
Malam purnama tiba. Bulan yang telah bulat sempurna itu berwarna kuning dan sinarnya menimpa wajah Roro Putri lewat celah-celah jendela yang sedikit tersibak tirainya. Setetes air mata bening menggenang di sudut matanya. Suara-suara binatang malam seperti derik-derik jangkrik seirama dengan desah dan lenguh kedua insan yang sedang melakukan penyatuan yang berakhir dengan saling berpelukan.
“Hanya hari ini, besok sudah tidak ada lagi ...,” kata Bayu dengan mata yang sama-sama menggenang, mengingat perpisahan mereka. “Maafkan aku.”
Entah maksud maaf yang seperti apa, namun Roro Putri menganggukinya. Dia menyentuh kepala Bayu dan mengusapnya perlahan.
“Aku menemukanmu, tapi justru menghancurkan duniamu,” kata Bayu lagi yang masih tak dimengerti olehnya. Lantas keduanya terlelap sampai matahari hendak menyingsing. Putri kembali ke Kaputren dengan berlari seperti semalam, melesat bak angin sebelum ada orang yang memergoki mereka.
Beberapa jam berlalu. Suasana istana Siwalingga sudah sangat ramai. Suara-suara gamelan mulai terdengar, mengalun pelan namun menyalurkan kepedihan. Bayu memejamkan mata untuk memperjelas pendengaran. Sayup-sayup suara Ibu memanggil namanya disertai dengan isak memintanya untuk pulang. Entah suara itu nyata atau sungguhan. Selanjutnya Bayu mengabaikannya.
__ADS_1
Bayu bersama rakyat-rakyat lain di aula pernikahan. Hati Bayu terasa nyeri menahan desakan yang sangat kuat tatkala melihat orang yang dicintainya akan bersanding dengan pria lain. Padahal beberapa jam lalu, mereka masih mesra.
Roro Putri tampak sangat cantik memakai kain sutera dengan mahkota yang bertengger di atas kepalanya. Sebentar lagi, Roro Putri bersanding dengan Sang Pangeran. Dan kini—mereka sudah duduk bersebelahan dan beberapa kali sempat saling menatap sekilas. Sesekali Roro Putri mencuri pandang ke arah Bayu yang kini setia menatapnya menahan perih.
Beberapa orang di dekatnya terdengar saling menyanjung sang Pangeran tanpa celah. Bahwa mereka adalah pasangan yang sangat cocok, pasangan sangat sempurna yang akan melahirkan banyak keturunan demi kemakmuran dan kemajuan Kerajaan ini ke depannya.
Cih. Bayu berdecak. Seringai jahat Hanung yang terlihat jelas di wajahnya pun tak ubahnya membuat mereka menyadari. Niscaya dia akan menghancurkanmu, wahai orang jadul. Bodoh!
Namun baru saja ia memejamkan matanya sebentar, seseorang menariknya cepat mundur sampai ke balik pepohonan besar yang ada di gerbang. Sangat cepat melesat menyerupai angin sehingga tak ada yang dapat melihatnya. Lantas ketika berhenti, seketika Bayu menoleh untuk melihat siapa pelaku. Tidak gamang pula Bayu langsung mendaratkan pukulan hingga terdengar pekikan tertahan.
__ADS_1
“Ini aku, ini aku ...,” katanya agak berbisik dan menaruh jari telunjuknya di bibir. Takut kalau-kalau seorang prajurit mendengarnya.
Bayu melihat Putri di bawah sedang memegangi bahunya yang tak sengaja terpukul. Bayu tak langsung menolongnya karena lebih dulu memastikan bahwa ia tak salah melihat. “Oh, ya ampun ternyata kau!” Bayu mengulurkan tangannya dan membantunya berdiri. “Kupikir bukan kau. Melainkan orang jahat. Makanya aku pukul.” Sambil melihat ke kanan dan ke kiri memastikan keadaan.
“Sakit ...,” rintihnya memegangi bahu.
Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maaf ... lagi pula ngapain kau datang ke sini. Semua orang akan mencarimu karena kau kabur dari pelaminan.”
“Aku sudah izin sebentar kepada Pangeran dan dayang mau pergi ke belakang.”
__ADS_1
“Tapi kalau lama?” Bayu menautkan alisnya. “Ini cukup berbahaya untukku, Put.”