
Baru sejenak bahagia, kini kehidupan harus berubah lagi. Demikianlah yang sedang Bayu rasakan. Namun, dia yang hampir putus asa, bisa apa selain menerima?
Hanya selang beberapa tahun saja, dia sudah kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Yang keduanya adalah perempuan yang teramat Bayu sayangi.
Hari ini adalah ulang tahun Bayu tepat yang ke dua puluh tujuh tahun. Julia sudah membuat nasi tumpeng untuk syukuran ulang tahun anaknya di bengkelnya dekat rumah. Agar Bayu bisa merayakannya bersama teman-temannya. Kebetulan di sini masih ada teman Bayu lengkap; Kampleng, Koreng, dan Halim.
Mungkin ini terdengar aneh. Ketiganya tidak mau terpisahkan meskipun Bayu sudah menawarkan mereka menjadi kepala cabang di tempat lain--yang gajinya lumayan lebih besar daripada hanya menjadi mekanik biasa. Mereka ingin stay di sini sampai kiamat katanya. Ada-ada saja.
Kampleng dan Koreng sudah menikah, belum lama ini. Halim pun sudah, istrinya malah sedang hamil. Hanya Bayu saja yang masih sendiri di sini.
"Mau aku bantu carikan nggak, Yu?" Kampleng menawarkan, "kamu mau yang seperti apa sih? Kasih tau speknya."
"Belum minat," jawab Bayu menanggapi tawaran temannya itu, "sakit yang kemarin saja masih terasa sampai ubun-ubun. Patah hati bikin susah pikiran, susah tidur, susah makan."
"Jangan dipikirkan terus makanya."
"Kalau cuma ngomong mah gampang, Pleng. Yang melakukan yang susah. Bayangin saja kalau istrimu sekarang mati."
"Hush!" Kampleng menutup telinga Bayu dengan tangannya. Dasar bodoh!
"Salah, Pleng. Masa yang kamu tutup telingaku." Bayu terkekeh. "Gimana? Baru dibilang begitu saja kamu sudah panik. Apalagi kalau istrimu mati beneran? Aku jamin kamu pasti guling-guling tujuh hari tujuh malam."
"Jangan bahas bini mati lagi, lah." Kampleng menyerah. Ia yang segitu bucinnya dengan sang istri tak akan mungkin sanggup apabila hal demikian juga terjadi padanya. Banyak sekali harapan yang sudah mereka rancang bersama dan sedang mereka wujudkan.
"Eh, itu Ibu datang," ucap Bayu saat melihat Julia turun dari sebuah mobil bersama Koreng yang membawa tampah besar berisi tumpeng di tangannya. Bahkan bukan hanya itu saja, masih banyak yang lain yang mereka bantu turunkan dari bagasi mobil. Sejumlah makanan yang enak-enak.
"Selamat ulang tahuuuuun!" seru Julia dari depan saat melihat sang anak.
"Sampai lupa. Aku hari ini ulang tahun, ya?" kekeh Bayu. Sepertinya ia sudah terlalu lama merenung hingga hari ulang tahunnya pun tak ingat.
"Ishh, makan-makan kitalah, Wa..." Kampleng langsung mendekat, lalu dengan lancangnya mengambil potongan tempe goreng yang ada di tampah sehingga semuanya sontak berteriak.
"Dasar celamit! Belum juga di doain udah main comot aja!"
Kampleng tak peduli. Makanan itu sudah masuk ke mulutnya dan sedang ia kunyah sampai habis. "Enak, Bu. Emang Ibu Julia ini pandai sekali masak," katanya seperti tanpa dosa.
"Jangan percaya dengan pujiannya, Bu. Mulut buaya," Loreng menyahuti, "Lu mah, bukan lapar, Pleng. Tapi emang rakus."
Julia hanya tersenyum. Wanita yang kini sudah tampil modis daripada sebelumnya itu membuka plastik yang membungkus tumpengnya. "Sudah tidak apa-apa. Toh, tumpengnya nanti mau di makan juga. Yuk, pimpin doa siapa yang bisa?"
Halim mengacungkan tangan dan langsung mengucap, "Au isa, ismiaaahiomaaniohimmm."
__ADS_1
"Dahlah terserah kau!" ujar Kampleng setengah putus asa mendengar Halim berdoa. Sedangkan yang lain malah terpingkal-pingkal. Kasihan sebetulnya. Tapi sungguh, mereka tidak sedang bermaksud menghina, hanya merasa lucu saja dengan cara bicaranya.
Singkat cerita, setelah doa dipanjatkan, semuanya dipersilakan untuk makan nasi tumpeng. Bukan hanya karyawan saja, bahkan orang yang kebetulan tengah menyervis motornya di sana pun ikutan kenyang juga.
"Semoga berkah ya, Pak, Bu. Semoga semakin bertambahnya usia, semakin berkah hidupnya. Bahagia dunia akhirat," ujar salah seorang mendoakan Bayu dan ibunya.
"Iya, Pak... aamiin, terima kasih doanya," jawab Bayu.
"Selamat ultah ya, Yu. Aku tak punya doa khusus kecuali semoga kau cepat diberikan jodoh lagi," ujar Loreng memeluk tubuh Bayu.
"Makasih Bro."
Pun dengan yang lain. Mereka mendoakan teman sekaligus sahabatnya itu secara bergantian. Tak terkecuali Julia yang mendoakannya sebagai seorang ibu yang selalu mengharapkan kesuksesan hidup anaknya. Baik dari segi harta, kebaikan, akhiratnya dan yang pasti... kisah percintaannya yang masih belum beruntung.
