
“Lalu bagaimana caranya kita akan pergi?”
“Ya, bagaimana pun caranya!”
“Tolong, Bayu. Jangan nekat. Kau tidak bisa melampaui batas. Begitu juga denganku.”
“Aku tidak peduli, kau harus ikut denganku, sekarang juga!” Bayu menarik tangan Roro Putri untuk menaiki kudanya.
“Bayu!” teriak Putri begitu nyaring bersamaan dengan menyentak kuat tangannya sehingga cekalan itu terlepas. Bayu terhenyak dan terheran dengan apa yang sudah Putri lakukan. Itu tandanya Putri menolaknya?
“Kau tidak mencintaiku, Put?” kata Bayu menatap dengan sedih. “Kau menolak ku.”
“Tolong jangan beranggapan begitu. Aku tidak bermaksud menolak mu. Maafkan aku, Yu. Maafkan aku.”
__ADS_1
“Ya, kau tidak pernah mencintaiku ... dan baru aku sadari sekarang,” ulangnya sambil menatap wajah Roro Putri yang telah basah dengan air mata. Bayu kembali mencengkeram tangan Roro Putri. “Sekalipun aku tidak pernah mendengarkan kata cinta yang keluar dari mulutmu ini.”
Putri ketakutan sampai tubuhnya terasa gemetaran. “Bayu ... aku tidak bermaksud begitu. Kau dengar ‘kan? Apa kata Guru barusan. Kau dengar ‘kan?”
“Apa pun alasannya, kalau kau mencintaiku, kau tetap ikut denganku, berjuang bersamaku, bukan malah pasrah di sini!” seru Bayu begitu nyaring, lantas ia melanjutkan. “Kau membuatku menyesal telah datang ke sini. Aku bertaruh nyawa, Put. Kau tidak akan pernah tahu betapa beratnya untuk bisa sampai di sini. Kau tidak akan pernah tahu!”
“Bayu ...,” ucap Putri lagi agar Bayu menghentikan amarahnya. Wajah Bayu benar-benar berubah menjadi lebih menakutkan.
“Baiklah, aku akan pergi. Terima kasih untuk semua pelajaran ini. Menikahlah kau dengan pasanganmu kelak. Aku bersumpah tidak akan menginjakkan kaki lagi di sini.”
Kata sumpah itu begitu jelas dan nyaring membuat Roro Putri semakin menangis sejadi-jadinya.
Namun meski sedang dalam keadaan marah, carut-marut dan gundah gulana, Bayu tetap bertanggung membawa Putri Raja pulang ke istananya.
__ADS_1
Ia pun segera bersiap dengan sejumlah barang-barang yang semula ia bawa ke tempat ini. Lantas ia berpamitan kepada semua orang yang berada di kerajaan untuk pergi dan tak pernah kembali. Pun kepada Prabu Dharma dan juga Sang Ratu. Mereka sangat sedih dengan keputusan Bayu yang mengecewakan seperti ini dan membuat putrinya kembali dirundung tangis. Namun mereka pun segera dapat memahami bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dipaksakan.
Pada akhirnya, mau tidak mau, Putri, Prabu dan Ratu terpaksa merelakan kepergiannya. Semua menyaksikan kepergian Bayu yang sudah berpakaian seperti semula.
Dengan menunduk hormat, Bayu kembali berpeluk-pelukan dan bersalam-salaman untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Prabu dan juga wanita yang selama ini ia perjuangkan setengah mati.
“Kau jaga diri baik-baik. Semoga kelak kau akan bahagia dan bisa hidup seperti apa yang kau harapkan,” pesannya lirih tapi terdengar begitu dalam di telinga Sang Putri.
“Kau juga, Yu. Sampaikan salam ku kepada ibumu.”
Bayu mengangguk, sesaat kemudian mereka merenggangkan pelukannya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila tindak-tanduknya di tempat ini terkesan kurang baik di mata mereka. Lantas bayu menaiki kudanya untuk memulai melakukan perjalanan.
Tak jauh dari istana itu berdiri, Bayu sempat terhenti untuk menoleh ke belakang. Ditatapnya istana besar Siwalingga yang tinggi menjulang itu beserta orang-orang yang kini sedang melambaikan tangan ke arahnya. Ia cetak dalam-dalam dalam ingatan. Akan ia ingat selamanya kerajaan dongeng yang indah ini, pun dengan Sang Putri; Nyai Roro Ageng. Kekasih dari dunia yang lain. Dunia yang sulit untuk ia pahami.
__ADS_1
“Selamat tinggal, Sayang,” katanya seraya mengedip dan meninggalkan isak di permukaan.