
“Pejamkan matamu,” titahnya. Ki Adiwerna melekatkan telapak tangannya di kening Bayu. Setelah beberapa saat, Bayu merasakan sejuk merasuk ke dalam tubuhnya yang bermula dari tangan lelaki tua itu. Mengarus ke tempurung kepalanya, menembus ke mata, hidung, telinga, dan yang terakhir menyeruak menghentak keluar melalui pori-pori kulit.
“Sekarang, buka matamu,” titahnya lagi.
Bayu membuka mata, dia melihat sekeliling dan mulai merasakan hawa yang aneh. Dia menjadi manusia yang sangat sensitif. Matanya yang semula normal kini dapat melihat hewan perayap sekecil apa pun yang menempel pada pohon di depan rumah itu; meski dalam kondisi yang masih gelap.
Suara-suara terdengar lebih tajam masuk ke gendang telinga. Dia mampu mendengar derap langkah kaki seseorang yang menginjak daunan kering entah dari jarak berapa ratus meter. Berbagai macam bau tercium sangat jelas di hidungnya. Bulu-bulu halus yang awalnya tak terasa, kini dapat ia rasakan satu persatu perlahan bergerak karena angin yang menerpa kulit. Ia bingung dengan apa yang terjadi dengannya. Indranya bekerja sangat kuat. Bahkan ia mampu mendengar tetes-tetes embun yang jatuh ke tanah. Ini sangat aneh.
Dari rasa yang sangat bingung dan pening yang amat luar biasa, Bayu sempoyongan. Dia terhuyung pada saat berjalan ke teras rumah itu dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Setelah merasa lebih baik, Bayu mendongak menatap Ki Adiwerna yang sudah berhasil membuatnya seperti ini. Bertanya-tanya lewat matanya.
“Kau akan terbiasa nanti. Itu sangat berguna untukmu di perjalanan, agar kau bisa melihat bahaya yang paling tersulit sekalipun.” Hanya itu yang beliau jelaskan. Lalu memapah Bayu untuk kembali duduk.
“Perjalanan ini sangatlah jauh dari yang kau kira. Pergilah ke arah selatan di bukit tempat kau menemukan patung itu. Indramu yang akan menuntunmu ke sana. Kau tidak akan tersesat. Dan selama di perjalanan, kau tidak boleh memakan makanan sembarangan. Terutama daging buruan. Jika tidak, jiwa purba yang ada dalam dirimu akan memberontak kuat. Yang ditakutkan, hal itu malah akan membawa masalah besar bagimu.”
__ADS_1
Ki Adiwerna mengambil sesuatu untuknya, berupa belati sepuh yang sangat tajam. “Kau pergunakan sebaik-baiknya.”
Bayu mengangguk, “Terima kasih, Ki.”
“Aku akan mengantarkanmu ke gerbang gaib. Aku tidak tahu, kelak aku masih ada atau tidak saat kau kembali. Tetapi kau harus tetap kembali ke sini dan mengembalikan belati itu di tempat ini. Di sini akan selalu ada orang yang menjaganya. Kau mengerti?”
“Mengerti, Ki.”
Tunggu. Gerbang gaib? Jadi, Putri itu sebenarnya siapa? Makhluk apa yang selama ini tinggal bersamanya? Yang senantiasa selalu ia cintai begitu dalam.
Seperti beberapa waktu lalu, Bayu kembali melewati ladang-ladang milik penduduk, menaiki bukit-bukit itu lagi yang sangat tinggi tentunya. Tetapi anehnya, dia dan Ki Adiwerna sedikit pun tidak merasakan lelah. Tubuhnya terasa sangat sehat dan bugar. Berbeda pada saat ia ke sini dulu yang sampai terengah-engah hingga terguling-guling ke bawah. Bahkan ia merasa perjalanan ini sangatlah singkat dan cepat.
Apa karena aliran sejuk yang menembus tubuhnya tadi?
__ADS_1
Entah sudah berapa lama mereka berjalan. Sampai akhirnya—Ki Adiwerna yang ada di depannya kini berhenti di pohon enau yang tumbuh berjejer. Tak jauh dari tempat di mana Bayu menemukan patung itu.
“Ini gerbangnya,” katanya menjelaskan.
Gerbang macam apa ini? Ini hanyalah sebuah pohon yang tumbuh berjejer bukan?
“Kau bisa kembali lewat pintu ini lagi. Dengan belati yang aku berikan padamu. Tinggal arahkan saja ujungnya ketika cahayanya menyala,” kata Ki Adiwerna lagi.
Meskipun tak mengerti, Bayu tetap mengangguk.
“Apa pun yang terjadi, kau harus kembali. Duniamu di sini. Orang tuamu menunggumu.”
Ki Adiwerna merata ke tanah, mengajaknya untuk duduk bersila. Setelah Bayu ikut bersila, beliau membacakan doa-doa yang Bayu sendiri tidak mengerti artinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia kembali merasakan pusing yang luar biasa. Pusing seperti tadi yang membuatnya ingin sekali muntah pada saat itu juga. Sesaat dia melihat sinar yang mengkilat-kilat memutari tubuhnya. Suara-suara bising mulai memenuhi gendang telinganya dan nyaris membuatnya tak bisa mendengarkan apa pun. Hingga kemudian—Bayu terlempar jauh ke sebuah tempat yang tak semestinya ia singgahi terakhir kali.
“Aku di mana?” tanyanya dalam kebingungan dan dalam kesendirian. Melihat sekeliling, melihat dunia yang pernah ia lihat di dalam mimpi. Tetapi yang membedakan, istana itu kenapa tak terlihat? Bukankah dalam mimpinya istana itu berdiri kokoh? Apakah perjalanan ini masih jauh?