Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Memangnya Kau Bisa Apa?


__ADS_3

“Mau ke mana?” tanya Bayu ketika melihat Putri keluar membawa wadah baskom berukuran sedang.


“Aku disuruh sama Ibu buat petik cabai,” jawab Putri.


Khawatir Putri tak mengetahui, Bayu kembali berujar, “Kau tahu tempatnya?”


Putri meringis. “Ibu memang menunjukkan tempatnya, tapi … sebenarnya aku masih bingung.”


Sangat maklum bila Putri masih bingung, dia orang baru di sini, pikir Bayu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung beranjak dari tempat duduk tanpa peduli teman-temannya. “Tunggu sebentar, aku ikut!”


“Eh, yang benar saja kau, Yu. Kita masih di sini,” sungut Kampleng kepada Bayu yang sedang terburu-buru memakai sandalnya.


“Bodo amat!” Bayu tidak peduli sama sekali. Dia memang tercipta sedikit labil.


“Ini adalah definisi teman yang ingin ditenggelamkan,” sahut Koreng.


“Hiha, hihu Hahu!” sungut Halim ikut-ikutan. (Gila, itu bayu!)


“Jangan kau apa-apakan di sana ya, Yu!” seru Kampleng.


Bayu berjalan sambil bersungut-sungut kesal. “Cocotmu gak ono utekke.” (Bibirmu tidak ada otaknya.)


Keduanya berjalan menuju ke sebuah ladang yang letaknya tak jauh dari rumah. 


“Oh, ini tempatnya ….” Putri terkagum-kagum saat sampai di ladang. “Ibumu hebat sekali bisa menanam cabai sampai se-subur dan sebanyak ini. Aku suka, aku suka!” wanita itu langsung berhambur ke tengah-tengah ladang dan memetik cabainya dengan riang.


“Hahainya hanyak, hihihi …,” tirunya seperti suara Halim. Putri masih saja tergelak jika mengingat suara halim yang sengau. Entah mengapa itu terdengar sangat lucu baginya. Apa mungkin karena ia baru menjumpai orang seperti Halim dalam hidupnya? Entahlah.


“Hahaha ….” Putri menangkup mulut dengan kedua tangannya. “Aduh, aku kenapa sih, ketawa lagi, ketawa lagi.”


Putri pun tidak tahu kapan otaknya berhenti memikirkan Halim. Bayu sampai merasa tidak enak kepada sahabatnya yang sengau itu. Lantaran menyinggung; atau menganggapnya sebuah hinaan. Padahal, niatnya bukan begitu.


“Gimana caranya agar aku berhenti tertawa, hahaha ….”


“Coba kamu bayangkan yang sedih-sedih,” kata Bayu. 


Retina Putri membesar karena begitu penasaran. “Misalnya?” 


“Ya, misalnya membayangkan bila kau di tinggalkan kekasihmu, begitu.”


“ ....” Putri memilih untuk diam.


“Memangnya kau tidak pernah memiliki seorang kekasih? Pasti pernah ‘kan?”

__ADS_1


“Pernah, tapi aku yang meninggalkannya. Jadi rasanya biasa-biasa saja.”


“Itu berarti kau tidak benar-benar jatuh cinta!” 


“Aku tidak tahu, jatuh cinta yang benar-benar itu seperti apa.”


“Bodoh!” ucap Bayu membuat Putri agak marah.


“Kau mengataiku bodoh?” matanya menajam.


“Ya, kau itu bodoh!”


“Ah, kau menyebalkan sekali,” sungut Putri memberengut. 


“Masa jatuh cinta saja tidak tahu, perempuan biasanya lebih perasa daripada laki-laki.” Bayu mencibir. “Lagi pula umurmu juga sudah ribuan tahun. Pasti kau lebih berpengalaman dariku.”


Putri melotot. “Pengalaman apa? Jangan asal bicara! Di mana aku berada sebelumnya, Ayahandaku melarangku untuk berpacaran. Mereka sangat menjagaku agar aku tak sembarangan berkenalan dengan laki-laki. Karena seorang Putri Raja hanya akan dijodohkan dengan Pangeran juga nantinya. Dan aku harus tunduk kepada beliau, walau kadang-kadang aku pun menginginkannya.”


“Menginginkan apa?” tanya Bayu menyelidik.


“Apa yang kau pikirkan? Maksudku, aku hanya ingin berkencan!”


“Oh, aku kira kau--”


“Dasar mesum!” Putri melirik Bayu dengan sinis membuat Bayu terkekeh.


“Memangnya aku sudah tua?”


