
Sama halnya dengan Bayu. Kampleng pun tercengang saat melihat perempuan itu. Perempuan yang pernah dia lihat lima tahun lalu. Perempuan yang pernah Bayu perkenalkan saat pertama kali dia tampak di rumahnya.
"Kupikir aku yang salah lihat, ternyata tidak, Pleng," Bayu menanggapi temannya saat ia mengatakan bahwa dia mengenali 'dia' yang berada di atas sana.
"Tidak, aku memang mengenalnya. Apa selama ini dia memang kabur darimu?"
"Ah, mana mungkin. Aku tak kurang memberikannya cinta," Bayu menjawab.
"Tapi kau tidak bisa memberikannya uang waktu itu."
Benar sekali. Bayu tersenyum mengingat betapa miskinnya dia waktu itu. Demikian pulalah yang membuatnya menyasar di gunung.
"Tapi tidak juga. Putri bukan perempuan mata duitan." Selepas bicara demikian, Bayu berdecak. Bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Aku harus apa menurutmu?" Bayu meminta pendapat.
"Kalau kamu merasa dia milikmu, ambillah!"
"Jangan gila kamu, Pleng!" Bayu terheran mendapatkan saran temannya itu, "iya, kalau dia masih mengenalku. Kalau tidak? Di mana aku taruh mukaku?"
"Halah, taruh saja di pantat. Pakai urat malu segala. Biasanya juga malu-maluin!" Kampleng mengomel.
Mendapatkan dukungan sekuat itu membuat Bayu akhirnya nekat. Kedua bola mata Kampleng membulat penuh pada saat melihat temannya itu dengan gagah dan percaya dirinya menaiki panggung dan menarik Putri untuk turun.
"Haduh, piye iki?" Wajah Kampleng berubah pias. Bayu benar-benar telah merusak acara.
Huh, salahnya sendiri memberi saran seperti itu. Giliran orangnya sudah naik malah dirinya sendiri yang ketar-ketir. Sudah tahu Bayu diam-diam orangnya nekatan. Tapi masih saja ceplas-ceplos seperti beo.
"Plis jangan seperti ini, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik," ucap Bayu kepada perempuan itu yang takut dan kebingungan saat pria ini menghentikannya.
"Apaan, sih?" perempuan itu menjawab. Menatap tak habis pikir pria gila yang datang tiba-tiba dan mengatakan hal seperti ini padanya.
"Maaf Mas, bisa Anda turun dulu? Selesaikan masalah kalian nanti kalau sudah selesai," ujar seorang pembawa acara.
"Maaf semuanya, ini masalah rumah tangga," kata Bayu kepada semua orang yang menonton pertunjukan drama mereka.
"Huuuuuuu!" hampir semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
"Tolong selesaikan di bawah saja, Mas, Mba. Jangan di sini," kata MC lagi.
__ADS_1
"Ayo Sayang, kita turun..." ucap Bayu menyentuh lengan perempuan itu. Bersikap seolah-olah dia adalah kekasih hatinya. Benar-benar pria yang manipulatif!
"Kamu gila, ya!" tudingnya dengan raut wajah yang teramat geli.
"Aku gila karena kamu...." balas Bayu demikian adanya. Dia memang benar-benar sudah tergerus akal sehatnya gara-gara mencintai kekasih dunia lainnya. Kekasih yang mirip sekali dengan perempuan ini.
"Apaan, sih?!" Wanita itu mendelik hingga bola matanya hampir keluar. Tidak terima dia diperlakukan seperti ini oleh pria yang tak dia kenal. Ini sangat-sangat memalukan!
Demi keberlangsungan acara, akhirnya seorang MC menggeret dua orang itu untuk turun panggung. Mereka disoraki oleh banyak orang karena telah berdrama di atas sana.
Dan dengan tidak tahu diri, Bayu menarik perempuannya menjauh dari sana. Tak peduli berkali-kali pun wanita yang dia anggap Putri itu memberontak.
"Lepas, ih, lepas!" dia terus berusaha melepaskan diri, "nggak usah pegang-pegang, dasar orang gila!"
"Aku akan melepaskanmu asal kamu janji satu hal," Bayu menanggapi.
"Apa, ih? Dasar orang tidak waras!"
"Kamu tidak kabur sebelum menjawab semua pertanyaanku."
"Oke!" jawab dia.
"Iya! Saya janji. Punya telinga tidak, sih?"
