
"Selamat datang di kediaman kami, Bu," ujar Ayah Dewi yang bernama Fajar. Pria yang berusia hampir lima puluh tahun mengatupkan tangannya pada Julia.
"Terima kasih banyak atas penerimaannya, Pak. Maaf kami merepotkan Bapak dan Dewi sekeluarga," balas wanita yang berstatus Ibu Bayu tersebut. Tak lupa, dia juga memperkenalkan sang anak, "Ini anak saya satu-satunya. Namanya Bayu Permana."
Bergantian. Kali ini kedua laki-laki itu yang berjabat tangan. Seperti bertemu dengan Presiden, Bayu terlihat agak gugup.
"Ini yang bikin anak saya ngebet menikah?" seloroh Fajar membuat semua orang di sana tertawa. "Anak saya masih kuliah," sambungnya masih bercanda. Ternyata laki-laki ini orangnya cukup asik. Bayu berharap dia bisa dengan mudah akrab dengannya sebagaimana menantu dan mertua.
"Saya janji nggak akan menghalangi cita-cita anak Bapak," balas Bayu serupa orang yang tengah berjanji. "Anak Bapak bisa tetap kuliah sampai selesai."
"Ya sudahlah, saya pikir tidak apa-apa kalau kamu mau menikahi anak saya. Beban saya jadi berkurang karena setelah ini kamu yang akan membiayainya."
Lagi, semua tertawa mendengar selorohan Pak Fajar.
"Ayah..." sahut Dewi tak suka dengan candaan ayahnya yang seperti tengah menjualnya pada laki-laki di depannya itu.
__ADS_1
Fajar hanya mengusap kepala putri kesayangannya.
"Ayo semuanya masuk-masuk! Kita bicara di dalam, ya. Duduk sambil ngopi-ngopi kan, enak."
"Terima kasih, Pak Fajar..." sahut mereka bersamaan.
***
Tak terasa, beberapa puluh menit telah berlalu. Lamaran sudah selesai. Pak Fajar menerima Bayu dengan baik meskipun pria itu belum terlalu mengenal.
Sebenarnya, itu hanyalah sebuah alasan saja karena Fajar ingin melihat langsung bagaimana dan seperti apa rumah, lingkungan serta usaha pemuda ini.
Wajar sebagai orang tua, dia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Fajar tidak mau anak gadisnya yang masih sangat polos itu tertipu oleh rayuan maut para buaya. Jangan sampai, anak gadisnya malah justru diperalat dan dipelorot uangnya seperti yang sudah-sudah oleh mantan pacarnya. Gadis kecilnya itu bukan mesin ATM yang bisa diperalat sesuka hati mereka.
Namun, bukan berarti Fajar tidak suka atau tidak menyetujui hubungan dekat sang anak dengan Bayu. Melihat niat dan kesungguh-sungguhannya, Fajar sudah mengerti bahwa anak ini tak sedang bermain-main. Terlebih, dia juga membawa ibunya. Terlihat jelas bahwa dia sangat mencintai wanita yang telah melahirkannya itu. Julia bercerita bahwa Bayu selalu melibatkannya dalam banyak hal.
__ADS_1
Ya, Fajar hanya ingin meyakinkannya sekali lagi dirinya dengan pergi ke sana agar hatinya semakin mantap melepas sang putri satu-satunya.
Kini, pembicaraan sudah ngalor-ngidul tidak jelas. Pak RT maupun teman-temannya malah membahas masalah pedesaan yang tidak Bayu pahami sehingga dia memilih keluar untuk menyendiri. Asap rokok menemani kesepiannya. Dia melakukan itu sampai kepenatan dalam dirinya ikut terbang bersama asap yang menguap.
Bayu menoleh dan menghentikan aktivitasnya pada saat namanya dipanggil. Dewi, gadis cantik itu mendekatinya dengan membawa kotak kuno yang sangat Bayu kenali. Sebab dia pernah memilikinya di rumah. Namun hilang entah ke mana.
"Aku pernah punya ini," kata Bayu.
"Oh ya? Ayah juga punya," balas Dewi.
"Dari mana Ayahmu dapat benda ini, Wi?"
"Kayanya sudah dari dulu deh, Yu. Ini kan peninggalan nenek moyang kami turun-temurun. Tapi Ayah bilang, seorang pemuda yang sama-sama punya benda ini kelak akan jadi jodohku."
"Ya, kamu adalah jodohku," kata Bayu kemudian memeluk wanita di depannya.
__ADS_1