Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Ingin Punya Menantu Perempuan


__ADS_3

9


Kenapa ini harus terjadi? Bayu bertanya-tanya. Keduanya pulang dalam keheningan. Ia sangat merasa bersalah mengenai adegan tadi. Kalau Bayu tak melakukannya, pasti kecanggungan ini tidak akan tercipta. Dengan pongahnya ia merusak mentah-mentah alur rencana. Padahal, ini baru tahap awal, belum sampai ke mana-mana. 


Pun dengan Putri yang sedang dalam menata hatinya, belum pernah ia merasakan debur-debur jantung semacam ini. Wajahnya menyemburat merah tak dapat menyembunyikan salah tingkah. Namun tak bisa dipungkiri, sentuhan itu menimbulkan perasaan bahagia yang membuncah.


“Put ….”


“Hmm.”


“Maaf yang tadi,” katanya setelah terdiam beberapa saat.


“Lupakan!”


“Sepertinya kau marah padaku,” ucap Bayu. “Makanya jangan menantang.”


“Ya, aku yang salah,” jawab Putri yang akhirnya mengakuinya. “Dan kamu yang selalu benar.”


“Tapi aku senang, jadi sering-sering salah saja,” seloroh Bayu mencairkan suasana. 


Putri mendelik kesal, dikasih hati malah minta ampela. “Menyesal aku mengakui kesalahanku!”


“Itu bagus, itu bagus.”


Putri meninggalkan laki-laki itu ke dapur sambil ngedumel, “dasar gila.”


Malam harinya, Julia mendahului mereka beristirahat setelah mengatakan bahwa tubuhnya teramat lelah. Setelah seharian ini banyak sekali aktivitas yang dilakukannya. Mulai dari membuat barang dagangan, menitipkannya ke warung, belum lagi pergi ke kondangan, serta mengerjakan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya yaitu mengurus rumah. 


“Biar aku yang tidur di luar,” kata Bayu duduk bersebelahan. Mereka sedang menonton televisi. Banyak sekali hal yang ditanyakan oleh Putri mengenai benda elektronik yang bergambar dan bersuara itu. Tetapi wanita itu tak mengindahkan nada malasnya.


“Aku tidak mau, aku tamu di sini. Aku harus menghormati tuan rumah. Jadi aku tidak apa-apa jika harus tidur di sini,” kata Putri menolak dengan halus.


“Tidak, tidak,” kata Bayu tak setuju. “Lelaki macam apa aku tak mau mengalah kepada perempuan. Aku merasa tidak punya harga diri jika aku membiarkanmu tidur di sini.”


“Kata siapa begitu?”


“Kataku, aku berpikir memakai logika.”


“Aku hanya tidak mau, hanya karena aku menumpang di sini, kau jadi tidak nyaman.”

__ADS_1


“Jangan mendebatku!” kata Bayu secara tegas. “Ini sudah malam, istirahatlah di dalam!”


Putri menggeleng, tetap dalam pendiriannya. Sehingga muncullah ide brilian dari seorang Bayu purnama. “Aku bisa mengulang kejadian tadi siang,” ancamnya secara tegas.


“Iya, iya, iya, baiklah!” seketika itu juga Putri berjingkat menuju ke kamar Bayu. Lantas mengunci pintunya dari dalam.


“Ya Tuhan, langsung dikunci saat ini juga, lalu bagaimana dengan tidurku, aku belum mengambil sarung dan bantal, Put?”


Namun kemudian Putri kembali keluar setelah beberapa menit. Sehingga Bayu langsung menatapnya dengan penuh tanya. “Ada apa?”


Putri membawakan bantal dan meletakkannya di kursi. “Katanya kau janji akan mencarikan aku informasi bagaimana caraku bisa kembali, mana? Kau bohong, ya?”


“Bukan aku bohong, tapi tidak mungkin malam ini. Aku sedang sibuk, lagi pula tempatnya juga sangat jauh.”


“Jauh?” tanya Putri dengan raut wajah kecewa. “Di mana?”


“Di Museum, atau tempat-tempat penyimpanan benda-benda bersejarah,” jelas Bayu. “Ah, sudahlah kau pasti tidak tahu juga apa itu Museum atau semacamnya. Kau akan bisa mengerti jika melihat langsung di tempatnya.” meskipun aku harus absen lagi tak datang ke bengkel, lanjut Bayu dalam hati.


“Kalau tidak malam ini, besok bisa ‘kan?”


“Sepertinya juga tidak bisa. Aku aku harus bekerja.”


“Aku tidak mungkin libur lagi, aku bisa dipecat. Mencari pekerjaan itu susah, Put.”


“Kenapa harus bekerja, sih?”


