
“Tapi bagaimana dengan keadaan anakku Tabib?” sahut Ibunda Ratu Saraswati. “Adakah pengobatan yang lebih cepat? Tolong jangan buat dia menderita lebih lama, karena aku pun ikut merasakan sakit ....”
“Sabar, Ratu. Anak kita pasti kuat.” Kini giliran sang suami mendekat dan mengusap-usap punggung istrinya berupaya memberikan ketenangan.
“Prabu, Ratu, saya hanyalah seorang perantara, Tuhanlah yang menentukan kesembuhannya. Racun sudah menyebar ke seluruh tubuh. Tetapi aku sudah memberikannya ramuan. Menurut dari pengalamanku, ada seseorang yang mengalami hal serupa, tapi atas izin-Nya, racun itu bisa menghilang kurang dari dua puluh empat jam,” papar Tabib panjang lebar. “Bersabarlah Tuan Putriku, aku tahu ini menyakitkan sekali. Berdoalah!” sambungnya lagi.
Putri mengangguk, kemudian Bayu bertanya, “Kalau untuk luka tusuk ini?” sambil menunjuk bagian yang tertusuk, yakni di atas dada sebelah kiri.
“Aku tidak tahu persisnya anak muda, tetapi aku yakin itu juga tidak akan lama.”
Bahagia memang bisa melupakan rasa sakit, begitulah yang dirasakan oleh Roro Putri. Mereka telah menemukan jalannya, hanya tinggal sedikit lagi maka mereka bisa menjalani cerita cinta yang sesungguhnya.
“Kita harus secepatnya bertemu dengan Guru,” kata Putri di sela-sela kesakitannya. Namun kini dia sudah merasa lebih baik. “Aku harus memastikan hal ini,” tambahnya lagi.
__ADS_1
“Tadi aku sudah bertemu dengannya,” kata Bayu.
“Oh iya?” tanya Putri dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Iya, dia yang menolongku.”
“Beliau memang baik sekali. Apa dia juga yang membunuh Pangeran Hanung?”
Bayu menggeleng karena tidak bisa menyebutkan siapa pembunuhnya. Yang nanti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain. Menurutnya—hal ini adalah sebuah aib yang memang harus dijaga serapat mungkin. Tetapi bukan berarti Bayu tidak mau mengakui anak tersebut jika kelak mereka bertemu lagi, maka ia akan mengatakan yang sebenarnya.
“Yang jelas dia adalah orang baik yang membela kebenaran.”
“Hmm, iya baiklah. Terserah kau saja!”
__ADS_1
Bayu menjawil hidung Sang Putri, lantas berujar, “Cepat sembuh, ya. Aku merindukan kenakalanmu!”
Putri tersenyum. Seandainya dia tidak sakit begini, pasti dia sudah menciumnya.
Malam kini berlalu dengan menyisakan cerita yang sangat indah. Meskipun penuh dengan perjuangan dan luka, tetapi berakhir manis pada akhirnya. Bayu menuju keluar ruangan itu setelah Sang Putri tertidur dengan sangat nyenyak. Mungkin dia sangat kelelahan.
Bayu membasuh wajahnya di air mancur sebelum akhirnya ia menuju ke pintu utama; berniat untuk melihat sekitar. Ia sempat kaget karena suasana istana sudah mulai rapi kembali seperti semula. Bahkan seperti tak menyisakan bekas-bekas peperangan sedikit pun. Namun ia segera dapat memahami karena pasti ada campur tangan lain.
Entah kekuatan apa yang telah digunakan oleh seorang Raja Siwalingga ini. Malam ini sangat terlihat sepi sekali tanpa ada satu orang pun yang melintas. Sepertinya—semua orang memang secara sengaja dikirim rasa kantuk agar tak melihat perubahan secara tak kasat mata. Entah karena apa beliau melakukan ini secara diam-diam, dan yang pasti, hanya Prabu yang dapat mengetahui alasannya. Namun anehnya, hanya dia sendiri yang tidak terserang rasa kantuk itu.
Menunggu datangnya rasa kantuk, Bayu duduk di atas batu kecil. Ia memijat-mijat sendiri kondisi tubuhnya yang sakit agar terasa reda. Demi orang lain, ia telah melupakan dirinya sendiri padahal ia pun butuh sebuah pertolongan. Tetapi kemudian ia sedikit terkejut pada saat seseorang menghampiri. Langkahnya yang semula tak terdengar membuatnya mengira bahwa dia adalah sosok makhluk halus. Ternyata bukan. Ini pasti gara-gara ia terus memikirkan makhluk halus, jadi dia terus-terusan ke pikiran!
“Selamat malam, Prabu,” sapa Bayu sedikit menundukkan kepalanya. Tinggal di sini sehari sedikitnya membuat Bayu tahu soal anggah-ungguh atau perihal kesopanan menghadapi seorang raja atau orang yang lebih tua—seperti yang biasa mereka lakukan.
__ADS_1
“Hanya kau satu-satunya makhluk hidup yang tidak mengantuk malam ini,” katanya kemudian sekaligus merasa takjub. “Istirahatlah! Besok temui aku di pendopo belakang istana ini.”
“Baik Prabu,” jawab Bayu tanpa bantahan.