Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Raja yang Bebas Memilih Selir


__ADS_3

Bayu duduk di risban sembari menikmati batang rokok sisaan di ranselnya. Agaknya Bayu merasa lapar, dia mengeluarkan daging dari dalam tasnya dan diletakkan di atas meja. Namun sayangnya tidak seperti yang Ibunya katakan bahwa rendang ini bisa bertahan sebulan lamanya. Kenyataannya—belum sehari penuh Bayu menuju ke sini, kini makanan itu sudah berjamur. Baunya sengir dan jelas sudah tidak enak lagi untuk di santap. Sebaiknya di buang saja, batinnya berujar.


“Sugeng ndalu, Kang Mas. Makan dulu ya. Maaf seadanya,” kata Nawang yang tiba-tiba keluar dengan membawa hidangan. Baunya sangat enak, rupanya perempuan itu baru saja memasak di tungku pembakaran. Asap timbul di atas wadah makanan yang baru saja matang itu. Sayur bayam dan ikan yang dibakar.


“Terima kasih, Nawang. Maaf aku merepotkan mu, mengurangi jatah makan malam mu,” kata Bayu merasa sungkan. Dia mencoba menghilangkan kekakuan mengganti kata saya menjadi aku sehingga Nawang mengikutinya.


“Ah, tidak, Kang Mas. Justru aku senang di datangi oleh seorang tamu. Tamu adalah raja yang harus aku layani sebaik-baiknya,” papar Nawang lantas duduk di depannya setelah meletakkan masakannya di meja. 


Tubuh perempuan itu harum. Harum wangi mawar. Cahaya remang-remang menampakkan senyumnya yang manis, wajahnya yang bersih berwarna kuning langsat. Tampaknya perempuan itu telah berganti pakaian, lebih ketat daripada yang terakhir kali Bayu lihat. Sehingga lebih menonjolkan bagian yang berisi. Dia kisaran wanita berumur tiga puluhan, berperawakan tinggi dan juga langsing.


“Silakan di makan, Kang Mas,” kata Nawang lagi. Namun sebelum perempuan itu beranjak berdiri, Bayu menahannya.


“Nawang, kau mau ke mana?”

__ADS_1


“Aku mau ke belakang.”


“Kau sudah makan?” tanya Bayu.


“Belum,” jawab Nawang.


Bayu bertanya-tanya lewat matanya. Kenapa belum? Dia merasa semakin tidak enak tatkala mendengar kejujuran itu. Bayu seorang tamu di sini, bagaimana mungkin ia makan mendahuluinya sementara pemilik rumah saja perutnya mungkin masih kosong.


“Baiklah jika kau menganggap ku seorang raja yang harus dilayani sebaik-baiknya, maka aku ingin mengajukan permintaan padamu.”


Nawang menatapnya, “Apa itu?”


“Aku minta ditemani olehmu,” balas Bayu seraya menatapnya dengan senyuman.

__ADS_1


Bayu makan agak banyak karena seharian ini tak bertemu makan enak. Siang tadi, ia hanya makan ubi-ubian di desa sebelah. Itu pun terasa sudah sangat lama sekali. Aneh memang, kenapa di sini siangnya terasa begitu lama? 


Keduanya makan malam bersama sembari mencuri-curi pandang. Setelah usai, Bayu mencuci tangan dengan bantuan Nawang yang mengucurkan airnya. Lalu bergantian dan berakhir saling menggosok tangan satu sama lain.


“Ceritakan, kenapa kau bisa menjadi sial seperti ini, Nawang?” tanya Bayu ketika mereka kembali di tempat duduk. Keduanya saling berhadapan yang tengahnya dibatasi oleh meja panjang.


“Pada usia tiga bulan pernikahan, suamiku terguling saat sedang mencari kayu di hutan. Tetapi tidak pernah pulang lagi. Orang pintar bilang suamiku sudah mati,” jawab Nawang bernada kesedihan.


“Maaf, aku mengingatkanmu padanya.”


“Ya, tidak apa-apa.” Lantas Nawang meneruskan, “Setiap hari, aku selalu mengharap-harap dia bisa pulang. Tetapi tahun-tahun berlalu dia tidak pulang juga sampai akhirnya aku di asingkan ke sini. Dan mungkin—aku juga tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sana. Katanya aku sudah sial.”


“Sebelumnya kau tinggal di mana?” tanya Bayu lagi. Rupanya dia penasaran juga. Kedengarannya begitu menarik.

__ADS_1


__ADS_2