Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Dicurigai?


__ADS_3

“Eh, Mbak mantan kesayangan…,” ucap Kampleng. 


“Mau bungkus, Li?” tanya Bayu.


“Iya, mau bungkus,” jawab Liana lantas memesan beberapa makanan yang mereka tahu jumlahnya melebihi jumlah anggota keluarganya. Banyak sekali. Seperti tuan rumah yang sedang kedatangan banyak tamu.


“Bungkus makanannya banyak sekali,” kata Kampleng lagi. “Ada banyak tamu di rumah?”


“Buat pekerja, Kang. Soalnya lagi pasang plafon,” jawab Liana.


“Oh …,” ucap Kampleng dengan bibir yang membulat.


“Kemarin akikahan, sekarang bangunan. Sepertinya kau sedang sangat sibuk,” sahut Bayu.


“Iya, sibuk banget,” jawab Liana. Kemudian bergantian wanita itu yang bertanya. “Kemarin sop kambingnya sudah dimakan?”


“Sudah … enak. Makasih, ya. Kau memang pandai memasak,” puji Bayu dengan tulus. Memang sop kambing kemarin sangatlah enak dan terasa sangat pas di lidahnya. Bukan hal yang susah kalau hanya memasak kambing bagi mereka. Liana dan Mama-nya memang terkenal sangat pandai memasak. Lantaran Mama Liana yang sering memasak di tempat-tempat hajatan kampung sini, ditugaskan untuk menjadi kepala di dapur.


“Ehm!” deheman keras dari Kampleng dan juga Halim lalu keduanya menyingkir jauh demi memberi ruang kepada mereka berdua.


Bayu melirik tajam kepada dua temannya. “Kenapa pada menyingkir semua, sih.”


“Hihak aha-aha, hahut!” kata Halim mempersilahkan lalu bergumam bersama Kampleng dan lain-lain. (Tidak apa-apa, lanjut)


“Bayu …,” lirih Liana menyebut namanya lagi dengan pandangan menunduk. Sedang Bayu hanya melempar senyum dan sekilas menatapnya. Sibuk menggigit lele sebesar jari-jari tangannya. Ada jeda beberapa saat mereka terdiam tanpa sepatah kata. Sepertinya wanita itu begitu canggung hanya sekedar untuk mengatakan sesuatu kepada Bayu. 


“Yang tinggal bersamamu itu siapa? A-apa itu pacarmu?” tanya Liana dengan sedikit tergagap.

__ADS_1


Bayu berhenti mengunyah. Pertanyaan yang singkat, tetapi sejujurnya itu adalah pertanyaan yang membingungkan. Selain tak ada ikatan hubungan khusus dengan Putri saat ini, Liana juga bukan siapa-siapanya dan mungkin wanita itu tak perlu tahu.


“Belum.” jawaban Bayu yang terdengar ambigu. 


“Belum bisa berarti mungkin,” kata Liana lagi. “Maaf, aku terlalu lancang menanyakan hal itu,” sesal Liana lantas segera memohon diri. “Eh, ya sudah. Aku pulang dulu, pesananku sudah dibungkuskan.” wanita itu lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan melenggang keluar.


Selepas Liana pergi, Bayu langsung terdiam memaku. Apa hubungannya dengan Putri? Tak ada status yang jelas. Tetapi mereka— (?)


Bayu benar-benar dilema memikirkan tentang bagaimana kelanjutan hubungannya ke depan. Hubungan yang menurutnya masih samar meraba-raba, pun belum jelas apa-apanya. Yang jelas, ini sangat aneh dan membingungkan. Dan Bayu benar-benar malas sekali memikirkannya.


“Aku pikir, selama ini kau cukup dekat dengannya,” kata Kampleng yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya lagi. 


“Dulu waktu sekolah dan karena, ya … kita tetanggaan saja,” jawab Bayu asal. Lagi pula ia masih bingung harus menjawab apa.


“Tapi aku lihat dia menyukaimu.”


“Kau ini seperti macam orang yang sedang kebingungan!” kata Kampleng lagi.


“Ya, aku memang sedang bingung. Kenapa aku jadi bingung? Padahal yang aku bingungkan sebenarnya tidaklah terlalu membuatku bingung. Tapi aku pun bingung kenapa aku jadi bingung.”


“Astaga nyet, nyet …,” ucap kampleng sambil menggelengkan kepalanya. Sedetik kemudian dia mengetuk keras benda persegi empat yang biasa dipakainya untuk memantik api. 


