
"Rumah yang mana?" tanya Bayu saat dia mengantar Dewi kembali ke tempatnya.
"Itu yang catnya kuning," tunjuk Dewi pada salah satu rumah yang ada di depan mereka.
Bayu pun menepikan mobilnya ketika sampai. Bersiap menurunkan penumpang.
"Sampai ketemu lagi," itu kata Bayu sambil menoleh dan tersenyum. "Kalau bisa sampai pelaminan," lanjutnya.
"Ah, paan sih!" cebik Dewi pada laki-laki gatal tersebut.
"Wi ...." panggil Bayu lagi.
"Hmmm."
"Jangan dulu turun. Aku ingin duduk berdua seperti ini lebih lama."
"Mas Bayu itu, aku ini bukan wanita pujaanmu, ya! Jadi jangan menganggap aku orang yang sama. Atau ...."
"Atau apa?" Bayu menyela.
"Mas Bayu emang begini ke semua perempuan?"
"Aku tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun kecuali mantan istri," dustanya. Tidak mungkin juga laki-laki akan mengakui dosanya di hadapan perempuan yang sedang dia tandai. Bisa-bisa dia kabur sebelum membeli.
Dewi diam saja, sehingga Bayu berkata lagi, "Kamu ilfeel ya, dengan statusku?"
"Apa salahnya menjadi duda?" jawab Dewi. "Kau juga tidak bisa memilih jalan hidupmu seperti apa kan?" katanya lagi beranggapan demikian.
Bayu menunduk. Kesedihan tergambar di wajahnya. "Tidak ada satu pun seorang pria yang menginginkan istri terbaiknya meninggal. Dan yang kualami juga terdengar sangat menyakitkan. Sebab aku tak diberikan kesempatan untuk melihat jasadnya."
__ADS_1
"Aku mengerti perasaanmu karena aku pernah kehilangan juga."
Bayu menoleh.
"Ibuku meninggal saat aku mulai masuk sekolah dasar," ujar Dewi lagi menjawab pertanyaan dalam hati Bayu.
"Aku besar tanpa kasih sayangnya. Dan rasanya mungkin lebih sakit daripada yang kamu rasain."
Refleks, Bayu menggenggam tangannya sebagai bentuk simpati. Tapi anehnya, kini genggaman tangan itu dibiarkan. Tidak seperti kemarin yang memberontak.
"Aku tidak tahu cara menenangkanmu. Kalau boleh peluk, pasti sudsh kulakukan. Tapi sepertinya tidak boleh."
"Itu mah namanya modus! Cari kesempatan dalam kesempitan!"
Bayu terkekeh, "Syukurlah. Mode galak sudah keluar lagi. Jangan sedih, ya."
Bayu mengangkat jempolnya.
"Boleh aku bertanya?" kata Bayu setelah jeda beberapa saat. "Setelah semua yang aku ceritakan barusan, apa kamu percaya?"
"Terlalu nyata kalau aku jawab tidak percaya. Seperti yang Mas Bayu bilang... tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
"Terima kasih sudah mau mempercayaiku. Simpan cerita ini rapat-rapat."
Dewi mengangguk.
"Mau ikut masuk tidak?" Gadis itu menawarkan.
"Sepertinya tidak."
__ADS_1
"Bagus, deh."
"Kenapa bagus? Jujur amat jadi orang. Mentang-mentang tidak mau kerepotan di datangi tamu."
"Bukan begitu, masalahnya di dalam cewek semua. Nanti mata Mas Bayu bisa jelalatan!"
"Kamu cemburu?"
"Tidak!" sanggahnya cepat.
"Bilang saja cemburu!"
"Apaan sih! Masa baru dua kali ketemu langsung jatuh cinta. Apalagi sama pria aneh sepertimu!" cebiknya.
"Kamu tidak percaya kalau ada cinta pada pandangan pertama?"
"Percaya, tapi itu belum berlaku sama aku."
"Ya ya. Ya, sudah turunlah dari mobilku. Atau kamu mau lebih lama berdua denganku di sini?"
Dewi melirik sebal. Kemudian bersiap-siap untuk turun.
"Temui aku lagi di lain waktu, Wi... aku ingin mengobrol denganmu lebih banyak."
"Aku masih banyak tugas...."
"Kalau begitu tunggu kamu punya waktu luang saja. Jalani dulu sampai selesai. Kasihan orang tuamu yang sudah membayar kuliahmu sampai detik ini."
"Iya," jawab Dewi tersenyum. Senyum paling manis yang tak pernah Bayu lihat.
__ADS_1