
Sekali lagi Bayu tegaskan, ini bukan hari yang ditunggu-tunggu. Dia belum siap untuk menerima takdir barunya untuk mempunyai pasangan baru. Namun demikian ia tak bisa menolak karena tak mau mengecewakan banyak orang yang menyayanginya, terutama Ibu.
"Nggak di sangka ya, Yu. Jadinya malah sama Liana," Kampleng nyeletuk di sampingnya. "Tahu gitu kenapa tidak dari dulu?"
"Mungkin belum waktunya," Bayu menanggapi.
Loreng menyahuti percakapan mereka berdua, "Eh, tapi enak lho menikah sama tetangga kampung sendiri. Kalau ada apa-apa tidak perlu jauh-jauh orang tua kita menjenguk."
"Antaaapp awin u ooooo! awiiiinnn hahaaaa," Halim meledek sahabatnya. "Awin eak ooo awin engaak."
Ok, hanya sebagian orang yang paham apa artinya.
"Kawinnya sudah, tinggal nikahnya belum! Hoalaah Halim-halim, bocah gendeng! Bocah edan! Bocah sinting! Kawin ae seng mbok kowe pikirono! Mampus-mampuuuuss!" Loreng merusuh Halim dengan cara memiting lehernya. Membuat yang lain tertawa terbahak.
Langkah kaki Bayu dan rombongan keluarga dan kerabatnya kini berhenti di depan sebuah rumah besar yang di dominasi dengan cat warna putih. Menunggu Sang Tuan rumah mempersilakan mereka untuk masuk.
Hingga tak berapa lama, keluarlah laki-laki yang mengenakan batik corak berwarna keemasan, datang menghampiri mereka. Senyum sapa menghiasi wajahnya sambil berkata, "Wah sudah sampai ternyata, silakan masuk Ibu Bapak sekalian terutama Bayu dan Ibu Julia."
Semuanya mengangguk ramah dan mengucap salam bersamaan.
Bayu pun masuk ke dalam sana. Mereka berjalan beriringan. Dia cukup terkejut saat masuk ke dalam sana. Rupanya, keluarga Liana telah menyiapkan semuanya secara matang. Bahkan mereka juga sudah menyiapkan backdrop nya atau spot yang nanti digunakan untuk mengabadikan foto. Demikianlah yang dia ketahui.
"Sudah seperti mau menikah saja," batinnya. Tidak kurang dua hari, Liana dan keluarganya mampu menyelesaikan semua persiapan yang terbilang cukup ribet ini? Luar biasa hebat. Empat jempol Bayu; dua di tangan dan dua di kaki bahkan masih kurang untuk memuji kehebatan mereka. Inilah yang disebut profesional.
Tapi, tunggu?
Mereka menyiapkan semua ini dengan sengaja. Itu artinya Liana memang menerima lamarannya?
Ini sulit dimengerti. Mereka bahkan belum bicara apapun.
__ADS_1
"Kamu mengharapkan ku Liana? Kenapa? Tak ada yang istimewa denganku."
Sedikitnya Bayu berharap Liana akan menolaknya. Tetapi kalau demikian kenyataannya kemungkinan tidak mungkin.
Memasuki rumah Liana, mereka disediakan karpet permadani tebal. Rumah Liana ternyata cukup luas juga. Buktinya, ruangan ini bisa menampung banyak teman-temannya, keluarganya, seserahan dan oleh-oleh yang jumlahnya sedemikian banyak.
Di dalam sana, sudah ada seorang Ustaz yang nantinya akan di tugaskan untuk memimpin acara. Di sampingnya sudah ada Pak RT dan tetua setempat yang dihadirkan sebagai pelengkap.
Tak dinyana, saat itu juga, Liana pun di keluarkan. Dia di dudukkan di sebelah orang tuanya. Semua orang tertuju padanya tanpa berkedip, termasuk pria yang katanya akan melamarnya itu.
Liana tampak cantik mengenakan hijab yang dimodif dan kebaya yang serasi dengannya. Dia make up tipis-tipis oleh perias yang dihubungi khusus. Senyumnya tercetak malu-malu saat melirik ke arah sang calon suami, sehingga Bayu membalasnya dengan sedikit senyuman. Demi membesarkan hati sang calon istri.
