Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Masuk Ke Dunia Ratusan Tahun Silam


__ADS_3

“Di mana Ki Adiwerna?” gumamnya kepada diri sendiri. Bayu yang awalnya tergolek di rerumputan itu kini mengubah posisinya menjadi duduk.


Bukannya Ki Adiwerna beberapa saat lalu telah menegaskan; bahwa beliau hanya akan mengantarkannya sampai sini, di gerbang gaib.


Bayu berdiri. Dia mencari-cari jalan dengan instingnya. Dia melihat sekeliling. Lantas di sebelah kiri—ia menemukan jalan setapak yang tampaknya sering dilalui oleh orang-orang. Jalan setapak itu kecil dan belum beraspal. Kira-kira lebarnya hanya seukuran becak kayuh.


Bayu terus saja berjalan menyusuri jalan setapak itu. Bayak pepohonan yang dilewatinya. Tak lupa juga dia memberinya tanda silang di pohon itu, untuk memudahkannya jika ia kembali ke gerbang gaib; yakni pohon enau itu tadi.


Hutan seakan tak kunjung habis. Satu jam perjalanan. Bayu belum juga menemukan rumah penduduk. Namun selagi ia belum merasa lelah, dia terus berjalan untuk segera menemukan makhluk yang bisa ia tanyai ke mana ia harus berjalan. Bayu berkhayal, seandainya Putri mempunyai ponsel—pasti dan sudah meneleponnya dan mereka pasti secepatnya bisa bertemu. Tunggu, ponsel? Bayu bertanya-tanya.


Sejenak ia berhenti dan membukan tasnya yang berisi beberapa pakaian. Dia mengambil ponsel dan powerbank di dalamnya, namun ternyata kedua baterai itu sama-sama habis. Lalu bagaimana dengan dirinya? Mungkin dalam perjalanan ini masih jauh. Di mana dia akan mengecas? Kecewa memang, tetapi tidak ada pilihan lain. Bayu memasukkan kembali baterai itu dan melanjutkan perjalanan.


Beberapa jam kemudian, Bayu tersenyum. Dia girang, bahagia karena sudah bisa melihat atap-atap rumah penduduk. Atap-atap yang terbuat dari jerami, juga dinding-dinding yang terbuat dari kayu-kayu nan tipis. Semakin di dekati, suara hiruk pikuk keadaan desa pun juga mulai ia dengar, meskipun ia tahu, jaraknya masih lumayan jauh, tetapi begitu cara telinganya bekerja. Bau-bau rempah yang dimasak menguar ke hidungnya. Berbagai macam sehingga membuat perutnya merasa tergelitik.

__ADS_1


Hingga pada satu titik, ia berhenti pada saat berpapasan dengan seorang anak kecil yang berjalan sendirian. Anak itu melihatnya dengan tatapan aneh, melihatnya dari atas sampai ke bawah, lama kelamaan bocah berkebaya kuno dan agak kusam itu berlari ketakutan sambil meneriaki ‘mboknya’.


“Mbok! Mbok! Ada orang aneh, Mbok. Takut,” katanya yang begitu jelas terdengar.


Lantas Bayu tetap fokus ke depan sampai akhirnya bocah perempuan itu keluar bersama sepasang induknya. Mereka juga memakai pakaian aneh. Pakaian adat Jawa jaman dulu. Tetapi apakah benar, kini Bayu berada di tahun delapan ratusan seperti yang pernah Putri jelaskan kepadanya?


Bayu menepuk pipinya sendiri yang terasa pedih, apakah dia benar-benar masih hidup? Terkadang, Bayu berpikir kenapa seorang manusia seperti dirinya bisa melewat berbagai macam petualangan menakjubkan seperti ini. Dia bukanlah makhluk spesial. Dia hanyalah seorang mekanik bengkel yang miskin dan akhlaknya pun tak terlalu terpuji. Namun ia menikmati perjalanan ini. Ia menikmati keajaiban tubuhnya yang terasa lebih sehat dan bugar berkali-kali lipat sebelumnya. Ah, mengingat sehat dan bugar, ia merindukan sosok Putri, ingin cepat-cepat sampai di sana, memuaskannya. Bukankah setiap gadis itu menyukai lelaki yang mempunyai stamina kuat? Pikiran yang sangat konyol.


Bayu mendekati ketiga orang itu yang sedang saling berdekatan. Bahasa tubuhnya bersiap waspada. Sikap umum seseorang bila bertemu dengan orang asing.


“Perkenalkan, nama saya Bayu, Pak. Saya dari Desa Bangkalang, Jawa tengah.”


Tampaknya Bapak itu tak mengenali desa yang Bayu sebutkan, sebab dia menggeleng. Namun beberapa saat kemudian, dia bertanya lagi, “Tujuannya mau ke mana?”

__ADS_1


“Saya mau ke kerajaan Siwalingga.


“Wah, masih jauh itu,” jawabnya medok khas orang Jawa pada umumnya.


“Bapak tahu tempatnya?” tanya Bayu lagi.


“Saya tidak pernah ke sana, tetapi saya tahu tempatnya memang jauh dari sini. Kalau berjalan kaki, bisa tiga hari tiga malam sampainya. Seharusnya sih, Kang Mas itu memakai kuda biar perjalanannya lebih singkat. Ya, sekitar satu harian lah.”


“Apakah tidak ada kendaraan lain, misalnya motor, biar saya sewa.”


“Motor? Apa itu motor?” si laki-laki itu kebingungan dan saling menatap penuh tanya kepada istrinya. Ah, iya. Bayu lupa. Jaman dulu mana ada kendaraan bermotor, mobil atau hal lain sebagainya.


“Maaf, itu kendaraan masa depan. Pengganti kuda. Mungkin di jaman ini, belum ada.”

__ADS_1


“Masa depan?” tanya lelaki itu bertambah bingung.


__ADS_2