
“Tidak akan. Kau pasti selamat. Sebaiknya aku pergi denganmu, aku ingin kau menemaniku untuk menemui guruku yang ada di bukit. Aku ingin memohon padanya sekali lagi agar aku bisa dihubungkan ke dua dimensi. Agar tak meninggalkan keduanya. Kalau perlu, aku akan bersujud!” katanya terdengar sungguh-sungguh.
“Aku tidak menyangka kau senekat itu. Kau mau kabur lagi?”
“Pikiranku seketika berubah. Bisa jadi apa yang kau katakan semalam adalah benar.”
Kebahagiaan menyeruak di dalam hati Bayu. Dia menarik tangan Putri dan menciumnya berulang kali. “Terima kasih karena kau sudah mau mempercayaiku. Aku senang sekali mendengarnya. Setelah gurumu mengabulkanmu, kita kembali ke masa depan ya?”
Putri mengangguk. “Tapi setelah aku berhasil mengungkapkannya kepada Ayahanda Prabu dan membuatnya percaya. Kau mau menungguku mencari buktinya ‘kan?”
“Tentu saja,” kata Bayu tanpa ragu. “Lalu bagaimana dengan acara ini?”
“Aku tidak peduli, kita harus pergi secepatnya ke rumah guru dan kita bisa bersembunyi selama beberapa lama di sana.”
“Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil kuda dan tas ranselku.”
“Jangan terlalu lama Bayu!” Bayu mengangguk dengan senang hati. Wajahnya berbinar-binar karena sudah mempunyai harapan.
Tetapi ketika Bayu baru saja keluar—Bayu tersentak. Nasibnya sedang kurang baik. Beberapa orang prajurit menghadangnya di gerbang. Dan menguncinya di tengah-tengah mereka. Beberapa pedang langsung diarahkan kepadanya sehingga Bayu tak dapat bergerak.
__ADS_1
“Siapa kau sebenarnya! Tidak ada yang bisa membawa calon ratu kami pergi,” kata salah satu prajurit.
Apakah nasibnya hanya sampai di sini?
Lantaran tidak tahan membiarkan Bayu diperlakukan demikian, Putri menyembul dari balik pohon. “Lepaskan dia, atau kalian akan mati di tanganku!”
Mendengar keributan di luar tak lantas membuat panglima diam saja. Beberapa orang mulai berhamburan keluar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk Pangeran Hanung, Prabu Dharmawangsa, Ratu Saraswati dan yang lainnya yang pada saat itu sedang berada di pelaminan.
“Apa yang terjadi?” tanya Prabu Dharmawangsa.
“Maaf Prabu, lelaki ini yang tidak kami ketahui namanya telah lancang akan membawa Tuan Putri pergi,” jawab salah satu prajurit sembari menunjuk ke arah Bayu. Sementara Bayu hanya diam tak berkutik. Dia fokus mendengar bisikan gaib yang sedang menuntunnya menyusun rencana.
Bayu langsung turun dari kudanya. “Tidak ada yang menyuruhku, Prabu. Tujuanku datang ke sini memang menemui Roro Putri, orang yang aku cintai,” jawab Bayu lugas tanpa merasa takut sedikit pun. Rasa takutnya hilang entah ke mana. Seolah tak peduli dengan pedang yang tengah tegak ke arahnya yang bisa menyayatnya saat ini juga.
Pangeran Hanung terlihat murka. “Jawab aku prajurit, panglima, kenapa sampai ada penyusup masuk ke dalam istana ini. Apa kerja kalian? Hah! Tidak berguna!”
Roro Putri langsung menyahut, “Diam, munafik!” pekiknya menggema.
“Apa maksudmu calon permaisuriku?” tanya Pangeran Hanung berpura-pura. “Jangan seperti ini.”
__ADS_1
“Jangan berlagak polos kau bedebah! Munafik,” kata Roro Putri lagi.
“Jaga toto kromomu, Nak. Apalagi kau perempuan,” ucap Prabu Dharmawangsa. “Pelankan nada suaramu, masuklah. Kita akan bicarakan baik-baik apa maunya si pemuda tidak berwibawa ini.”
Bayu memilih untuk diam. Pada kenyataannya dia memang tidak berwibawa seperti mereka-mereka. Dia hanyalah anak muda miskin yang tersesat di sini. Terserah apa kata mereka saja!
“Aku tidak mau berbicara baik-baik dengan calon penghancur kerajaan ini, Ayahanda. Roro mohon ampun. Maafkan hamba. Tapi orang yang ada di sebelahmu adalah sejahat-jahatnya seorang bandit.”
“Hentikan omong kosongmu, calon ratuku!” sahut Pangeran Hanung tak terima.
“Kau takut Pangeran? Aku sudah tahu semua rencanamu,” kata Roro Putri serupa mengancam. “Semalam semua obrolan dan rencana busukmu telah di dengar oleh seseorang. Bahwa kau akan menghancurkan kami dan akan menguasai kerajaan ini. Bukan hanya itu saja, hal yang paling aku tidak sangka-sangka kau juga akan membunuh Ayahanda Prabu, maka kau bisa dengan bebas membawa selir-selirmu kemari. Seperti itu maumu bukan?”
Seketika Prabu Dharmawangsa terkejut dengan mata yang agak dibelalakkan. Dia berada di dalam kebimbangan antara percaya atau tidak dengan perkataan putrinya. Apakah ini hanyalah akal-akalannya saja untuk menggagalkan pernikahan ini, mengingat betapa putrinya menolak pernikahan ini pada awalnya sampai dia kabur ke bukit. Namun rasanya—putrinya tak mungkin berbohong.
“Tidak, Prabu. Dia berbohong, pasti putrimu telah dipengaruhi,” jelas Pangeran Hanung membela diri.
“Mana mungkin anakku seperti itu, Prabu,” sahut Prabu Airlangga membelanya. Sesungguhnya beliau adalah sahabat terbaik sang Prabu Dharmawangsa dan tidak tahu menahu dengan rencana busuk anaknya.
“Aku juga mengenali putriku lebih dari diriku sendiri, Putriku juga tidak mungkin berbohong,” kata Prabu Dharmawangsa membuat Roro Putri sedikit lebih lega.
__ADS_1