Ya, bagaimana tidak bingung. Dulu di saat Bayu mempunyai perasaan lebih kepada wanita itu, Liana lebih memilih berhubungan dengan Kampleng. Sekarang, saat ia sudah memiliki hati yang lain, ia malah datang seolah menawarkan diri untuk masuk ke dalamnya. Lantas ia harus seperti apa dan bagaimana?


Bayu pulang dalam keadaan rumah yang sudah menggelap. Lebih sore daripada biasanya karena hari ini banyak pekerjaan susulan. Ramai atau tidaknya keadaan bengkel memang tidak bisa diprediksikan. Sesampainya di rumah, Bayu langsung menuju ke kamar mandi, melewati kedua perempuan yang sedang sibuk mengemas rempeyek itu ke dalam wadah plastik untuk kemudian; dititipkan ke warung-warung keesokan harinya.


“Pagi datang masih baik, sekarang pulang sudah kusut. Bajunya banyak kotoran oli pula,” kata Ibu mengomentari. 

__ADS_1


“Iya, banyak sekali pekerjaan,” jawab Bayu singkat lalu menutup pintu dengan segera. Sesampainya di kamar mandi, ia masih saja terpikirkan sesuatu. Bagaimana jika ia menikahi Putri saja? Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, begitu nasihat-nasihat Ayahnya yang begitu terpatri di pikirannya. Menikah, di usia dua puluh tahun? Bayu pikir itu tidak masalah. Bayu yakin ia bisa menjalani pahitnya berumah tangga meskipun pada awalnya mungkin terpaksa.


Daripada lelaki tanggung tak berwibawa namun nakal ini semakin suram saja perilakunya. Bayu telah merusak masa depan Putri dan membuat wanita itu kehilangan sesuatu yang teramat berharga dalam hidupnya. Wanita yang ditolong, ternyata malah menjadi mangsanya sendiri. “Maafkan aku, Put …,” gumamnya dalam hati. Namun maaf saja tak bisa membuat semua itu kembali.


***


“Sebenarnya Ibu ingin bisa pulang ke Pariaman,” kata Julia pada saat keduanya tengah berada di ruang tengah. “Ibu rindu sama Etek sama Om-mu.” 


Etek adalah panggilan tante dalam bahasa Padang.


Bayu menatap Ibunya dengan perasaan bersalah. Karena belum bisa memenuhi permintaan beliau pulang ke asalnya sendiri, yakni ke Padang.


“Maaf ya, Bu. Bayu belum ada uang lebih. Soalnya kalau ke Padang pesawatnya saja lumayan mahal.”


“Ibu mengerti,” kata Julia kemudian. Tapi dengan wajah yang dibuat setegar mungkin. 


Ibu dan Ayah memang berasal dari Padang. Tetapi mereka tidak pernah bisa kembali karena mengalami kebangkrutan. Mereka tentu malu kalau harus balik ke sana dalam keadaan miskin. Apa kata tetangga-tetangga di sana yang terkenal bermulut tajam? Belum lagi beberapa keluarganya yang pernah menghina dan memaki mereka lantaran telah menghabiskan banyak modal. Menjual beberapa barang berharga dan juga tanah warisan milik mereka bersama. Harapan akan sukses merantau dengan mendirikan beberapa usaha masakan padang nyatanya hanya menjadi buaian harapan. Ternyata membangun usaha tak semudah yang mereka bayangkan.


“Ini sudah malam, kau tidak tidur?” tanya Julia. Di ruangan ini hanya ada mereka berdua karena Putri lebih dulu masuk ke dalam kamar. Putri mengatakan kepada Julia; bahwa ia sedang kurang enak badan.


“Iya, Bu. Sebentar lagi,” jawab Bayu. Lalu menanyakan sesuatu setelahnya. “Putri gimana tadi keadaannya?”


“Dia sudah ibu belikan obat, badannya memang sedikit panas. Tapi mungkin dia butuh istirahat saja. Pasti besok sembuh.” Tiba-tiba Julia mengecilkan volume televisi. Dari gelagatnya, Julia seperti ingin membicarakan sesuatu hal yang penting. “Yu. Ibu mau bicara sebentar.”


Nah, benar ‘kan? Bayu merasa was-was. Tubuhnya menegang dan wajahnya mendadak pucat. Jangan-jangan— karena perihal tadi sore? Tentang apa yang sudah mereka lakukan. Ah, pikirannya keruh sekali. 


“Ada apa, Bu?” tanyanya bersikap senormal mungkin.

__ADS_1


__ADS_2