
Hanya beberapa orang yang masih bertahan di sana. Dan ke semuanya adalah orang-orang yang benar-benar menyayangi Bayu, bukan hanya sekadar kenal saja. Seperti ibunya, Kampleng dan teman-teman setianya, Liana, tetangga sebelah, kemudian dua orang yang mendoakannya tadi, Habib Ilyas dan Ilham.
“Alhamdulillah kau masih hidup, Nak...” isak Julia kepada anaknya sendiri yang masih dalam suasana linglung dan kebingungan. Terlebih dengan kain kafan yang sudah membungkus tubuhnya.
Bayu menatap ke sekeliling. Dia tengah mengingat berada di mana dirinya sebelumnya. Bukankah tadi aku berada di dalam hutan? Bukankah tadi dunia masih malam? Kenapa langit di luar sekarang terang benderang? Begitu banyak pertanyaan yang bercokol dalam benaknya sekarang ini. Dan ini, kenapa kain putih ini melekat di tubuhnya? Apa dia dianggap sudah mati.
“Ibu pikir aku akan kehilanganmu,” kata Julia lagi menciumi wajah putranya yang masih pucat pasi. Pun kurus kering karena di dunia ini, ia sudah tidur berbulan-bulan lamanya.
Tunggu-tunggu! Berbulan-bulan?
Ya, Bayu mengalami semacam keadaan koma atau tidur selama itu. Tepatnya semenjak malam jum’at Kliwon ketika Bayu memutuskan untuk pergi ke hutan.
Ah, nyatakah semua perjalanan yang di arungi nya selama beberapa hari ini? Bertemu dengan orang-orang di desa zaman dahulu, bertemu dengan Nawang, bertemu dengan Nyai di kerajaan, beromansa dengannya, kemunculan anak kecil itu dan terakhir ikut mengalami peperangan.
Hanya Bayu yang dapat merasakannya.
“Coba kau bicara, Nak? Ini Ibu ... kau masih ingat Ibu, kan? Ini Ibu, Nak....”
Bayu menatap ibunya yang terlihat lebih kurus dari yang terakhir kali dia lihat. Matanya mengembun melihat sosok wanita ini yang sudah berkorban banyak hal untuk dirinya, anak yang tak berguna.
“Maafkan Bayu, Bu ...” tangis Bayu pecah yang akhirnya membuat Julia semakin tergugu. “Maafkan Bayu ....”
“Kata maaf ku akan selalu lebih banyak dari kesalahan yang kau buat. Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah memilih kembali ke sini.”
__ADS_1
“Aku menyayangimu.” Bayu memeluk ibunya erat. Keduanya berpeluk-pelukan dan bertangis-tangisan selama beberapa lama.
Sementara itu, Habib Ilham dan Ilyas berpamitan. Merekalah yang memimpin doa tadi karena yakin, Bayu tak benar-benar mati seperti yang digemparkan oleh orang-orang sekitar. Dia masih hidup, hanya nyawanya yang tersesat. Nyatanya memang benar demikian. Kampleng dan teman-temannya lah yang mendatangkannya kemari, setelah mengetahui kehebatannya dari narasumber di siaran radio kota ini. Sebab mereka ingin teman mereka bangun dari tidur panjangnya agar mereka bisa kembali berkumpul bersama.
Teman-temannya pun datang menghampiri. Mereka sangat bersyukur Bayu masih bisa diselamatkan. Mereka saling memeluk dan memberikannya semangat agar ia bisa sembuh. Tidak hanya itu, mereka juga merindukan Bayu kembali bekerja di Bengkel lagi.
Hari berikutnya, Bayu pun bangun. Ia diperlihatkan liang lahat yang dipersiapkan untuk dirinya karena napasnya sempat terhenti dan dinyatakan meninggal oleh orang-orang setempat. Tapi syukurnya, Ilyas dan Ilham di datangkan sehingga Bayu pun bisa diselamatkan nyawanya.