Cantik memang. Tetapi cantik orang desa pada umumnya. Tidak secantik seorang putri raja dari masa lalu yang pernah digaulinya, dipangkunya mesra. Ah, tiba-tiba pikiran Bayu jadi melayang ke masa itu. Masa di mana kelelakiannya terpancar untuk pertama kali. Mereka melebur bersama di rumahnya dengan penuh cinta.
Bayu segera menggelengkan kepalanya untuk menepis bayangan tersebut. Tidak, Bayu. Tidak seharusnya dia memikirkan wanita itu lagi. Sadarlah! Dunia kalian berbeda. Liana adalah masa depannya sekarang. Dialah yang nyata dan ada di depan matamu.
***
Kini, semua orang pun satu-persatu mulai meninggalkan area. Tinggallah dirinya dan Ibunya yang masih bertahan di sana. Rencananya, mereka akan pulang nanti setelah Bayu diberikan kesempatan untuk saling berbicara.
"Ya, sudah bicara aja sekarang. Kalau takut terdengar kami, duduk saja di depan sana. Tidak apa-apa, kok," kata Ibu Lastri. Ibu Liana.
Liana dan Bayu pun mengangguk. Gadis itu mengikuti saja langkah kaki pria tegap di depannya menuju ke teras rumah.
"Liana," ujar Bayu setelah mereka duduk. Tapi tak saling berhadapan karena masih merasa canggung.
"Iya, Yu?" jawabnya pelan, "ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Seharusnya ada. Kita belum bicara soal apapun mengenai pernikahan kita ke depannya."
__ADS_1
"Bayu mau minta aku istri seperti apa?" kali ini giliran Liana yang bertanya.
"Aku tidak suka banyak menuntut. Jadilah kamu apa adanya. Layani aku seperti seharusnya kau seorang istri dan sesuai apa yang kamu ketahui," jawab Bayu. "Terima kasih karena sudah menerimaku."
Satu kata singkat yang keluar dari bibir Bayu membuat Liana sontak berbunga-bunga. Maknanya terdengar sangat dalam sekali.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu karena sudah melamarku."
Bayu mengangguk dan samar tersenyum.
"Kalau boleh jujur, aku memang menunggumu selama ini," katanya lagi setelah beberapa saat. "Jadi saat aku mendengar kau dan ibumu ingin melamarku. Aku sangat senang. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," dengan berani, gadis ini berterus terang.
Kali ini Bayu memberanikan diri untuk menatap wanita ayu di sampingnya itu. Tidak salah bukan, tebakannya? Liana memang menunggunya.
"Kenapa bisa begitu, Liana? Padahal aku tak pernah membuat jarak kita menjadi dekat."
"Bayu..." panggil Liana pelan. "Andai kamu tahu. Aku bahkan pernah merasa cemburu dengan mu karena kau pernah membawa wanita lain ke dalam rumahmu. Bahkan desas-desus mengatakan kau hampir menikah dengannya. Ya, sebelum perempuan itu pergi lagi. Aku membencimu, Bayu... tapi anehnya... kebencian itu justru membuatku semakin mencinta, semakin sulit melupakan...." isak Liana pada akhirnya. "Apa kau mencintainya?"
"Kenapa kamu tanyakan itu kalau kau sendiri takut dengan jawabannya?" Bayu bukan pria yang tidak peka. Dia sangat bisa membaca dan memahami perasaan orang lain.
"Semoga tidak ada lagi sisa di hatimu. Biar aku mudah mengisinya."
"Jangan bahas orang lain di antara kita. Kita di sini untuk membahas masalah kita ke depannya akan seperti apa," jawab Bayu terdengar sangat bijak, "kau menginginkan pernikahan seperti apa? Biar aku bantu wujudkan."
"Aku hanya ingin suami yang bisa sepenuhnya mencintaiku," jawab Liana.
"Akan aku lakukan semampuku." Bayu tersenyum. Mencoba membuka lembaran hidup baru dengan Liana mungkin akan lebih menyenangkan, pikirnya.
Namun pada kenyataannya tak semudah yang dia bayangkan. Karena begitu pernikahan berjalan, Bayu justru merasa lukanya semakin menganga lebar. Ternyata berpura-pura mencintai itu sakit sekali.
__ADS_1
Bersambung