
“Benar, dia putramu,” kata Guru yang lantas membuat Bayu semakin kaget. “Keris itu milikmu yang kau tinggalkan untuknya,” tambahnya lagi.
Mata Bayu langsung menggenang karena haru. Dia langsung berjongkok dan memeluk anak itu erat-erat. Dia seperti melihat miniatur dirinya. Secepat itukah kau tumbuh? Bayu bertanya-tanya lewat matanya. Sesungguhnya Bayu amat bingung. Tetapi inilah yang terjadi.
Setelah tahu kebenaran itu, Bayu tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaannya. Ia memang merasa seperti telah pergi bertahun-tahun lamanya karena merasa waktu di sini sangat lama sekali. Pertanyaannya adalah; apakah waktu itu ia telah tidur dengan makhluk gaib, sehingga begitu ia tinggal pergi anak ini langsung tumbuh begitu saja tanpa proses yang semestinya? Dan yang lebih mengejutkan lagi, bocah ini sudah tumbuh sebesar ini?
Tapi kalau dilihat-lihat tidak ada keanehan apa pun pada diri Nawang pada saat itu yang kelihatannya memang sama seperti dirinya. Perempuan itu melakukan apa pun dengan kedua tangannya tanpa sihir pula tak terlihat berubah; menjadi seekor siluman misalnya. Oh, ya ampun. Ini sangat ganjil sekali dan sangat tidak masuk akal bila dipikir dengan akal nalar.
Bayu juga sempat berpikir bahwa perkataan Guru itu salah atau mungkin bisa saja kejadian ini terjadi karena sebuah kebetulan. Tapi entahlah. Bayu tidak tahu dan enggan untuk memikirkannya! Yang terpenting saat ini dia tidak menolak jika pun memang benar.
Namun sesuai dengan perkataan Nawang waktu itu bahwa anak ini kelak akan menolongnya. Nyatanya memang benar terjadi. Tidak dapat di bayangkan apabila keris itu tak menancap ke jantung Pangeran Hanung. Niscaya dialah yang sudah mati terkapar di sana dengan sia-sia.
__ADS_1
Bayu beristirahat sebentar setelah anak itu kembali di angkut oleh Sang Guru dengan kudanya. Bocah itu melambaikan tangannya yang mungil seraya tersenyum menatapnya. Sungguh membius dan menyenangkan sekali tatapan seorang anak polos yang tak berdosa. Yang tanpa ia sadari, telah dapat menyamarkan rasa sakit yang bersarang di seluruh tubuh, terutama di bagian dada.
Tapi Putri? Prabu? Bagaimana keadaan mereka sekarang?
Hah, Bayu sampai lupa bahwa Sang Putri tengah terluka saat terakhir kali ia tinggalkan. Bayu segera beranjak melewati banyaknya tubuh-tubuh yang tergeletak akibat hentakkan kakinya. Entah masih hidup ataukah sudah mati dia tidak peduli. Tujuan utamanya adalah ke dalam istana untuk melihat keadaan kekasih hatinya. Semoga saja selesai di sini masalah ini. Dia sungguh sudah sangat lelah sekali.
“Syukurlah kau masih hidup!” kata seseorang yang berasal dari dalam, yakni Prabu Dharmawangsa. “Segera temui putriku. Dia—” ucapan itu tak terselesaikan lantaran Prabu menggeleng. Dari raut wajahnya, beliau begitu memancarkan kepedihan.
“Dia ingin kau segera menemuinya,” jawab Prabu tanpa menjelaskan hal lain.
“Baik, Prabu,” jawab Bayu lalu mengikuti di belakangnya menuju ke sebuah ruangan besar yang telah berkumpul semua anggota keluarga dan para sahabat.
__ADS_1
Bayu langsung terbelalak ketika mendapati Roro terbaring lemah. “Putri!” ucapnya langsung mendekat. “Tolong, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku ...,” kata Bayu amat memohon.
“Aku ikhlas bila memang takdirku begini, mungkin memang sudah seharusnya,” jawab Putri sangat lirih. Wanita itu sudah hampir putus asa karena rasa sakit yang begitu hebat menyerang keseluruhan tubuhnya. Keadaan ini begitu menyedihkan dan membuat pedih semua pasang mata yang berada di sana.
“Kau harus bertahan, Putri. Hanung sudah mati sekarang. Seseorang telah menolongku untuk membunuhnya. Makhluk yang telah membuat kerusakan, halal untuk dihabisi.”
Mendengar Pangeran Hanung mati membuat Prabu Airlangga membelalak. Lelaki yang masih gagah di sisa-sisa ketampanannya itu langsung berhambur keluar untuk menemui jasad putranya. Seburuk apa pun kelakuan putranya, Prabu Airlangga tidak dapat memungkiri bahwa Hanung adalah anaknya, dan darah mengalir di dalam tubuhnya. Maka dia perintahkan para pengikutnya untuk membawa jasad itu pulang agar bisa di makamkan dia secara layak.
Kembali kepada mereka yang berada di ruangan, Bayu masih mendampingi dan menggenggam tangan Roro Putri erat-erat.
“Kita sudah bisa menikah setelah ini.” Bayu menoleh kepada Sang Prabu; Ayahanda Roro untuk meminta izin meminang putrinya, “Prabu, apakah kau merestui kami? Dan bolehkah dia tinggal bersamaku di masa depan?”
__ADS_1
“Menikahlah,” jawab Prabu membuat kedua insan yang sedang jatuh cinta itu tersenyum bahagia. “Aku tidak akan menghalang-halangi putriku untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti kemarin, yang akhirnya berujung pada penyesalan,” jawab sang Prabu menyadari semua kesalahannya.