"Tidak ada yang bisa saya sampaikan untuk teman-teman selain ucapan terima kasih, atas semua doa-doa baik kalian. Silakan nikmati hidangan yang tersedia," ucap Bayu secara sederhana.
Bengkel tampak ramai. Semuanya bersorak menikmati bahagianya hidup mereka di sini. Tapi entah kenapa... Bayu tetap saja merasa sepi sendiri.
Sungguh... perasaan ini begitu menyiksa.
***
"Tidak apa. Rasanya sepi."
"Tanda-tanda itu mah."
"Tanda-tanda apa?" tanya Bayu segera.
"Tanda-tanda kamu mau sakit jiwa," celetuknya membuat Bayu murka hingga mengeplak kepalanya berkali kali.
"Sembarangan, lu ngatain sakit jiwa! Djantjuk!"
Plak! plak! Plak!
Bayu terus memukulinya sampai hatinya puas. Bahkan hingga pria itu berulang kali mengaduh meminta ampun padanya.
"Habis kamu begitu terus," jawab Kampleng setelah beberapa saat kemudian. Namun detik berikutnya, dia tiba-tiba diam. Dia seperti menajamkan telinganya untuk mendengarkan sesuatu.
"Ada apa, Pleng?"
"Aku dengar suara gamelan, Yu," jawabnya.
__ADS_1
"Lah, itu kan biasa. Desa sebelah suka ngadain latihan."
"Tapi sepertinya ini bukan latihan." Kampleng merasa alunannya kali ini lebih enak dan lebih bisa di dengar daripada biasanya. Ya, sepertinya ini memang bukan latihan, tapi memang acara sungguhan.
"Ya sudah biarkan saja memangnya kenapa?" Bayu tak ambil pusing dengan apa yang terjadi di sana. Emangnya dia pikirin?
"Pengen nonton, Yu."
Bayu melirik sebal. "Jangan bilang kalau kau minta ditemani, ya. Aku tidak mau!" Bayu menolak sebelum Kampleng memintanya. Ia sungguh malas betul melihat gelagat temannya. Sudah punya istri, tapi masih saja jelalatan. Bayu paham, pasti di sana nanti banyak cewek cantik yang bisa memanjakan matanya.
Kampleng yang pada saat itu sedang merokok segera mematikan apinya. Gitar yang sedang di mainkannya pun tak jadi dia mainkan. Kalau sudah begini, Bayu jadi curiga.
Nyata. Pada saat lengah, teman brengseknya itu menariknya ke atas motornya. "Ayo naikkk!"
"Tidak mau, brengsekkk!" Bayu dengan sekuat tenaga memberontak. Namun kali ini dia kalah karena ia merasa tenaga Kampleng lebih besar daripada tenaganya. "Dasar brengsekkk!" memaki kesal dan memukuli kepalanya seperti biasa. Untung tempurung kepala Kampleng kuat. Coba kalau tidak, pasti sudah gegar otak.
"Kita nontoooon, Broooo!" seru Kampleng begitu puas karena berhasil menaikkan Bayu ke atas motornya. Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi dan bikin kuping jebol orang-orang di sekitarnya karena suara kenalpotnya yang begitu berisik.
Namun begitu, Kampleng hanya inginkan yang terbaik. Dia ingin menghibur temannya yang satu ini. Sungguh ia bosan sekali melihat Bayu murung terus setelah ditinggal mati istrinya. Seolah-olah hanya dirinyalah yang paling menderita di dunia. Padahal masih banyak kebahagiaan lain yang menunggunya di luar sana. Dasar bodoh!
"Dasar orang gila! Orang sinting!" Bayu memaki-maki dan mengumpatnya dengan bahasa kotor. Memang Si Kampleng ini nakalnya tidak ada duanya.
Tak berapa lama, mereka pun sampai dilokasi. Benar, di sana memang ada pentas seni langen sari. Sangat banyak orang yang menonton hingga jalanan penuh dengan motor yang terparkir. Mereka pun kebingungan mencari tempat untuk memarkirkan motornya.
Awalnya, Bayu memang tak sudi ke sini. Bahkan sampai sekarang pun dia masih memaki-maki temannya itu. Masih muda kok, nonton beginian katanya. Ketinggalan zaman sekali.
"Orang muda itu harusnya ke diskotik! Di sana ceweknya muda-muda semua. Cantik-cantik pula. Bukan malah ke sini nonton emak-emak buntelan goyang di atas panggung!" serampangan Bayu berkata seperti itu. Namun demikian sebelum dia melihat seseorang yang begitu dia kenali di atas panggung sana.
Seorang wanita cantik yang tengah menampakkan senyum manisnya dan berlenggak-lenggok menampilkan kesempurnaan tubuh yang dia miliki. Bayu tidak akan pernah lupa sosok itu... sosok yang sering datang dalam mimpinya.
Deg....
Tatap mereka tak sengaja saling bertemu sekian detik. Anehnya, dia seperti tak mengenalinya lagi.
Apa perpisahan mereka selama ini telah membuat dia melupakan semuanya? Tapi kenapa Bayu tidak?
Bahkan debaran jantungnya saat ini pun terdengar menggila walau hanya melihatnya dari kejauhan saja.
Siapa dia sebenarnya? Apa benar itu....
Bersambung
__ADS_1