
Bayu tergolek lemas di kamar yang sedang ia tempati saat ini. Dia merenungi kesia-siaannya datang kemari. Sampai berkorban nyawa dia mencari cinta. Tidak ada lagi kata yang lebih tepat daripada kata ‘bodoh’ dan ia memang pantas dikatakan seperti itu. Lalu apa gunanya dia harus tidur sini. Tidak ada gunanya sama sekali.
Apa arti cinta bagi seorang Tuan Putri seperti dia? Karena bagi seorang laki-laki sepertinya, kesucian yang pernah diberikan adalah sebagai bukti cinta yang paling besar. Dan hanya kepada Putrilah, kedewasaannya dipancarkan untuk pertama kali. Besar harapannya bagi Bayu agar Putri mau mengungkakan perasaannya. Atau dia memang hanya ingin mempermainkan perasaannya saja?
Ah, memikirkan itu membuat kepalanya menjadi pening. Lantaran bosan, Bayu mencoba untuk membuka pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa di luar selain penjaga dan para dayang yang bersliweran; mungkin sedang menyiapkan pesta yang akan dilaksanakan.
“Ada apa, Den? Apa Raden membutuhkan sesuatu biar kami ambilkan?” tanya salah satu Dayang.
“Kapan Roro ke sini lagi Dayang, aku mau pulang,” kata Bayu.
“Tapi Raden, Den Ayu berpesan agar Raden tetap di sini sampai hari pernikahan.”
Bayu berdecak. Tentu saja dia tahu bahwa Putri akan menikah. Tapi kenapa ia harus mendengarkannya berkali-kali. Coba pikirkan saja, mana ada lelaki yang sanggup melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan orang lain. Bodoh. Mengesalkan!
__ADS_1
“Tapi aku tetap harus pergi, Dayang. Sampaikan salamku kepada Tuanmu. Akan aku tinggalkan pesan nanti lewat surat.” Namun baru saja Bayu berucap demikian, Dayang segera menariknya masuk ke dalam ruangan. Dayang itu juga berkali-kali melarangnya agar tak bersuara. “Iya tapi kenapa?” tanya Bayu terdengar menuntut.
“Ada Pangeran Hanung sedang lewat di hadapan Raden,” katanya dengan raut wajah yang panik. Lantas menunjukkan seseorang yang sedang lewat di jalanan umum bersama seorang panglima. Seorang Pangeran berpakaian kerajaan, warna kulitnya kuning langsat tubuhnya gagah menjulang dengan wajah yang tegas dan bibir yang tipis. Jangan lupakan jambangnya yang sedikit membingkai. Bayu refleks melihat tubuh sendiri yang sangat terlihat jelas perbedaannya. Apalah dirinya bila dibandingkan dengan laki-laki itu. Eits, tapi bayu tidak berkecil hati, dia telah mendapatkannya terlebih dahulu. Silahkan nikmati sisanya! Batin Bayu mengumpat.
“Dia calon Tuan Putrimu?” tanya Bayu memastikan.
“Iya, begitu Raden. Rombongan baru saja tiba tadi. Pengantin laki-laki datang lebih awal agar besok tidak terlambat. Sebab perjalanannya sangat jauh.”
“Sampai kapan kita bersembunyi di sini, Dayang?” tanya Bayu.
“Aku tahu aku jelek. Kau boleh mengatakannya dengan jujur,” kata Bayu merasa rendah diri.
“Ya, jujur memang menyakitkan,” jawab Dayang itu, kemudian kembali berujar, “Sebaiknya ganti saja pakaian Raden supaya mereka mengira Raden sama dengan kami. Seperti itu mungkin lebih baik daripada Raden terus menerus bersembunyi.”
__ADS_1
“Lalu?” tanya Bayu mengernyit. “Nanti apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu aku harus bagaimana.”
“Raden tidak perlu melakukan apa pun. Cukup melakukan perintah saja.”
“Baiklah,” jawab Bayu akhirnya. Setelah digantikan bajunya oleh Dayang—akhirnya Bayu keluar dengan pakaian mirip seorang prajurit. “Lihatlah, aku tidak kalah tampan dengan Pangeranmu!” katanya seraya bersungut-sungut.
Malam itu ia bisa dengan bebas berkeliaran untuk memahami sekitar. Namun di tengah-tengah kerajaan yang sangat luas itu dia berhenti di sebuah tempat di mana Pangeran Hanung berada. Dia sedang berkumpul di pendopo bersama dua orang lainnya. Tampaknya sedang membahas sesuatu.
Sebenarnya ia tidak benar-benar ingin menguping pembicaraan mereka. Namun dia berhenti pada saat obrolan itu mengarah kepada kerajaan ini dan menyebut-nyebut nama Roro Ageng. Mempunyai telinga yang pendengarannya puluhan kali lebih tajam sebenarnya tak selamanya mengganggu. Ada kalanya telinga ajaib itu sangat dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu—seperti sekarang ini misalnya.
“Tentu saja kerajaan ini akan jadi milikku. Roro Ageng besok akan aku nikahi. Kelak jika aku sudah diberi kesempatan untuk memimpin, aku akan jemput kedua selirku ke tempat ini. Aku bisa dengan bebas memilih perempuan yang mana setiap malamnya,” kata Pangeran Hanung dengan suara bangga.
“Itu terdengar sangat menyenangkan!” sahut yang lain. “Tapi kau harus menyingkirkan Prabu Dharmawangsa dulu agar tidak ada yang dapat menghalangimu.”
__ADS_1
“Ada banyak cara untuk menghabisinya!” kata Pangeran Hanung lagi.
“Jangan kotori tangan kita, Kakanda. Racuni saja dia. Tidak akan lama pasti akan mati.”