
“Siapa yang melakukan ini, putriku?”
“Aku yang melakukannya hahaha ....” Seorang lelaki mendekat setelah merasa berhasil menumbangkan Bayu yang tergeletak di tanah agak jauh dari Roro terluka. “Seharusnya kau yang mati, Prabu. Agar kerajaan ini dapat aku kuasai.”
“Lancang kau Hanung! Seharusnya dari awal aku tak pernah mengizinkan kau masuk ke dalam kehidupanku!” seru Prabu. “Jangan kau pikir kau bisa melakukannya, langkahi dulu mayat ku!”
“Tidak ada yang dapat mengalahkan ku, Prabu. Pemuda yang hebat itu sudah mati di tanganku. Aku yakin kekuatanmu pun tidak lebih hebat daripada itu. Apalagi kau sudah tua. Tanpa aku bunuh pun mungkin sebentar lagi akan mati.” Hanung tertawa dengan sombong.
“Aku yang akan mengalahkan mu!” seru Bayu yang kembali bangkit. Hanung langsung terhenyak ketika mendapati Bayu yang ternyata masih hidup setelah ia hancurkan dengan kekuatannya. Lantas keduanya kembali berkelahi yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
“Roro, anakku ....” Ibunda Ratu Saraswati keluar bersama Prabu Airlangga dan juga tabib. “Bertahanlah, kami sangat mencintaimu.”
“Maafkan aku, Ibunda, Ayahanda, tapi aku sudah tidak kuat ....”
“Biar coba aku tangani.” Tabib mendekat membawa serta ramuan-ramuan dan juga dedaunan sebagai obat. Lantas mencabut panah yang menancap di tubuh Sang Tuan Putri. Semua orang yang ada di situ, ikut hancur melihat Roro amat kesakitan.
“Kita bawa ke dalam!” kata Tabib. “Akan aku obati di sana.”
Ayahanda Prabu langsung menggendong putrinya ke dalam.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, pertarungan masih berlangsung dan terlihat imbang. Bukan Bayu tidak kuat, melainkan karena belum terlatih. Namun kali ini ia kembali kalah, sebab tubuhnya telah lemah dan hampir keseluruhan tenaganya hampir hilang. Bayu hanya bisa pasrah kalau memang ia ditakdirkan mati di sini. Setidaknya dia bukan pengecut yang mundur dalam peperangan karena jiwa seorang ksatria bukan demikian.
“Sepertinya kemenangan tetap menjadi milikku, wahai kaum lemah!” kata Hanung berdiri menjulang di hadapannya yang tergolek lemas sembari memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri.
“Selamanya orang jahat tidak akan menang, meski kau mengalahkan ku, kau tetap tidak bisa mengalahkan kebenaran,” balasnya.
“Tapi kenyataannya, kau akan mati juga. Omongan mu hanyalah sampah!”
“Kaulah kotoran sampah yang sesungguhnya!” seru Bayu. “Seharusnya makhluk sepertimu tidak usah diciptakan karena keberadaan mu tak lain hanya akan merusak dunia.”
“Hahaha ... omong kosong!”
Tapi tunggu! Bayu bangkit dan melihat-lihat keris yang menancap itu. Ya, dia mengenalinya! Keris itu adalah keris yang ia serahkan kepada Nawang untuk ia titipkan kepada anaknya nanti.
Beberapa saat kemudian, Bayu terperanjat saat muncul anak kecil kisaran usia tiga tahun dari balik pohon. Dia tersenyum dan berjalan mendekat.
“Kau anak ajaib, apakah kau yang melakukannya?” tanya Bayu dengan tatapan takjub.
Anak itu tak menjawab dan malah justru menunjuk sosok lelaki berjanggut putih dan berpakaian serba putih.
__ADS_1
Bayu tersenyum dan mengangguk kepada sosok itu. “Salam saya, Pak Tua ....”
“Roro Putri biasa memanggilku Guru,” katanya memberitahu. Oh, jadi beliau yang biasa Putri panggil Guru?
“Terima kasih atas pertolongannya, Guru. Namaku Bayu. Bukan berasal dari sini.”
“Aku sudah mengetahuinya dari murid ku,” kata Guru lagi.
Oh, jadi roro Putri telah menceritakannya? Lantas Bayu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu beralih kepada anak kecil itu yang sedari tadi menjadi ganjalannya, “Namamu siapa?”
“Bayu,” katanya menjawab dan memamerkan giginya yang ompong.
“Eh, nama kita sama!” seru Bayu seraya menatapnya takjub. Lantas kemudian Bayu bertanya lagi, “Nama Ibumu siapa?”
“Ibunda Nawang.”
“Hah!?” Bayu terkejut hingga tubuhnya sedikit mundur ke belakang. Bagaimana mungkin?
Bersambung
__ADS_1