
“Hei, kau mau membawaku ke mana, Pleng?” tanya Bayu ketika keduanya sedang berada di perjalanan menuju ke suatu tempat.
“Kita mau ke rumah Ki Adiwerna. Orang tuaku pernah ke sana waktu adikku kesurupan. Sembuh dia sekarang dan tidak pernah kambuh lagi setelah beberapa kali datang.”
“Tapi aku ‘kan buka kesurupan, Pleng,” protes Bayu tidak terima. Dia bukan gila ataupun kesurupan seperti yang dibicarakan oleh Kampleng barusan. Ada-ada saja, pikirnya.
“Bukan—maksudku bukan sedang mengira kau kesurupan. Kau jangan salah paham dulu. Beliau bukan hanya menyembuhkan orang kesurupan saja, tetapi berbagai macam masalah serupa masalahmu. Tidak ada salahnya juga kalau kita berusaha.”
“Tempatnya jauh?” tanya Bayu.
“Tidak terlalu jauh dari pasar Anyoman, lebih tepatnya sebelah kiri.” Pasar Anyoman adalah pasar induk di desa itu. Pasar segala macam pasar, mulai dari sayuran, palawija, ikan-ikanan, sampai pasar burung.
“Perbuatan kita tidak termasuk sesat ‘kan? Kita mendatangi orang pintar, Pleng,” kata Bayu yang masih saja rewel. Meskipun Bayu bukan muslim yang taat, tetapi sedikitnya ia tahu larangan dan batasannya menjadi serang muslim.
“Kita datang ke sana ‘kan bukan untuk meminta jimat atau semacam pengasihan. Jadi mungkin itu tidak termasuk.”
Meskipun Bayu sepertinya kurang yakin, ia tetap mengikutinya.
Jalan raya kota pagi itu cukup ramai. Rumah-rumah dan ruko sudah terlihat saling berimpitan satu sama lain. Pertanda ekonomi di sana sudah semakin bagus. Kendaraan juga sudah semakin banyak dan sedikitnya mengakibatkan kemacetan. Namun mereka menghindari titik jalan raya yang sedang diadakan operasi polisi. Sebab, motor yang mereka pakai adalah motor bodong. Oleh sebab itu Kampleng mengarahkan motornya ke gang-gang milik warga, melewati pemakaman, melewati hutan pinus dan jembatan kali Sari yang amat luas serta mengerikan. Setelah sampai di tujuan—mereka turun dan disambut dengan baik oleh penjaga di sana.
Bayu menginjak lantai yang dingin, lantas melihat ke sekeliling yang kelihatannya—agak horor meskipun mereka tidak datang di waktu gelapnya malam. Dilihatnya, bangunan yang akan dimasuki, tercium bau kemenyan. Oh iya, dia juga melihat bekas kemenyan yang dibakar itu bentuknya sudah setinggi betisnya.
__ADS_1
“Kau yakin Pleng?” tanya Bayu agak ragu.
“Masuklah, sudah jauh-jauh datang ke sini, rugi kalau kau tidak masuk.”
“Aku tidak punya banyak uang, bagaimana kalau nanti mereka meminta banyak bayaran,” kata Bayu khawatir.
“Beliau hanya minta seikhlasnya. Ayolah, jangan ragu. Beliau orangnya sangat baik,” katanya lagi yang membuat Bayu akhirnya mengikuti Kampleng di belakangnya.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya aki-aki yang duduk dengan posisi kaki bersila. Rambutnya pendek dan memakai blangkon khas Jawa pada umumnya. Pun seragam dengan bajunya yang berwarna coklat bergaris-garis.
Bayu dan Kampleng duduk dan mengikuti cara duduk Ki Adiwerna.
“Nama saya Kampleng, Ki. Dan ini Bayu teman saya.”
“Kami dari desa Bangkalang selatan,” jawab Kampleng. Sementara Bayu hanya ikut mengangguk.
Ki Adiwerna tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Langsung saja, Ki. Kami hanya ingin mencari tahu, begini; Bayu pernah tersesat di bukit selatan atau bukit kidul. Entah bagaimana ceritanya, dia tersandung kotak besi dan membuat isinya keluar, yakni patung ini.” Kampleng menunjukkan benda itu. “Tapi, dia bilang perwujudan patung ini sebenarnya adalah Nyai Roro Ageng, dan saya juga sudah pernah melihatnya. Hanya saja—kemarin-kemarin, dia kembali berwujud seperti semula. Dan Bayu, sangat kehilangan dia, Ki. Apakah Aki percaya?”
“Berikan benda itu,” kata Ki Adiwerna meminta patung itu agar diberikan kepadanya. Setelah di letakkan di atas meja, Ki Adiwerna menyentuh dengan telapak tangannya dan mulai memejamkan mata. Mencari-cari petunjuk lewat mata batinnya.
__ADS_1
Ki Adiwerna mengucapkan mantra. Gerbang seakan terbuka luas. Memperlihatkan dunia lain yang sangat kuno; ratusan tahun silam. Bukan hanya itu, beliau juga melihat raja dalam peperangan sangat mengerikan yang membuat istana porak-poranda dan membuat darah-darah bertumpahan. Semua bayangan berputar sangat singkat namun berhenti dalam sekejap. Dia tidak bisa terlalu lama di sana, tubuh Ki Adiwerna terasa sakit sebagian.
“Dia memang benar adanya,” kata Ki Adiwerna, beliau membuka matanya setelah terdiam beberapa lama.
Bayu dan Kampleng saling pandang.
“Sulit dipercaya memang, tapi jangan pernah kau ceritakan hal ini kepada orang lain. Karena dapat menimbulkan praduga yang tidak-tidak. Atau lebih buruknya—mereka bisa menganggapmu orang yang tidak waras,” jelas Ki Adiwerna lagi. Lantas menatap Bayu dengan intens. “Ada banyak pesan dan suatu kejadian besar lewat dirimu nanti di masa depan. Itu jika kau bertekad pergi ke sana untuk menemui Sang Nyai.”
“Memangnya bisa?” tanya Bayu.
“Bisa, tapi perjalanan akan sangat lama dan jauh. Hanya bisa dilalui dengan seorang diri tanpa mengenakan apa pun kecuali raga. Itu pun dengan risiko yang cukup besar.”
“Apa Aki tahu tempatnya?” tanya Bayu lagi.
“Kerajaan Siwalingga itu sejatinya di dunia memang sudah tidak ada. Tenggelam di dasar tanah yang cukup dalam dari yang saya lihat. Lebih tepatnya tertimbun. Tapi di alam lain, mereka masih hidup seperti kita, dan hanya orang-orang tertentu yang dapat mengerti keadaannya, hanya saja—tempatnya memang sudah hancur ditelan masa dan juga akibat peperangan besar pada zamannya.”
“Apakah Nyai ada di sana?”
Ki Adiwerna mengangguk. “Dia ada di sana, sering memanggil namamu.”
Dada Bayu kembang kempis. Nafasnya terdengar lebih berat daripada sebelumnya. Hanya mendengar itu saja membuatnya sangat terbawa emosi. Seandainya ia tahu di mana tempat itu ada di mana, niscaya dia akan lari ke sana sekarang juga. Membawa kekasihnya kembali ke sini.
__ADS_1
“Aku ingin menyusulnya, Ki ...,” kata Bayu sangat lirih. Sementara Kampleng hanya mengusap-usap pundaknya.