suasana begitu tenang dan sunyi. Bahkan ia seperti bisa mendengarkan nafasnya sendiri. Tidak ada matahari. Hari seperti menjelang malam. Sedang di sebelah selatan sana, terlihat sebuah istana besar berdiri kokoh namun samar-samar karena terhalang oleh kabut. Hawa di sana terasa dingin. Yang dinginnya terasa sampai ke tulang-tulang. Ia menggosok-gosokkan tangannya agar lebih terasa sedikit hangat.


Sudah berapa lama Bayu duduk di sini? Dunia apa ini, bersama siapa dia datang dan untuk apa tujuannya ada sini? Bayu bertanya-tanya sendirian.


Namun tak lama dia duduk sendirian sebab suara roda dan sepatu kuda datang dari arah timur kemudian mendekatinya. 


Sampai di depannya persis, rombongan itu berhenti. Bayu memandang mereka dengan tatapan memperhatikan. Orang-orang itu berpakaian sangat aneh. Sebagian dari mereka memakai ikat kepala atau biasa disebut blangkon, bajunya beragam. Tetapi paling banyak yang bergaris-garis coklat, memakai celana pendek selutut, dililit dengan sedikit kain batik. Sedang di punggungnya terdapat senjata tajam, seperti belati yang dimasukkan ke dalam sela-sela lilitan celana.


Sudah berulang kali Bayu bermimpi seperti ini, tapi saat inilah yang menurutnya paling nyata.


Tak lama kemudian, kereta paling depan menurunkan penumpangnya. 


Namun Bayu terkejut, mulutnya menganga pada saat melihat Roro Putri keluar dari dalam sana. Dia benar-benar perwujudan seorang bidadari yang silau matanya menembus ke ulu jantungnya. Membuat hatinya berdebar-debar. Bibirnya merah hati, giginya seputih susu.


“Putri ...,” lirihnya tercekat.


“Iya, ini aku,” katanya menjawab. Dia tersenyum, lantas mendekat untuk duduk di sampingnya dan menoleh.


“Kita ada di mana?”


Namun Putri tak menjawab, justru mengucapkan hal lain. “Aku sudah harus kembali, Yu.”


“Kembali ke mana?” tanya Bayu kebingungan. “Mereka semua siapa? Tunjuknya kepada orang-orang yang sedang menunggu.


“Mereka semua para pengawalku.”


Bayu semakin tidak mengerti dan memilih untuk diam.


“Aku harus kembali, Yu,” kata Putri lagi.


“Ya sudah, ayo kita cari jalan pulang.”

__ADS_1


“Itu rumahku,” tunjuk Putri kepada istana megah yang menjulang tinggi di selatan sana.


“Tidak, kita kembali ke rumahku. Bukannya kita akan menikah?”


Putri menggeleng. “Ayahandaku tak menyetujuinya. Dunia kita berbeda. Aku hanya bisa hidup di masa yang dulu, dan kau di jaman yang sekarang. Sudah semestinya seperti itu.”


“Tapi bukannya kita sekarang ini bisa hidup berdampingan?”


“Masalahnya sekarang sudah tidak lagi, aku memilih untuk abadi di sini,” jawab Putri. “Terima kasih karena sudah membantuku keluar dari hukuman. au tidak akan melupakan jasamu. Karenamu, aku bisa bebas lebih cepat dari perkiraan Ayah. Dan sekarang, aku harus kembali menemui mereka.”


Bayu menggeleng, “Tapi janji setelah itu kau harus kembali kepadaku, Put. Bukannya kamu sudah setuju bahwa kita akan hidup sama-sama? Kita akan menikah ‘kan?”


“Aku harus tetap kembali, bagaimana pun kau memohon.”


“Put ....” Bayu menggenggam tangan Putri. “Aku tidak pernah secinta ini dengan perempuan, tolong jangan patahkan hatiku. Plis Put ....”


Putri menggeleng.


“Jangan bilang kau akan kembali untuk menikah dengan Pangeran itu lagi,” ucap Bayu menduga-duga. “Bukankah kau bilang bahwa Pangeran itu jahat dan suka main dengan perempuan?”


“Aku melakukan itu semata-mata untuk orang tuaku,” kata Putri.


“Tapi, Put. Aku mencintaimu, sungguh!”


“Aku ada di sana,” tunjuk Putri yang membuat Bayu tak mengerti.


“Apa kau mau aku menyusulmu?”


“Tidak mungkin, itu berbahaya.”


“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli!” seru Bayu sehingga dirinya terbangun dari mimpi. Dia bangun dari tidurnya dengan napas yang terengah. Terlalu kesal, dia melempar bantal-bantalnya ke samping dengan mulut yang terus menggerutu. “Astaga ... aku hanya mimpi ...,” ucapnya seraya mengelap keringatnya yang bercucuran.


“Ada apa, Yu? Kenapa kau teriak-teriak malam-malam begini. Bikin orang kaget saja!” sungut Julia dari depan pintu kamarnya.


“Aku mimpi buruk Bu.”


“Lain kali kalau tidur itu berdoa dulu. Jangan asal tidur saja. Nanti kau tidak diganggu setan.”


Kendatipun Julia berbicara menasihatinya panjang lebar, Bayu tidak mendengarkannya. Dia malah terpikir mimpi yang tadi. Lantaran penasaran, ia ingin menanyakan mimpi ini secara langsung. Bayu mengetuk pintu kamar Putri.


“Ada apa, Yu? Kenapa kau ketuk-ketuk kamar Putri. Ini masih malam. Kasihan, dia sedang istirahat. Nanti kalau kurang tidur dia bisa sakit lagi,” kata Ibu yang mendekat ketika mendengar ketukan.


“Tapi Bayu ingin tahu keadaannya, Bu. Tadi Bayu mimpi dia.”


“Kan, hanya mimpi.”


Bayu tak mengindahkan kata-kata ibunya, dia tetap mengetuk pintu kamar itu. “Put, buka pintunya, Put!”


Tok tok tok!


“Put! Put!” Bayu menoleh dan bertanya kepada Ibunya. “Kenapa Putri diam saja, ya Bu?”

__ADS_1


“Mungkin dia sedang nyenyak,” jawab Julia berupaya meraba-raba kemungkinan. Padahal, dia sendiri tidak mengerti apa sebabnya. Rasanya tidak mungkin juga Putri tidur sepulas itu. Bukankah gedoran di pintu kamarnya sangat keras?


__ADS_2