
“Ibu lihat Putri mewek tadi siang,” kata Ibu membuat Bayu sedikit membelalakkan matanya. “Kalian tidak sedang bertengkar ‘kan?”
“Bertengkar?” ulang Bayu. “Tidak. Sekali pun kami tidak pernah bertengkar. Kami baik-baik saja.”
“Oh ya sudah, Ibu mau masuk ke dalam. Kau tidurlah! Jangan mainan Hp terus. nanti lama-lama Ibu jual HPmu buat beli tepung terigu!” sungut Julia
“Iya, Bu, iya ....”
Selepas Ibu pergi, Bayu langsung mengusap dadanya yang terasa agak plong. Ternyata perbuatan itu tak dicurigai oleh beliau. Namun ia juga khawatir dengan keadaan Putri. Tiba-tiba, ia diterpa perasaan yang sangat bersalah. Pasti Putri sangat menyesal sekali memberikan hartanya yang paling berharga kepada laki-laki yang bukan semestinya. Dan mungkin keadaan itu masih lebih baik bila lelaki itu orang yang berada. Siapa dirinya? Ia bukanlah orang yang baik, mempunyai wajah pas-pasan, hanya seorang mekanik, tinggal di gubuk dan tak punya apa-apa. Parahnya ia juga tidak tahu diri.
Sampai tengah malam Bayu menunggu sampai akhirnya suasana berubah menjadi sepi. Lantas, ia menyelinap masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan Putri yang katanya sedang kurang baik.
Pelan, ia membuka pintu dan terlihatlah tubuh Putri yang tertidur meringkuk membelakanginya. Lampu plentong berwarna kuning dari arah luar menembus ke celah-celah jendela kamar ini. Yang menyorot langsung ke sebagian wajah putri yang pucat. Bayu duduk di pinggiran ranjang. Tangannya terulur untuk menyentuh dahi gadis itu yang memang masih terasa—agak panas.
“Aku baik-baik saja, Yu,” ucap Putri yang berbisik sangat lirih. Ternyata dia juga belum tidur.
“Belum mengantuk?”
Putri menggeleng.
Bayu segera meraih tangannya dan menciumnya dengan penuh perasaan dan penyesalan. “Maafkan aku, Put. Maafkan aku ... aku ini memang lelaki yang jahat,” kata Bayu sambil tergugu. Wanita yang ia tolong, malah menjadi mangsanya sendiri. Mungkin hukuman karma sedang menantinya di sana.
“Apa sih, Yu? Datang-datang langsung bilang begitu,” ujar Putri dengan bingung.
“Karena—” tapi perkataan Bayu terputus lantaran Putri membungkam mulutnya dengan satu tangannya.
“Lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Bukan hanya kau yang salah. Tapi aku juga.”
“Lalu, kata Ibu kenapa kau menangis? Kau menyesal bukan?” tanya Bayu yang masih menebak-nebak kemungkinan.
“Aku hanya—hanya rindu dengan keluargaku.”
Bayu menghela nafasnya lebih panjang, “Aku tahu bagaimana kehilangan seorang keluarga, Put. Pasti ini sangat berat bagimu.”
“....”
“Aku akan terus berusaha menemukan jalanmu untuk bisa pulang,” ada jeda sebelum Bayu mengucapkan sesuatu yang terasa berat baginya, saat ia sudah mulai merasakan kenyamanan dan begitu enggan untuk ditinggalkan. “Meskipun nanti kau akan pergi dan mungkin, kita tidak akan bertemu lagi.”
“Bayu ...,” ucap Putri memelas. “Aku kan masih di sini sekarang. Jangan sedih.”
__ADS_1
“Tapi itulah kenyataannya. Dunia kita berbeda. Dan mungkin kalau kau bertemu dengan mereka, kau akan kawin dengan lelaki yang jauh lebih hebat dariku di dunia sana. Apalah aku. Aku hanya lelaki tanggung yang biasa-biasa saja. Urak-urakan, tak ada wibawanya sama sekali.”
“Hei! Kenapa kau jadi melo begini, sih Yu?” tanya Putri keheranan.
“Karena aku sudah merasa nyaman!” tegas Bayu lantas keluar dari kamar itu dan memejamkan matanya di sofa ruang televisi.
Paginya, ia bangun dan membersihkan badan secara bergantian lantaran kamar mandi di rumah itu hanya ada satu.
Setekahnya, Bayu melakukan rutinitas seperti biasa seperti sarapan, memberi makan ayam-ayam peliharaannya, memanasi motor dan berbagai macam kesibukan lainnya sebelum Bayu benar-benar berangkat.
Namun sepertinya ada yang mereka lupa. Sampai detik ini, mereka belum melaporkan tamu lebih dari dua puluh empat jam yang singgah di rumahnya kepada RT setempat. Dan menyebabkan beberapa orang datang berbondong-bondong mendatangi rumah Bayu. Untuk meminta keterangan.
“Mana tamunya, Yu?” tanya Pak RT.
