Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Aku Tidak Peduli


__ADS_3

Mata Sang Putri langsung berkaca-kaca, begitu pula dengan Bayu. Meskipun ia laki-laki, bukan berarti ia tak dapat menangis seperti perempuan. Ada kalanya mereka pun merasakan sakit yang sedemikian hebatnya sehingga saat dia tak sanggup lagi menanggung luka, lantas meneteskan air matanya.


“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk kami, Guru? Bayu telah berkorban nyawa demi bisa sampai di sini, menyusul ku,” kata Roro Putri disela isak.


Sang Guru menggeleng, lalu menatap lekat-lekat lelaki yang kini sedang menunduk dengan wajah memucat, “Ibumu sangat mengkhawatirkan mu, sekarang. Keadaannya sangat menyedihkan. Alangkah baiknya kau segera kembali menemuinya. Jika kau masih sayang padanya.”


“Guru! Katakan padanya aku baik-baik saja!” pinta Bayu menggebu-gebu.


“Hanya kau yang bisa melakukannya,” jawab Sang Guru.

__ADS_1


Bayu kebingungan, ia menatap Putri dan mengangkat dagunya, “Aku harus segera kembali, Putri. Ibuku sangat mengkhawatirkan ku sekarang. Aku sudah pergi berhari-hari. Pasti beliau sedang kebingungan mencari ku. Kita harus pergi secepatnya.”


Putri menatap Sang Guru dengan wajah yang begitu sendu. Sorot matanya melunak penuh harap.


“Kau tidak akan pernah bisa kembali ke sana, Tuan Putri. Percayalah. Kau sudah memilih untuk kembali dan tidak akan pernah bisa mengubah takdir yang sudah ditentukan.”


“Tapi Guru ...,” ucap Roro Putri memelas. “Bukankah aku telah datang di waktu yang tepat dan telah memperbaiki kerajaan ini sebelum benar-benar hancur tak lebur? Seperti waktu-waktu yang akan berjalan? Sekarang aku sudah tenang karena sudah bisa menyelesaikan masa laluku seperti seharusnya. Dan aku tidak akan khawatir lagi hidup di masa depan karena Ayahanda Prabu dan Ibunda Ratu akan hidup bahagia selamanya.”


“Kami saling mencintai ...,” sahut Bayu kemudian. Hanya itu yang ada di pikiran Bayu. Satu tujuannya datang ke sini, yakni hanya menjemput kekasihnya agar mau kembali dengannya. “Tolong lakukan sesuatu,” sambungnya lagi.

__ADS_1


Guru tetap menggelengkan kepalanya yang diikat dengan kain berwarna putih. “Sudahlah, tugasku hanya menyampaikan. Terserah apa tanggapan kalian dan aku maaf, aku tidak bisa membantu. Silakan selesaikan masalah kalian sendiri,” ucapnya yang tak mau lagi dibantah.


Keduanya berjalan mundur dan menunduk tatkala sang Guru pergi dari tempat itu dalam satu kedipan mata. Keduanya saling tergugu. Merenungi kemalangan nasib kisah cinta mereka yang tak bisa lagi diteruskan.


“Aku tidak tahu harus berbuat apa ...,” kata Roro Putri mendekat, lalu menempelkan kepalanya di dada lelakinya.


“Apalagi aku,” balas Bayu dengan suara lirih. Wajahnya pucat seperti tak ada lagi gairah hidup. Padahal beberapa waktu lalu semua masih terlihat baik-baik saja. Mereka begitu bahagia memutari perkampungan warga, mendatangi pasar dan mengunjungi tempat-tempat yang indah dengan menaiki kuda. Namun hanya dalam sekejap, dunia mengubahnya menjadi debu yang berhamburan.


Bayu merenggangkan pelukan, lalu memegang kedua pundak Roro Putri dan berusaha menatap matanya dengan kesungguhan. “Aku akan pergi dari sini sekarang juga. Ikutlah kau bersamaku, apa pun yang terjadi,” kata Bayu memaksa keadaan.

__ADS_1


“Tapi Bayu, itu tidak mungkin. Apakah kau tidak bisa mendengarkan apa kata guru tadi?”


“Iya, aku dengar. Aku tidak peduli!” tukas Bayu meninggi satu oktaf.


__ADS_2