Orang-orang yang melihatnya pun terheran-heran. Orang mati kok, bisa hidup lagi katanya. Sehingga tak ada yang berani mendekat ataupun bertanya-tanya lebih. Dia kira anak ini jelmaan setan, ya?
“Apa yang kau rasakan saat tidur, Yu?” tanya Julia merangkul Sang Anak. Ya, betapa bersyukurnya wanita itu. Doa yang selama ini dipanjatkannya siang malam akhirnya terkabul. Dia bisa berkumpul lagi dengan anak semata wayangnya.
“Tidak ada, Bu,” balas Bayu tak mau berterus-terang. Ia tak mau membuat ibunya semakin bingung dengan cerita anehnya yang di alaminya sendirian. Cukuplah beliau tahu, Bayu pernah tidur selama berbulan-bulan lamanya karena koma. Sudah itu saja.
Bayu terdiam. Padahal dia hanya pergi selama seminggu kurang-lebihnya. Tapi saat bangun, Ibunya mengatakan bahwa dia tidur selama berbulan-bulan. Aneh sekali. Bayu sama sekali tidak paham kenapa bisa begini ceritanya.
“Ceritakan lagi apa yang terjadi selama Bayu tidur,” pinta Bayu kepada ibunya.
“Ya, Ibu pikir kamu memang lagi patah hati karena kamu bilang putri pulang. Jadi ngambek di kamar terus. Eh, pas Ibu bangunkan kamu malah tidak bangun-bangun seperti orang mati. Ibu panik. Ibu sampai geger di luar rumah teriak minta tolong sama tetangga. Tetangga semua pun pada heran, tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak jatuh, tidak sakit, tiba-tiba kau pingsan lama sekali,” papar Julia.
“Ibu langsung membawaku ke mana saja setelah itu?”
Julia menghela napasnya yang hampir putus. “Sesak dada Ibu kalau mengingatnya, Yu. Ibu membawamu ke dokter, tapi dokter pun bingung. Tidak ada tanda sakit sama sekali dalam tubuhmu. Keluarga di Padang juga membantumu untuk mengobatinya di kota lain. Tapi tetap saja nihil. Di panggilkan ustaz mana pun juga tak ada hasil. Sampai akhirnya Ibu pasrah...” Julia menjeda kalimatnya. “Pagi hari kemarin, napasmu hilang. Kami panik. Untungnya, kami tidak buru-buru menguburkanmu. Kalau tidak... entahlah.”
__ADS_1
“Terus?” Bayu ingin mendengarkan sampai selesai.
“Beruntung teman-temanmu membawa Habib Ilyas dan Ilham. Mereka anak seorang Habib yang mempunyai karomah. Merekalah yang menolongmu! Ibu sangat bersyukur.”
“Jangan khawatir lagi, Bu. Aku sudah sehat sekarang. Aku tidak akan merasa kehilangan siapa pun. Siapa Putri. Dia sudah mati. Dia hanya sedang tersesat kemarin.”
“Ya, lupakan dia. Masih banyak cewek cantik, kok di sini. Aku yakin kau akan mempunyai istri yang baik dan secantik dia suatu saat nanti. Asal ....”
“Asal apa?” sela Bayu.
“Kau kaya dulu,” jawab Julia terkekeh.
“Ya, tentu saja. Aku akan bekerja lebih keras mulai besok, Bu. Dan mulai sekarang, Ibu juga tidak perlu bekerja lagi. Ibu hanya tinggal duduk manis di rumah. Aku akan membayar semua lelah Ibu selama ini.”
“Termasuk semua hutang-hutang Ibu?”
“Oke, siap. Siapa takut!”
Senyum Julia merekah. Keduanya pulang jalan kaki. Motor Bayu sudah di jual untuk biaya sehari-hari. Jadilah mereka lebih miskin daripada sebelumnya.
“Orang tidak punya harus priatin,” kata Julia.
“Iyalah....” Bayu menanggapi.
__ADS_1