“Sedang kurang enak badan, Pak,” jawab Bayu.
“Ada identitas? Dari mana dia berasal?”
“Maaf Pak, Putri tidak punya identitas karena-”
“Tidak ada identitas?” potong Pak RT dengan mata yang dibelalakkan. Dia berkata dengan bersungut-sungut kesal. “Bagaimana bisa, warga negara Indonesia tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk atau semacam pengenal? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan warga kami? Misalnya; kemalingan, kehilangan benda berharga atau penculikan anak-anak balita?”
“Ceritakan! Kenapa bisa Ibu memasukkan tamu yang tidak punya identitas? Apa Ibu tidak takut kalau seandainya orang yang Ibu masukkan itu sebenarnya adalah seorang te roris?” Pak RT itu menggebrak meja sehingga semua orang yang berada di sana sedikit terkejut.
“Bukan, Pak. Dia bukan tero ris!” kata Bayu meninggi.
“Kamu, anak kecil. Yang santun ya, sama orang yang lebih tua,” sahut wakilnya dan yang lain.
“Maaf sebelumnya jika membuat kalian kurang nyaman, Ibu Julia, Bayu, kami tidak bermaksud mengintimidasi. Hal seperti ini wajar kami lakukan karena memang bagian dari tugas kami demi keamanan warga setempat,” kata Pak RT yang lebih merendah. Karena dia menyadari perkataannya barusan terlampau meninggi dan membuat semua orang agak terkejut.
Bayu langsung menyahut lagi-lagi mendengarkan keamanan. “Memangnya selama ini ada warga sekitar yang pernah kehilangan barang-barangnya, Pak?”
“Tinggal kau tunjukkan saja mana orang itu biar kami tanya sendiri, hei!” bentak wakilnya yang sepertinya sudah tidak sabaran.
Akhirnya Julia ikut-ikutan terbawa emosi. “Tapi masalahnya, Putri sedang sakit ‘kan anak saya sudah bilang tadi. Masa Bapak ini tidak mengerti juga sih?”
Lantaran tidak tahan mendengarkan keributan di luar, akhirnya Putri terbangun keluar kamar untuk menjelaskan siapa dirinya. Ia tidak ingin, Julia dan Bayu menjadi olok-olokan warga karena kedatangan dirinya di sini.
“Saya tamunya!” kata Puri membuat semua orang menoleh, menatap ke arahnya dengan sorot mata takjub.
__ADS_1
“Ya Tuhan, cantik tenan toh iku,” bisik teman Pak RT dan yang lainnya.
“Iya. Bidadari soko endi kuwi, Kang?”
“Saya dari Desa Siwalingga. Saya tidak punya identitas karena saya belum pernah membuat kartu tanda pengenal atau apa pun semacamnya,” sambung Putri lagi.
“Oh, oh, anu ya, Dek. Kamu tinggalnya di pelosok?” tanya Pak RT menerbitkan senyum lebar-lebar seraya mengusap-usap rambut, memastikan bentuknya masih tetap rapi.
Julia dan bayu yang duduk bersebelahan seketika saling menyenggol dan memeleotkan bibir.
“Iya, di pelosok. Beberapa ratus tahun lalu, jadi belum ada peraturan seperti itu,” jawab Putri yang malah dibalas kekehan oleh orang-orang itu. Dikira apa yang dikatakannya adalah sebuah candaan.
“Selain manis, ayu, dia juga suka bercanda, toh? Hahaha ...,” puji Pak RT sambil tertawa lagi. Sementara bayu dan Julia hanya melemparkan senyum. Dasar laki-laki! Tidak bisa lihat barang bening sedikit saja.
“Ya sudah, siapa namamu?”
“Saya Roro Putri Ageng,” jawab Putri.
“Koyok namane ratu-ratu jaman mbiyen, podo podo karo nganu, sopo kae mmm—”
“Roro Jonggrang! Iyo, Roro Jonggrang,” gumam Pak RT dan yang lainnya.
“Siwalingga yo, Dek. Saya baru dengar itu.”
Putri hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum samar.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka meninggalkan rumah Bayu. Selesai sudah masalah mereka. Mengingat waktu sudah mulai siang, akhirnya Bayu memutuskan untuk berangkat ke Bengkel.
“Aku berangkat dulu, ya? Nanti siang setelah bakda Zuhur aku jemput kamu. Kita pergi ke Klinik.”
“Iya,” jawab Putri.
“Cup!” kecupan mendarat di kening Putri yang tidak lebih tinggi darinya tersebut.
“Bayu ...,” panggil Julia dari dalam. Ternyata diam-diam sedang mengamatinya dari tadi. Bayu pikir tidak. “Berani kau ya? Sama Ibu yang sudah membesarkanmu, kau lupa. Sama Putri yang baru kenal dipamitin, dicium pula!”
“Hahaha ....” Bayu terbahak sambil berlalu pergi. Begitu juga Putri yang terlihat salah tingkah.
__ADS_1