Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Kau Sangat Hebat


__ADS_3

Langkah Bayu semakin cepat melangkah menjauhi pendopo. Tak sabar ingin segera menemui sang Putri lantaran karena wanita itulah yang bisa membuat pusingnya segera sirna.


“Raden Bayu datang! Raden datang!” seru para Dayang ketika ia baru sampai di sana. Semua berlarian menyingkir meninggalkan area istana tempat Roro Putri tinggal. Hanya ada satu yang tersisa, yakni Dayang Resto. Dayang kesayangan Tuan Putrinya.


“Sudah bangun, ‘kan?” tanya Bayu bermaksud menanyakan Roro Putri.


“Sudah, Raden. Den Ayu juga sudah bisa jalan.”


“Oh, iya, syukurlah.” Bayu menghela nafasnya lebih lega. “Kau bisa tinggalkan kami berdua Dayang?”


“Tentu saja, Den Bayu. Aku harap kau bisa menahan dirimu.”


Seketika Bayu langsung melirik tajam ke arah Dayang Retno. Namun Dayang Retno sama sekali tidak takut, dia malah justru terkekeh.


“Aku tidak akan melakukan apa pun.”


“Seandainya berbuat apa pun kami tidak akan pernah tahu. Aku hanya mengingatkan. Sebab kalian belum halal,” ucapnya lagi.


“Apa dia mengatakannya?” tanya Bayu penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


Dayang tertawa lagi, “Iya, katanya kau sangat hebat.”


“Ini tidak bisa dibiarkan,” sungut Bayu. Ini benar-benar memalukan baginya. Sebagai perempuan dewasa, seharusnya dia bisa menjaga aibnya rapat-rapat. Jangan sampai ia mengatakan hal ini kepada sembarangan orang. Bagaimana kalau seandainya hal ini menjadi sebuah gunjingan? Seperti apa yang tak sengaja ia dengar saat pagi-pagi.


“Jangan katakan kepada siapa pun!” tekan Bayu dengan sangat tegas. “Telingaku ini tidak sama dengan telingamu. Aku bahkan bisa mendengar dari jarak sangat jauh sekalipun, mataku, indra penciumanku, sama demikian. Kau tidak bisa berbohong sekecil apa pun kepadaku. Kalau kau lakukan itu, aku benar-benar akan menghukummu, mengerti?”


“Itu tidak akan pernah, Raden. Maafkan aku.”


“Tinggalkan kami berdua. Aku takut kau juga akan mendengar semua pembicaraan kami. Lalu bergunjing dengan teman-temanmu itu.”


Agar lebih meyakinkan lagi, Dayang bersumpah, “Aku berjanji dan bersumpah, Raden. Tidak akan mengatakannya kepada siapa pun. Tidak akan mengulangi perbuatan kami.”


Dayang tua itu mengangguk dengan hormat lalu pergi meninggalkan tempat. Agak menyesal dia telah membercandai Tuannya. Padahal tujuannya hanya satu, yakni mengingatkan. Tetapi mungkin dia tidak tahu cara mengingatkan yang baik. Bayu mengerti akan hal itu. Orang jadul memang bodoh-bodoh makanya gampang sekali mereka kena tipu.


“Ada apa sih, Bayu? Kenapa ribut-ribut?”


Suara lembut wanita cantik yang sedikit nakal itu membuatnya menoleh. Dia berjalan mendekat. Memakai pakaian biasa serupa manusia masa depan yang biasa Bayu lihat. Celana bahan biasa berwarna hitam namun agak longgar, lalu di padu padankan dengan atasan rajut sederhana berwarna kuning. Rambutnya tidak disanggul dan dibiarkan tergerai. Roro Putri tampak sangat serasi sekali memakai pakaian seperti itu sehingga membuat Bayu begitu terpana. Sehingga seketika bisa dengan cepat melupakan kejadian menjengkelkan barusan.


“Bagaimana bisa kamu mendapatkan pakaian ini?” tanya Bayu.

__ADS_1


“Aku menyuruh Dayang membuatkannya untukku,” jawab Roro Putri sambil tersenyum. “Aku merasa lebih nyaman memakai pakaian seperti ini daripada pakaian sehari-hariku. Yang terus terang, memang sedikit menyiksa. Tetapi aku hanya memakainya saat berada di istana ini, karena aku kalau sampai aku keluar dengan pakaian seperti ini, pasti Ayahanda akan memarahiku.”


“Ya, terserah kau saja,” kata Bayu kemudian.


Keduanya berjalan mendekati taman Kaputren. Taman dengan hamparan rumput rapi yang paling luas. Matahari terlihat bersinar remang-remang, namun hangatnya terasa dikulit. Bayu memang tidak mengerti kenapa setiap hari yang ia jumpai di sini terasa remang-remang. Aneh bukan?


“Aku damai berada di sini. Tempatku merenung atau menyendiri,” kata Roro Putri kemudian setelah jeda keheningan beberapa saat.


“Begitu juga denganku,” sahut Bayu menoleh ke samping. “Oh, iya, gimana keadaanmu. Apakah sudah jauh lebih baik?”


“Sudah, Bayu. Aku rasa racun dari panah itu sudah mulai menghilang. Hanya saja, bagian yang sempat berlubang ini masih terasa sangat sakit jika aku tidak hati-hati. Misalnya sampai tersenggol.” Sambil menunjukkan bagian yang luka, yakni di sebelah kiri atas dadanya.


“Cepat sembuh, ya,” kata Bayu mengusap-usap pundaknya sebagai bentuk perhatian. “Bukankah kita akan pergi ke rumah Gurumu?”


“Iya, aku yakin besok aku sudah bisa pergi keluar,” jawab Putri begitu yakin.


“Syukurlah. Di mana tempat kau biasa bertemu dengannya?”


“Biasanya aku bertemu dengannya di pendopo yang tak jauh dari istana ini.”

__ADS_1


Bayu mengangguk. Keduanya menghabiskan hari itu dengan berdua di taman Kaputren. Tak bosan-bosannya mereka tertawa bahagia. Entah apa saja yang sedang mereka bahas. Di tempat lain tak jauh dari mereka berada, Prabu Dharmawangsa dan istrinya sedang tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Keduanya saling merangkul dan berakhir saling memeluk penuh rasa syukur.


__ADS_2