
Lantaran tidak punya pilihan, akhirnya Roro terpaksa turun. Karena kalau tidak, Prabu Dharma mengancam untuk menggorok pohon itu dengan pedangnya yang sangat tajam. Beliau bahkan sudah tidak peduli lagi bagaimana perasaan putrinya. Tangis kian pecah pada saat Roro dinaikkan ke dalam kereta kuda. Sumpah demi Tuhan, Roro tidak mau dinikahkan dengan Pangeran Hanung Praja.
Sesampainya di istana, Roro berlari ke hadapan ibunda Ratu. Dia memeluk dan mengadukan kepayahannya karena perkawinan paksa ini.
“Ibunda, Roro tidak mau menikah dengan Pangeran Hanung Praja. Roro tidak mencintainya. Roro hanya ingin menikah dengan orang yang Roro cintai, Ibunda ....”
“Nduk, kau harus menuruti apa kata Ayahandamu, kalau tidak, Ayahandamu akan sangat marah,” kata Ratu Saraswati sembari mengelus punggung putrinya yang kini berada dalam pelukannya.
“Tapi Ibunda, Roro tidak mau. Ayahanda itu jahat!” pekiknya begitu nyaring. Membuat Prabu semakin berang.
“Itu akibatnya kalau kau terlalu memanjakan dia!” sembur Prabu Dharma kepada istrinya. “Semakin hari, putrimu itu semakin melunjak kepadaku. Ajari dia menjadi anak yang santun.”
“Pokoknya sampai kapan pun Roro tidak pernah mau menikah dengan Pangeran!”
Prabu Dharma mengancang tangannya tinggi-tinggi. “Beraninya kau masih membentak ayahmu juga—”
“Prabu!” seru Ratu sehingga Prabu menghentikan aksinya yang hendak menampar Roro Ageng. “Tolong jangan lakukan itu, kalau Prabu mau memukul. Pukullah aku yang senantiasa salah dalam mendidik. Jangan sakiti dia dan jangan kau kotori tanganmu untuk memukulnya.”
“Bela saja dia, kau memang selalu seperti itu!” seru Prabu Dharma. “Kau tidak tahu bagaimana malu dan sakitnya menjadi aku. Karena dia, hubungan persahabatan yang sudah terjalin selama berpuluh-puluh tahun hancur karena hari ini. Apalagi yang lebih memalukan dari ini Ratu!?”
__ADS_1
“Tetapi dia mempunyai kehidupannya sendiri, Prabu. Dia berhak memilih siapa yang akan menjadi suaminya kelak. Jikalau nanti dia tidak bahagia, bukankah kita yang akan menyesali perjodohan ini seumur hidup.”
“Apa yang salah dari Pangeran Hanung? Dia ksatria yang baik. Aku yakin dia akan bahagia setelah menikah.”
“Cinta tidak bisa dipaksakan!” selak Ratu.
“Tapi cinta akan datang jika terbiasa, buktinya aku dan kau. Kita dijodohkan juga tapi akhirnya kita bisa saling mencintai dan menerima kekurangan masing-masing.”
“Tidak, Ayahanda, tidak,” sahut Roro. “Roro dan Pangeran Hanung mempunyai karakter yang berlawanan. Dia sekeras batu, Roro cenderung mengalah, apa jadinya kalau kita bersama nanti. Kami jelas tak bisa disatukan. Tidak akan baik untuk kesehatan mentalku kelak, karena aku yang akan terus tersiksa nantinya.”
“Ayah tidak mau mendengar penjelasan apa pun darimu, kau tetap akan Ayah nikahkan dengan Pangeran Hanung!” tegas Prabu yang sudah kepalang malu dengan pesta gagal ini. Sudah berapa banyak harta yang sudah dia gelontorkan?
Prabu menulis surat untuk pangeran Hanung dan Prabu Airlangga. Aksara Jawa yang tertulis mengatakan Prabu Dharma meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada mereka dan memberitahukan bahwa; Roro sudah ditemukan dan pernikahan akan tetap dilaksanakan pada pekan selanjutnya.
Pekan selanjutnya telah tiba. Roro kembali dimandikan di keputren, yakni sebuah kolam pemandian. Di sana, Roro di mandikan dengan kembang tujuh rupa. Selesai itu dia kembali di rias seperti pekan lalu. Kamar pengantinnya pun sengaja di biarkan utuh seperti itu.