Bayu terkekeh. Putri yang dia kenal tidak galak seperti ini. Putri yang dia kenal adalah sosok yang lemah lembut, bahasanya halus, suaranya pun begitu syahdu saat di dengar.
"Ayo lepas! Aku sudah janji tadi," perempuan itu menyadarkan Bayu dari sejenak lamunannya.
Melihatnya yang cukup meyakinkan membuat Bayu bersedia mengendurkan cekalan tangannya. Namun hal tak terduga terjadi karena dia malah menggunakan kesempatan ini untuk kabur darinya.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Bayu tidak mau kehilangan perempuan itu lagi. Bayu tidak mau mereka berpisah begitu saja tanpa ada pertalian di antara mereka. Bayu harus bisa mendapatkannya. Bayu harus bisa membuat perempuan itu mencintainya. Tidak peduli dia Putri yang pernah dia cintai atau bukan.
Untuk itu, Bayu mengejarnya. Memerangkap tubuhnya dengan posisi memeluknya dari belakang.
"Jangan tinggalkan aku lagi..." ucap Bayu terdengar sendu. Dia tetap menganggap sosok ini adalah kekasihnya yang hilang.
"Lepasin! Lepasin orang gila! Kamu bikin aku takut!"
Bayu tetap berada di posisinya. Membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati sampai dia lelah dengan sendirinya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli kamu mengenalku atau tidak. Tapi biarkan aku seperti ini sebentar. Aku merindukan orang yang benar-benar mirip denganmu...," ujar Bayu saat wanita ini berangsur-angsur tenang.
Kini perempuan itu membalikkan badan, lalu menatapnya. Bayu pun demikian. Pandangan mereka bertemu.
"Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa kamu tiba-tiba naik panggung dan ngaku-ngaku kenal aku?" tanyanya tak habis pikir. "Kamu mengacaukan acaraku hari ini. Hhhh!" perempuan ini geregetan sehingga hampir meremas wajah Bayu dengan jari-jarinya yang berkuku panjang. Cantik dan terawat.
"Ceritanya sangat panjang," jawab Bayu dengan mata berkaca-kaca. Tidak percaya, bahwa dia bisa melihat sosok seperti ini lagi. Di alam dunia yang nyata.
"Maksudnya?" dia semakin tidak mengerti.
Bayu mengeluarkan kartu namanya, "Ini kartu namaku. Hubungi nomor ini kalau kamu ingin tahu semuanya."
"Kamu modus, ya!" tudingnya. "Biasanya laki-laki kan, suka gitu."
Bayu menggeleng. "Aku berani bersumpah. Aku bukan sedang modus apalagi mengada-ada. Aku pernah bertemu dengan seseorang yang begitu mirip dengan wajahmu, tubuhmu, kulitmu, semuanya tanpa ada yang membedakan. Mungkin hanya sikapnya saja."
"Memangnya kenapa dengan sikapku?" tanyanya segera, "wajar dong, kalau aku galak. Kita tidak kenal, tapi kamu langsung pegang-pegang, sudah gitu main peluk juga lagi. Siapa yang tidak kesal!" ujarnya bersungut-sungut.
"Ya, ya. Aku paham. Kupikir kamu orang yang sama."
"Dasar cowok gila!"
Bayu terkekeh dan melambaikan tangannya, "Sampai ketemu lagi."
"Iya kalau tidak lupa."
"Kejadian memalukan ini tidak akan membuatmu lupa. Aku pastikan kau akan menemuiku."
"Hei laki-laki gila! Percaya dirimu kelewatan!" katanya sebelum melenggang pergi lebih dulu. Anehnya dia tetap membawa kartu nama itu. Ya, memang aneh, bukan?
Bayu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Baru ketemu saja cewek ini sudah bikin dia gemas. Dia benar-benar tak sabar ingin segera berlanjut ke pertemuan berikutnya. Lalu membawanya ke hadapan Ibu. Ingin tahu bagaimana reaksi wanita tua itu nanti.
"Bayu!" teriak Kampleng yang berlarian sampai ngos-ngosan demi menyusulnya ke sana. "Gimana?"
"Sukses, dong! Yihiiii!" Sang duda keren itu berteriak gembira. Dia memeluk sahabatnya dan melompat-lompat di sana. Sudah mirip seperti orang gila betulan. "Makasih sudah membawaku ke sini, Bro! Huuuu! Aku bisa kawin lagi!"
Coba kalau tadi Bayu menolak di ajak kemari. Pasti dia tidak akan bertemu dengan gadis pujaannya.
Oh, bahagianya!
__ADS_1