“Itu pertanyaan yang aneh,” kata Bayu dengan segenap kesabaran yang dimiliki. Makhluk aneh memang selalu mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan aneh juga, pikirnya. “Aku bukan orang kaya yang hanya ongkang-ongkang kaki, lantas bisa mendapatkan uang dengan mudah. Aku harus bekerja dulu banting tulang untuk membantu mencukupi kebutuhan kami sehari-hari, dan juga denganmu.”


“Ish, kau sudah seperti orang tua saja!”


“Sudah seharusnya begitu. Sebab, Ayah sudah tidak ada dan aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Lagi pula aku ini sudah besar, butuh uang terutama untuk jajanku sendiri, rokok misalnya. Macam mana aku tidak bekerja. Kau pikir kita aku ini hidupnya di surga; yang hanya tinggal meminta langsung ada. Semua yang kita inginkan di dunia ini harus didapatkan dengan cara berusaha.”


“Ah, aku jadi tidak enak sudah menumpang di rumahmu, Yu. Aku menyusahkanmu, ya?” kata Putri merasa tidak enak. “Kalau begitu, gimana kalau aku membantumu mencari uang?”


“Tidak usah, itu tidak perlu. Dengan membantu Ibu di rumah itu sudah sama dengan membantuku juga. Jadi kau cukup di rumah saja.”


“Memangnya di tempatmu bekerja sudah tidak menerima orang lagi?”


“Kau tidak mungkin bisa melakukannya. Sebab, kau harus bersekolah dulu atau latihan khusus.”

__ADS_1


“Memangnya pekerjaanmu, apa?”


“Memperbaiki kuda besi; seperti yang kemarin kita pakai untuk pulang ke rumah.”


“Oh, itu kuda besi namanya? Kuda masa kini?”


“Ya, ya, kau betul. Tetapi orang-orang jaman sekarang biasa menyebutnya motor.”


“Motor? Hihihi nama yang aneh. Motor, kuda besi, motor kuda besi. Hahaha ….” 


...***...


Malam berlalu dengan begitu cepat. Pagi harinya, Bayu sudah mulai bekerja lagi meskipun tubuh masih terasa letih dan sakit akibat berguling-gulingan di lereng; terutama di bagian punggung. Tetapi bekerja mungkin lebih baik daripada terlalu menikmati rasa sakit yang malah justru memperparah keadaan. Tubuh pegal solusinya adalah berolahraga, meskipun bukan olahraga yang disengaja.


“Yakin akan berangkat saja hari ini?” tanya Ibu. “Ibu belum sempat memijat tubuhmu.”


“Tidak apa-apa, Bu. Keadaanku baik-baik saja,” jawab Bayu berkilah.


“Apakah tempatnya jauh?” sahut Putri bertanya.


“Dekat, hanya berjarak kurang lebih empat ratus meter.”


“Oh …,” kata Putri dengan bibir membulat.


“Aku berangkat, assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam,” jawab keduanya bersamaan.


Selepas Bayu pergi, tinggallah mereka berdua yang disibukkan dengan barang dagangan dan beberapa banyaknya pesanan. Dengan senang hati Putri melakukan apa pun seperti yang dilakukan oleh Julia. Wanita itu tidak terdengar mengeluh apalagi ogah-ogahan sehingga Julia merasa senang dan sangat terbantu sekali. Sama seperti wanita-wanita pada umumnya, mereka pun banyak bicara saat berdua. Julia yang merasa nyaman lantas menceritakan banyak tentang Bayu serta suaminya. Namun sepertinya, jika menyangkut keluarga, Putri memilih untuk menjadi pendengar. Lantaran merasa; siapa keluarganya tak penting bagi Julia untuk mengetahui.


“Maaf, ya, Bu kalau kedatangan Putri merepotkan,” kata Putri merasa tidak enak. “Putri izin untuk menginap di sini selama beberapa waktu ke depan. Putri menunggu Bayu libur untuk bisa mencari sama-sama keluarga Putri dan gimana caranya supaya bisa kembali.”


Namun Julia tersenyum seraya menuangkan minum untuknya. “Ibu memang sudah mendengarkan cerita dari Bayu, kemarin sore. Sebenarnya sampai sekarang Ibu masih saja tidak tahu siapa Nak Putri sebenarnya dan dari mana kamu berasal. Tapi seorang Ibu selalu memakai perasaan; dan entah kenapa, Ibu merasa langsung nyaman denganmu. Hal itu cukup untuk Ibu percaya kepada Putri. Dan Putri bisa tinggal di sini sampai kapan pun Putri mau.”


“Be-benarkah?” tanya Putri dengan kedua mata berkaca-kaca.


“Ya, benar, tinggallah di sini sesukamu,” jawab Julia. “Lagi pula Ibu juga kesepian. Ingin cepat-cepat punya menantu perempuan.”


“Hah?” mulut Putri menganga seraya tergelak setelah mendengar kejujuran itu. 

__ADS_1


...***...


__ADS_2