Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Di Ambang Batasnya


__ADS_3

Seketika itu terjadilah peperangan hebat. Saling menyerang dan saling menumpahkan darah. Bayu ternganga karena baru kali ini melihat secara langsung huru-hara. Suara pedang berdenting-denting. Pekikan-pekikan terdengar geger dan membuat telinganya merasakan sakit. Sungguh inilah sebenar-benarnya perang. Dan oleh karena sebab itu, Bayu murka dan secara tak sengaja menghentakkan kakinya ke tanah. Dan tanpa di duga—terjadilah guncangan dahsyat dari kakinya ternyata membuat semua prajurit tumbang, entah mati atau hanya tak sadarkan diri.


Bagaimana bisa? Batin Prabu Dharmawangsa karena hanya orang-orang kuat yang bisa bertahan untuk tetap berdiri. Yakni, dirinya, beberapa panglima, Pangeran serta Romonya.


“Ternyata kau bukan orang biasa anak muda?” katanya berujar setelah terdiam beberapa saat. Semua orang yang tersisa menatapnya tanpa berkedip.


Bayu hanya diam lantaran sendirinya pun tak tahu menahu mengenai kekuatannya. Lelaki itu hanya melakukan sesuatu secara naluri.


Melihat kehebatan itu membuat Hanung merasa tertantang. “Aku ingin tahu seberapa kuat kau menghadapi ku.” Dia berdiri memasang tubuhnya yang kuat lalu memasang kuda-kuda dan menyusun strategi.


“Aku tidak takut denganmu, Pangeran Hanung!” kata Bayu. Lalu akhirnya terjadilah perkelahian hebat di antara dua lelaki itu.

__ADS_1


Bayu yang pada saat itu belum terlatih dengan kekuatan barunya, sempat tumbang beberapa kali. Namun ia masih bisa bangkit meski seraya menahan rasa sakit sampai mengeluarkan darah.


Melihat kedua pemuda itu sedang bertarung, kedua raja pun ikut pasang kuda-kuda dan mengeluarkan pedangnya. Namun kemudian mereka saling menatap sendu. Persahabatan ini sudah terjalin selama puluhan tahun lamanya. Haruskah hancur hanya karena sebuah kesalahpahaman? Sesungguhnya mereka sangat saling menyayangi melebihi saudara sendiri.


Prabu Dharmawangsa tiba-tiba memasukkan kembali pedangnya, “Sebenarnya—tidak seharusnya kita ikut berkelahi Prabu, itu sama sekali tidak perlu,” katanya setelah terdiam beberapa saat. Prabu Airlangga pun demikian. Dia memasukkan lagi senjatanya.


Prabu Airlangga mengangguk dan terdengar menghela nafasnya. Seketika dia merasa menyesal yang begitu dalam. “Kau benar Prabu. Memang ada yang salah dengan putraku seperti apa kata pemuda hebat itu. Putraku—adalah gambaran orang yang benar-benar buruk. Aku baru tahu hari ini. Salahku sendiri yang tidak terlalu mengenalinya. Selama ini, dia hanya berpura-pura di depanku menjaga kesantunan. Maaf aku yang terlalu mudah terhasut. Aku tidak akan membela yang salah, walaupun dia putraku.”


Prabu Dharma tersenyum lega, “Lalu ... bagaimana dengan mereka?”


“Apakah kau tidak ingin memelukku, sahabatku?” kata Prabu Dharmawangsa lagi.

__ADS_1


Prabu Airlangga tersenyum, lantas merentangkan tangannya. “Tentu saja. Kenapa tidak, kau tetap sahabatku. Sampai jannah-Nya!” akhirnya, kedua orang itu berpelukan dengan penuh kasih.


Namun karena terlalu bahagia dengan keadaan ini, mereka tampaknya tak menyadari saat anak panah melesat ke arah Prabu Dharmawangsa.


“Ayahanda!” pekik Roro Putri dari dalam. Seketika gadis itu langsung melesat ke arah mereka sehingga akhirnya panah panjang menusuk ke tubuhnya yang racunnya langsung menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan tubuhnya tumbang. Panah itu menancap cukup dalam yang kemungkinan sampai menembus organ tubuh bagian dalamnya.


“Putriku!” teriak Prabu Dharma dan Prabu Airlangga bersamaan. “Tuan Putri!” keduanya langsung mendekat dan Prabu Dharma mengangkat kepalanya ke pangkuan.


“Ayahanda ...,” lirih Roro Putri dengan sudut mata yang telah basah. Dia merasa sudah diambang batasnya.


“Iya putriku ...,” jawab Prabu lantas menoleh kepada Prabu Airlangga, “Tolong panggilkan tabib, sahabatku.”

__ADS_1


“Aku akan segera memanggilnya!” katanya langsung berlalu.


Bersambung


__ADS_2