Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Kehidupan yang Ada di Sana


__ADS_3

“Ya, saya dari masa depan.”


Lelaki dan istrinya tersebut terperangah, melihat dengan tatapan tak terbaca. Antara takjub, bingung, tak percaya. “Astaghfirullahaladzim, Ya Allah Gusti.”


What? Mereka bisa menyebutkan nama Tuhan? Bukankah mereka sejatinya sudah lenyap dari muka bumi ini? Dan apa yang di hadapannya adalah ....


Lantaran penasaran dengan cerita Bayu yang kedengarannya sangat aneh di telinga mereka, akhirnya lelaki tersebut dan istrinya mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Bayu di persilahkan duduk di risban; kursi kayu memanjang yang bisa diduduki beberapa orang sekaligus. Pun dengan mejanya yang juga memanjang berukuran sama.


Setelah beberapa saat, bukan hanya ada mereka berempat, tetapi tetangga lain juga ikut berkumpul. Mendengarkan serta cerita dari Bayu. Menanyakan banyak hal, berbagi cerita dan pengalaman. Di sana, bayu di suguhkan dengan berbagai macam makanan, seperti ubi dan talas bakar, nasi yang terbuat dari singkong serta lauk yang katanya daging hasil buruan. Namun Bayu hanya makan ubi dan singkongnya saja. Ki Adiwerna melarangnya untuk memakan ikan hasil buruan. Kalau tidak, naluri purbanya akan memberontak kuat; yang dapat membahayakan dirinya.


“Oh, jadi ini pakaian masa depan?” tanya sesepuh di sana yang memakai celana pendek dengan dada yang dibiarkan terbuka.


“Iya Mbah, begini pakaiannya.”

__ADS_1


“Apa di masa depan masih banyak orang-orang yang berpakaian seperti ini?” salah seseorang perempuan menunjukkan pakaian yang dikenakannya.


“Masih ada, Mbah. Hanya saja—jumlahnya tak banyak. Pakaian adat seperti ini akan digunakan pada acara-acara tertentu. Yakni perkumpulan, rapat semacamnya.”


“Kalau musik-musik gamelan?” sahut yang lain.


“Oh, iya, di desaku, orang-orang masih sering melestarikannya. Mereka kerap kali latihan bersama. Agar cucu-cucu kita kelak masih bisa mengenali dan menikmati adat para nenek-nenek moyangnya,” papar Bayu.


“Kalau keadaan rumah-rumah penduduk, bagaimana?”


Mereka hanya menatapnya tak terbaca.


Salah seseorang sepuh langsung menyahut, “Jangan bangga dengan kemajuan zaman. Kemajuan zaman bukanlah suatu tanda kemakmuran, melainkan arti kerusakan yang sesungguhnya. Dan di masa yang kau jalani sekarang ini, adalah pertanda semakin dekatnya jarak runtuhnya dunia ini, yakni kiamat.”

__ADS_1


Bayu seketika meremang mendengarkan penjelasan beliau. Lantas beliau kembali menanyakan sesuatu mengenai dirinya yang mempunyai tujuan.


“Kalau boleh tahu, untuk apa Kang Mas jauh-jauh ke istana Siwalingga?”


Bayu mendesahkan nafasnya pelan, lantas ia menjawab yang sejujurnya. Bayu tak menutup-nutupi suatu apa pun yang mereka pertanyakan. Baginya—orang yang jujur, akan lebih banyak mendapatkan keberuntungan dan keberkahan. “Karena suatu hal Nyai Roro Ageng, datang ke masaku. Kami—mempunyai hubungan khusus. Dan kedatanganku ke sana adalah menyusulnya, mengajaknya kembali untuk meresmikan hubungan kami.”


Bayu langsung terkejut manakala melihat semua orang merunduk ke bawah setelah menjelaskan maksud tujuannya.


“Salam sembah kami, Pangeran,” ucap semuanya serentak.


Bayu benar-benar tidak mengerti dengan mereka. Pangeran? Apa ada kesalahan di dalam ucapannya barusan? Namun bayu tak terlalu memikirkannya. Dia tak boleh terlalu lama di sini karena perjalanan masih sangatlah jauh.


Bayu dihormati layaknya seorang pangeran sungguhan. Hingga tiba saatnya pergi, beberapa orang saling berunding untuk menyumbangkan salah satu kudanya untuk Bayu tunggangi. Ini dapat mempersingkat perjalanan, katanya.

__ADS_1


Bayu pun sempat bertanya; kenapa mereka sebaik ini? Sebab, mereka menganggap Bayu adalah calon Prabu mereka yang sepatutnya mereka hormati dan layani sebaik-baiknya.


Akhirnya Bayu memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan menuju ke arah selatan. Sesuai dengan arahan-arahan para penduduk dan mata batinnya. Namun ada sesuatu yang tidak Bayu pahami, kata sesepuh tadi; Bayu dilarang menoleh ke belakang ketika berjalan, apa pun yang terjadi sebelum ia sampai di pedesaan selanjutnya.


__ADS_2