
Para prajurit menyingkir memberi celah pada saat Bayu dipersilahkan masuk oleh kekasihnya. Roro Putri Ageng. Bayu masih tersenyum menatap lekat-lekat perempuan yang kini masih tersenyum menyambutnya. Namun sebelum ia masuk ke dalam gerbang istana, Sang Putri memerintahkan prajuritnya untuk membawa kuda yang Bayu bawa ke tempat khusus.
“Kau mau bawa aku ke mana?” tanya Bayu karena rasanya tak kunjung berhenti Putri membawanya. Melewati beberapa ruang yang tak Bayu ketahui ruangan apa saja itu. Pula melewati beberapa dayang perempuan yang setia menundukkan kepalanya ketika berpapasan dengan Tuan Putrinya.
“Aku akan membawamu ke Kaputren. Aku takut Ayahandaku tahu.”
“Tentu mereka akan tahu, di sini bukan hanya aku dan kau saja.”
“Aku sudah memerintahkan mereka untuk menutup mulut,” kata Putri lagi.
“Nah, ini istanaku,” kata Putri setelah mereka sampai di Kaputrennya. Bayu menatap ke sekeliling. Sangat indah dan rapi sekali. Luas. Dan pastinya sangat menyejukkan mata.
__ADS_1
“Dayang! Dayang!” panggil Putri kepada para Dayang yang selalu siap untuk diperintahnya.
“Iya, Den Ayu. Ada yang bisa kami bantu ...,” jawab salah satu Dayang seraya menundukkan kepalanya.
“Pastikan keadaan aman, aku tidak ingin Ayahandaku tahu Bayu ada di sini. Kami sedang mempunyai kepentingan. Kau mengerti Dayang?” tegas Putri. Dan Dayang kembali mengangguk mengerti. Sebelumnya—memang tidak pernah Putri memasukkan seorang laki-laki ke dalam Kaputrennya. Ya, tidak pernah. Bahkan calon suaminya sendiri pun. Prabu akan sangat marah dan menghukumnya kalau beliau tahu kenakalan ini.
Putri mengarahkan Bayu untuk pergi ke tempat yang paling belakang. “Kita duduk di sana saja,” kata Putri menunjuk ke kursi kayu yang menghadap ke kiblat. Hari sudah mulai sore dan langit mulai terlihat menguning.
Setelah keduanya duduk, keduanya saling menatap. Lantas, Bayu terlebih dahulu memulai pembicaraan. “Aku tidak mengerti kenapa kau meninggalkanku begitu saja. Kau kejam Putri. Aku hampir gila terus memikirkanmu.”
“Tentu saja kau harus menjelaskannya!” tak sampai hati Bayu mengatakannya. Bayu tidak akan pernah bisa marah kepada perempuan secantik ini. Sebesar apa pun kesalahannya.
__ADS_1
Sebelumnya maafkan aku Bayu,” ucap Putri penuh rasa bersalah. “Pada malam purnama itu—lebih tepatnya sebelum aku pergi, aku berdoa dengan khusyuk memanggil seorang guru yang baru aku ingat lagi cara memanggilnya. Jika boleh ku katakan, hidup di masa depan membuatku jadi bodoh dan lemah. Kau masih ingat ‘kan? Aku sampai sakit juga. Sebelumnya aku tidak pernah sakit-sakitan.”
Bayu masih diam, sebab menyimak ucapannya.
“Malam itu ternyata panggilanku di dengar olehnya. Beliau datang dengan membawa pilihan. Ikut bersamanya atau tidak akan perah kembali ke duniamu. Tidak ada lain yang kupikirkan waktu itu selain bisa pergi bersamanya. Karena aku merindukan keluargaku. Aku diberi kesempatan untuk mengulang waktu agar keluarga kami tak terpisah lagi dan kerajaan Siwalingga ini akan tetap ada. Selamanya.”
“Lalu kau tidak memikirkan perasaanku? Ibuku juga sangat kehilanganmu, dia sangat mencintaimu, Putri, sama sepertiku mencintaimu.” Sembur Bayu.
“Bukan—bukan begitu.” Putri menggeleng tak menyetujui ucapannya. “Aku hanya bingung memilih di antara keduanya. Hingga pada akhirnya aku memilih untuk menetap di sini. Melanjutkan cerita dongeng yang seharusnya tidak berakhir tragis seperti itu, Bayu. Masa laluku belum aku selesaikan. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”
“Ya, lagi pula memang sudah sepantasnya kau menikah dengan seorang Pangeran yang sama kedudukannya denganmu. Aku hanya rakyat jelata, aku sadar diriku. Mungkin tidak sepadan bila kita bersanding.” Bayu tersenyum kecut.
__ADS_1
“Bukan masalah derajat. Aku tidak pernah melihat seseorang dari sudut pandang demikian. Kita sudah berbeda dimensi, aku sudah putuskan menetap di sini dan tidak akan pernah kembali ke masamu, masa di mana kau hidup.”
“Apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa memilikimu? Kau tentu tahu perasaan ini. Aku begitu tersiksa ....” Bayu menatapnya dengan sorot mata sayu. Batinnya penuh harap. “Tolong kasihani aku yang sudah datang ke sini. Aku menempuh perjalanan yang cukup jauh dan bertaruh nyawa demi dirimu,” katanya memohon dengan sangat putus asa.