
Telah banyak yang Bayu lalui setelah tahun-tahun berat ini berlalu. Sekarang usianya sudah menginjak ke dua puluh lima tahun. Yang ada di pikiran Bayu saat ini bukan lagi melulu soal cinta, tapi lebih ke masa depan yang akan dijalaninya kelak.
Seiring berjalannya waktu, dengan keseriusannya, dia telah mengubah nasibnya menjadi seseorang yang lebih baik. Lulusan mekanik mengantarkannya menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses di desanya. Berawal dari meneruskan bengkel Pakdhe nya yang telah meninggal, kini dia sudah berhasil membuka cabang lain di daerah yang berbeda.
Rumah Bayu bukan lagi gubuk yang reot, tetapi bangunan tembok yang cukup kokoh terdiri dari dua lantai. Kendaraan Bayu bukan lagi motor butut yang bunyinya bikin bising kuping orang, tetapi kendaraan roda empat yang halus bunyinya. Semangat dalam dirinya begitu berkobar demi kebahagiaan seorang ibu yang telah melakukan segala-galanya untuknya. Betapa Julia bangga terhadap anaknya. Tidak sia-sia dia dalam mendidik putranya susah payah seorang diri.
Lihatlah, patah hati tak selalu membuat seseorang menjadi terpuruk. Justru karena patah hati inilah yang membuat Bayu akhirnya maju menjadi orang yang lebih baik, lebih waras dan bersemangat.
Namun, sebagai orang tua, Julia tak melulu memikirkan kesuksesan anak. Sebab kesuksesan seseorang tidaklah berarti apa-apa bagi mereka jika tak mempunyai cinta. Dan untuk saat ini... yang Julia khawatirkan adalah soal oriental sek sual sang anak. Sebab sampai sekarang, Bayu masih sendiri. Tidak pernah terlihat adanya tanda-tanda kembali menyukai perempuan. Julia takut, sesuatu terjadi pada anaknya setelah patah hati beberapa tahun lalu dan membuatnya salah arah, atau kata lain menyimpang dari yang seharusnya. Ya, demikianlah yang menjadi ganjalan di hati Julia. Nauzubillah. Tapi sepertinya Julia terlalu berlebih-lebihan. Bayu tidak mungkin seperti itu.
“Jadi Ibu menuduhku ho mo?” tanya Bayu saat di cecar berbagai pertanyaan oleh ibunya, “sembarangan saja. Bayu masih normal!” katanya menekan.
“Kalau begitu, kenapa kau tak kunjung mempunyai pacar? Atau mengenalkan teman wanitamu ke sini?”
“Aku masih ingin sendiri. Aku lebih betah sendiri,” jawab Bayu tanpa berterus-terang. Sesungguhnya melupakan mantan itu tidaklah mudah. Apalagi kalau sudah pernah....
“Tapi kau sudah dewasa, Yu. Kampleng dan teman-temannya pun sudah menikah. Halim saja yang bibirnya sumbing sudah bisa bikin anak dia!” Julia tidak jauh beda dengan emak-emak lainnya. Dia suka membanding-bandingkan anaknya dengan anak tetangga yang dilihatnya lebih baik.
“Memangnya nikah hanya untuk punya anak? Menikah itu buat sekali seumur hidup, jadi harus benar-benar hati-hati memilihnya. Kalau salah, bisa cerai di jalan dan bikin aku jadi semakin trauma,” papar Bayu menurut sudut pandangnya.
“Iya, tapi kan Ibu sudah tua... Ibu ini sudah kepingin gendong cucu, lho....”
__ADS_1
“Apa mau Bayu ambilkan anak di panti asuhan buat teman Ibu di sini? Biar tidak kesepian lagi?” tawar Bayu dengan ide cemerlangnya.
“Aku mau darahmu, Yu! Bukan anak hasil persilangan dari orang lain.”
“Lho, semua anak kan, suci, Bu.”
“Tidak mau, Yu! Pokoknya kau harus menikah, aku hanya ingin punya cucu darimu, titik!”
“Aku pasti menikah, tapi bukan sekarang ya, Bu. Pacar saja belum punya. Cari calon istri itu tidak semudah yang Ibu pikirkan.”
“Yu...” panggil Ibunya sambil senyum-senyum mencurigakan.
Bayu khawatir. Waduhhh, punya rencana apalagi wanita ini? Batinnya ketar-ketir. Ibunya sering mempunyai ide-ide yang aneh menurutnya. Ide yang terkadang bikin dia sakit kepala.
Darrr!
Terkejutnya Bayu melebihi mendengar suara petir yang menyambar di siang bolong.
Benar, kan? Apa dugaannya?
Liana, oh, Liana....
__ADS_1
^^^
Perkataan ibunya siang tadi membuat Bayu pusing tujuh keliling. Dia ingin melamarkan Liana untuknya, katanya. Ah, yang benar saja!
Melamar Liana? Ha? Satu hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya, melamar wanita itu, apalagi menikahinya. Mungkin Liana pernah menyukainya. Tapi dirinya? Bayu sudah pernah mencoba dan dia tak bisa melakukannya. Apa nantinya juga akan seperti itu?
Ah, Ibu... apa-apaan, sih?
Belum tentu juga Liana mau menerima lamarannya nanti. Atau paling-paling, dia juga sudah mempunyai pujaan hati yang baru.
Lagi pula, pernah suka padanya itu zaman kapan? Ini sudah 2018, lima tahun sudah berlalu. Hati sama dengan kertas. Kalau dibiarkan pasti lama-lama akan memudar juga.
Tak sampai dua hari, ibunya datang menghampiri ke kamarnya. Julia mengatakan bahwa lamarannya akan di laksanakan hari ini. Entah kapan wanita itu bersiap-siap. Semua hamparan sudah tertata rapi di ruang tamu. Siap untuk di antar kan ke rumah wanita yang akan di lamar nya.
“Kamu pakai baju yang ini, Yu. Biar nanti seragaman sama Liana. Biar keren kalau difoto,” kata Julia menempelkan potongan baju ke tubuh Bayu yang sudah lebih besar daripada dulu. Keren, lebih putih bersih dan maco. Ah, dia memang sudah menjadi laki-laki dewasa yang matang, mapan dan tampan. Siapa pun tidak akan bisa menolak pesonanya.
“Kita belum bicara apa-apa loh, Bu,” ucap Bayu kemudian.
“Bicaralah nanti setelah lamaran. Ya?”
Bayu hanya menghela napasnya. Dia hanya menuruti saja ke mana ibunya dan keluarganya membawanya.
__ADS_1
Satu hal yang bikin Bayu bingung. Liana tidak menolak saat ibunya memberi kabar bahwa dia akan melamar. Apa berarti Liana juga mengharapkannya?
“Apa benar aku jodohnya Liana?” batin Bayu tak percaya.