Bayu berpura-pura melihat dari atas ke bawah walaupun sebenarnya ia sudah bisa menilai Putri tanpa harus melihatnya lagi. Sebab, lelaki itu sering melihatnya secara diam-diam. “Mmm … coba kau balik badan!” titahnya. Lalu Putri yang polos itu memutar tubuhnya. “Bagus sih.”


“Hah? Bagus apanya?” Putri mendelik. “Tatapanmu itu tatapan lelaki yang haus dan yang pasti kau terlihat menggelikan, Yu, izh!”


“Aku hanya menilaimu, bukannya kau bertanya sendiri; kau tua atau tidak?”


“Alah, bohong,” kata Putri tidak percaya.


“Aku tidak bohong, kau bagus dan tidak terlihat tua. Orang akan berpikir kau berusia dua puluh lima tahunan bila diukur dengan manusia sekarang pada umumnya.”


Penjelasan Bayu membuat Putri mengulum senyum. “Oh ya? Ah, terima kasih ....”


Dasar cewek, baru dipuji begitu saja sudah langsung melunak.


“Sekarang tinggal aku yang bertanya kepadamu, boleh kan?”

__ADS_1


Bayu menaikkan alisnya. “Boleh, satu pertanyaan satu ciuman.”


“Ish!” Putri mencebik kesal. "Hanya begitu saja kau meminta imbalan. Dasar ganjen."


“Bercanda …,” ucap Bayu.


"Bercanda saja terus." Putri memutar bola matannya malas.


“Ya sudah, kau boleh tanya apa saja. Asalkan jangan bertanya soal matematika. Aku tidak pintar soal itu.”


“Tidak pintar berarti bodoh 'kan?"


Bayu sontak mendelik. Namun Putri mengabaikannya.


"Bayu ....”


“Hmm.”


“Aku suka hmm-hmm mu itu.” Putri tersenyum menyeringai. Ternyata lelaki seperti Bayu yang sedikit slengekan dan cuek-cuek manja seperti itu seru juga. Seperti mempunyai mainan baru. Pasti hidupnya lebih berwarna. Ia tidak akan kesepian lagi walau jauh dari keluarga.


“Ya sudah, cepat, kau mau bertanya apa?”


“Baiklah,” Putri mulai meletakkan cabai yang baru saja dipetiknya ke dalam wadah. “Orang yang benar-benar jatuh cinta itu seperti apa?”


Sejenak Bayu terdiam untuk berpikir, kemudian menjawab, “orang yang benar-benar jatuh cinta itu berbeda. Mereka mempunyai rasa sayang yang sangat kepada pasangannya. Selalu rindu walaupun dekat, tak rela bila jauh, rela melakukan apa pun meski ia harus berkorban atau lebih dalamnya, sampai meregang nyawa.”


“Memangnya ada di dunia ini orang yang seperti itu?”


“Ada lah ... masa tidak ada,” jawab Bayu menampakkan raut wajah yang begitu yakin. 


“Kalau ada, tunjukkan padaku!”


“Aku,” jawab Bayu. “Aku akan melakukan apa pun demi orang yang aku cintai.”


“Mana mungkin, dengan siapa kau akan melakukannya? Pacar saja kau tidak punya. Kau ini masih kecil, memangnya kau bisa apa?”


Hah, bilang apa dia? Berani sekali mengatakan seperti itu kepada seorang pria sejati sepertiku? Rasakan ini!


Bayu langsung memerangkap tubuh Putri, membuat wanita itu terkunci di kedua tangannya. "Kata-katamu begitu meremehkanku," ucapnya dengan perasaan yang begitu tertantang. “Kau bilang aku anak kecil dan tak bisa berbuat apa-apa? Kau mau aku membuktikannya?”


Putri mengerucutkan bibir. “Aku tidak percaya!”


Dengan kesadaran penuh dan entah dorongan dari mana, Bayu mendekatkan bibirnya dan mengecupnya singkat. Namun aneh, Putri hanya bisa terdiam memaku dengan memejamkan mata. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi di depanku!” ucap Bayu penuh penekanan. Dia tidak sangat tidak suka dikatakan seperti itu, semacam meremehkan. Bayu bukan anak kecil lagi. Anggota tubuhnya sudah sepenuhnya matang. Dia adalah laki-laki balig dan dewasa. Sangat bisa sekali membuat anak.

__ADS_1


Dengan degup jantung yang sangat membuncah, Putri beralih tempat dan mencari-cari cabai yang belum dipetik, namun tidak sepertinya sudah tidak ada. Pohon cabai yang tingginya tak melebihi tubuh mereka sudah bersih, hanya tersisa cabai-cabai kecil; yang masih belum bisa di panen.


“Ki-kita pulang,” kata Putri sangat gugup dan salah tingkah.


__ADS_2