Namun untuk kali ini pengawalan lebih ketat lantaran tak ingin Roro kembali kabur lagi. Tak mempunyai kesempatan untuk pergi, Roro hanya bisa berpasrah untuk menyerahkan dirinya kepada lelaki yang tidak ia cintai.
Kala matahari telah mulai tegak ke atas, rombongan kembali datang dengan membawa banyak sekali buah tangan. Prabu Dharma begitu senang karena kali ini, dia percaya bahwa pernikahan ini akan benar-benar bisa dilaksanakan. Dia menyambut kedatangan sahabatnya sekaligus calon besannya tersebut dengan suka cita.
__ADS_1
“Aku bersyukur, kau tidak semarah itu padaku, Prabu Airlangga, Pangeran Hanung,” kata Prabu Dharma.
“Sesungguhnya kami sangat marah dan malu, tetapi putra kami sudah terlanjur menaruh perasaan terhadap Ratu muda. Jadi apa boleh buat. Aku hanya menuruti keinginan putraku,” jawab Prabu Airlangga. Sementara Pangeran hanya tersenyum. Ya, tersenyum bahagia pastinya.
“Kami tidak ingin sesuatu buruk terjadi lagi, Prabu Dharma. Kau harus memberikan pengawalan yang lebih ketat daripada kemarin,” sambung Prabu Airlangga.
“Itu sudah pasti, Prabu.” Prabu Dharma segera memanggil para pelayannya untuk mengeluarkan putrinya yang di rias semenjak matahari terbit. Lantas, Roro pun dikeluarkan dari kamar pengantin. Semua orang terkagum-kagum melihat wajahnya yang sangat jelita. Dia adalah bagaikan jelmaan bidadari surga yang diturunkan dari atas langit. Bagaimana Pangeran Hanung tak tergila-gila walau hanya dalam sekali lihat.
Roro di dudukkan di samping Pangeran Hanung. Pangeran itu, terlihat mencuri-cur pandang gadis di sebelahnya. Sungguh tidak ada keindahan yang lebih indah di dunia ini selain wajah Roro. Tidak pernah Pangeran melihat gadis secantik ini, batin Pangeran yang terus memuji.
Namun pada saat ritual-ritual mulai dibacakan, Roro melihat dengan waspada. Dia melirik kanan kiri mencari celah untuk melarikan diri. Sampai pada saat pernikahan sakral akan dilaksanakan, Roro melihat semua orang lengah pada karena doa sedang dipanjatkan. Biasanya, mereka memejamkan mata dan sangat khusyuk bila berdoa. Dan pada saat itulah Roro kembali kabur. Kembali ke bukit dengan berlari secepat angin. Dia memang mempunyai kekuatan tersebut, namun sayangnya Roro kurang terlatih karena kehidupannya yang terlampau manja membuatnya sering bermalas-malasan.
Suasana kembali mencekam pada saat mereka membuka mata tak mendapati calon mempelai perempuan. Keributan dan kerusuhan terjadi di istana itu.
Suara keras dari Prabu Airlangga dan Pangeran Hanung begitu memekakkan telinga. Mereka sangat marah. Sangat berang dan benci kepada Prabu Dharma. Lantas, pertarungan pun benar-benar terjadi. Istana porak-poranda.
Prabu Dharma dan Ratu Saraswati selamat waktu itu. Tetapi tidak dengan prajurit-prajuritnya yang sudah bertumbangan bersimbah darah. Karena itulah Prabu Dharma mengutus Dewi Purba, peramal yang paling ahli dalam sejarah untuk mencari keberadaan Sang Putri; Roro Ageng. Setelah Roro ditemukan, tanpa benar-benar berniat, Prabu mengutuk Roro menjadi patung batu yang menyedihkan.
Prabu menyadari, dirinya ada dalam penyesalan. Awalnya, dialah yang tidak mau mendengar kata-kata istrinya. Sang Ratu sangat sedih, dia memandangi tubuh anaknya yang sudah mengeras, menjadi sebuah benda yang tidaklah berharga.
__ADS_1
Lantas, tahun berikutnya Prabu mengirim seorang prajurit untuk menguburkan patung itu diperbukitan. Kata peramal, tidak ada yang bisa membangunkan Roro Putri selain takdir. Putri hanya akan kembali hidup di generasi manusia ratusan tahun berikutnya.
Tahun-tahun terus berlalu, kerajaan mulai melemah. Istana mulai runtuh. Akhirnya Raja dan Ratu itu mati dengan membawa penyesalan. Seharusnya—sedari awal mereka sadari, bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan.