Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Cara Kembali Ke Masa Lalu?


__ADS_3

“Loh, Putri ke mana Bu?” Bayu celingukan ketika tak mendapati Putri di sofa seperti yang terakhir kali ia lihat. 


Julia pun heran, “Mana Ibu tahu, kita berdua di kamar tadi.”


Bayu membuka pintu kamarnya sendiri untuk mencari keberadaannya. “Tidak ada,” katanya lalu melihat-lihat ke be belakang, “di belakang tidak, Bu?”


“Tidak ada juga.” Ibu kembali setelah mencari ke belakang.


“Ke mana dia, ya?”


“Dia dengar obrolan kita tidak ya, Yu?” tanya Ibu.


Bayu hanya mengangkat kedua bahunya.


“Ibu jadi tidak enak hati kalau sampai gadis itu mendengar.”


Bayu melongokkan kepalanya ke arah jendela. Hatinya lega setelah melihat gadis yang dicari sedang duduk menghadap ke arah sekitar. “Dia ada di luar, Bu.”


“Mana?” ibu ikut-ikutan mengintip lalu mengusap dadanya lega. “Oh ya, ya. Syukurlah. Kau dekatilah dia, tanya dia jangan sampai dia merasa sendirian.”


“Harus aku?” tanya Bayu sedikit keberatan.


“Terus maumu siapa, Ibu? Yang bawa ke sini siapa? Tanggung jawab lah!”


Sebenarnya Bayu sedikit keberatan. Terlalu dekat dengan gadis itu membuatnya salah tingkah. Juga menimbulkan getaran-getaran aneh yang timbul dalam ruang hati. Dan tak mungkin bisa ditahan atau di sembunyikannya dari wanita itu. Bayu takut Putri akan mendengarnya. Itu sangat memalukan bukan?


Bayu membuka pintu, lalu menemaninya duduk. Kemudian wanita itu menoleh dengan seulas senyum. Tetapi matanya tak bisa berbohong. Putri sedih dan kesepian. Ada kehampaan yang tergambar jelas di wajahnya.


“Kau merindukan sesuatu?” tanya Bayu.


“Ya, itu pasti.”


“Kekasihmu?”


“Bukan, tapi keluargaku. Begitu juga dengan mereka yang juga sama sepertiku.”


Semoga saja kau masih sendiri.


“Kalau di tempatmu tersedia layanan telepon, pasti sudah aku pinjamkan benda ini,” kata Bayu sambil mengeluarkan benda pipih berlayar lebar tersebut.


“Apa ini?” Putri melihat-lihat benda itu sangat penasaran.


“Ini namanya telepon genggam. Orang-orang biasa menyebutnya Hp.”


“Hp? Apa gunanya Hp ini?”

__ADS_1


“Kau bisa dengan mudah menghubungi orang yang paling jauh sekalipun di dunia ini. Dengan nomor yang kita punya.”


“Wah, meskipun kalian tidak punya ilmu, tapi kalian hebat juga, ya. Bisa menciptakan barang sehebat ini.”


“Ya, itulah hebatnya manusia.”


“Kapan-kapan aku mau mempelajarinya.”


“Boleh, juga.”


Putri menggeser sedikit demi sedikit duduknya hingga tak ada jarak di antara keduanya. Lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Bayu. Bayu hanya membulatkan matanya dalam diam. Nafasnya seperti sesak. Jantungnya berdentum seperti akan melompat keluar. Ini pertama kalinya Bayu bersentuhan langsung dengan wanita. Biasanya Bayu hanya mampu berhalu ria. Ya ampun, bukan tidak mungkin jika Putri melakukan hal yang lebih daripada ini akan membuatnya menjadi gila?


“Bayu … apakah aku bisa kembali ke masa lalu?” tanya Putri seolah tak menyadari apa yang terjadi dengan lelaki di sebelahnya. “Apa kau bisa bantu aku, Yu? Dunia ini terasa begitu asing bagiku. Selain tidak nyaman, aku juga rindu keluargaku.”


“A-aku tidak tahu, Put,” jawab Bayu tergagap. Dia masih susah payah mengatur kegugupannya sendiri. “Tapi aku akan mencari informasi tentangmu, dan bagaimana caranya kembali.”


“Kau janji?” 


“Ya, aku akan membantumu semampuku.”


“Bagaimana caranya?”


“Aku juga tidak tahu.”


“Yah, kau ini aneh.”


"Kalau kau tidak tahu caranya membuatku bisa kembali, berikan aku rasa nyaman. Bagaimana?"


"Aku pun tidak tahu caranya."


Keduanya sempat terdiam beberapa saat sebelum ada seseorang berhenti di depan rumahnya dan mencibirnya. “Wihh, pintar sekali kau cari bini, ya. Kecil-kecil mengalahkan playboy ulung sepertiku. Semalaman kau menghilang ternyata mengejar cewek cantik.”


Dengan rasa tidak enak, Bayu menyingkirkan kepala Putri yang masih bersandar di bahunya. “Ada temanku, kau masuk ke dalam dulu, ya. Kebetulan Ibu sedang memasak, mungkin kau bisa membantunya supaya kau tidak terlalu bosan.”


“Baiklah!” kata Putri tanpa membantah.


“Aku ke sini, untuk memastikanmu, sudah pulang atau belum.”


“Nih, aku sudah di sini, mau kau apakan tubuhku?”


“Ya, aku hajarlah! Mengejar cewek cantik tidak mau mengajak-ngajak yang lain. Ada lagi atau tidak yang seperti dia?”


“Tidak ada! jangan sampai kau ganggu dia, ya! Aku bisa saja menendang pantatmu nanti,” sungut Bayu posesif. Lantaran Kampleng adalah saingan beratnya. Setiap kali Bayu mengenal cewek, pasti sudah ter tikung duluan. Hal itu kerap terjadi karena Bayu tak pandai merayu wanita sepertinya.


“Sensi amat, aku hanya bertanya, ada atau tidak yang seperti dia. Lagi pula mana mungkin aku mau bekas milikmu. Kau itu kan mesum, pasti sudah—”

__ADS_1


Bayu langsung mengeplak kepalanya. “Jangan sampai Ibuku dengar, aku bunuh kau sekarang juga. Dasar mulut rongsok!”


“Haiii!”


“Hai sayang!” 


Dua teman slengekan yang lain datang berboncengan menghampiri mereka berdua. Yaitu Halim dan Koreng.


“Hihihi, ahinya ahu hampai hisini haaa …,” kata Halim sambil cengengesan.


Koreng duduk di sebelahnya. “Kau itu, baru masuk kerja satu hari sudah libur saja. Pakdhemu itu ngamuk-ngamuk. Seharian marah-marah terus, akhirnya bengkel kami tinggal.”


“Astaga, kalian ini nekat sekali. Ku pikir hanya Kampleng saja yang tak masuk kerja,” kata Bayu. 


“Biarkan sajalah, bos yang mengamuk itu memang pantas ditinggal. Kita harus buktikan bahwa aki-aki itu membutuhkan kita,” kata Koreng lagi.


“Tapi itu tidak benar, karena kita juga membutuhkan uangnya. Kita sama-sama saling membutuhkan,” ucap Bayu.


Kampleng langsung mencibir. “Alah, kau itu lagaknya pura-pura baik. Ini juga terjadi karena dirimu, dasar somplak!”


“Ini pengecualian, ya!”


“Pengecualian-pengecualian, sirahmu bau menyan! Kau habis pergi sama cewek bilang pengecualian.”


Bayu membela diri, lantaran Kampleng selalu saja menyudutkannya. “Kalian tidak tahu yang sebenarnya, jadi jangan sembarangan menuduh!”


“Nyuwun sewu ….” 


Kedua teman Bayu, Koreng dan Halim langsung terdiam seketika saat melihat seorang wanita keluar membawa minuman dan camilan di meja teras di tempat mereka berkumpul. Semua lelaki tanggung itu (kecuali Kampleng, karena dia telah melihat lebih dulu, jadi tidak terlalu kaget) melihat Putri dengan mulut menganga. Mengagumi keindahan kulitnya, wajahnya, rambutnya, tubuhnya, semuanya yang bening cerah menyilaukan mata. 


“My name is Koreng!” Koreng langsung mengulurkan tangannya.


Putri menyambut dengan baik, “Namaku Putri.”


Setelah menyalami, Koreng langsung mengusap-usap tangannya yang masih tertinggal kesan rasa halus, wangi dan lembut dari tangan wanita itu.


“Aku juga belum kenalan, namaku Kampleng, Put. Kau boleh memanggilku apa saja, sayang juga boleh.” Kampleng ikut-ikutan mengulurkan tangannya. Sedangkan Bayu sedang bersungut-sungut.


“Dari tadi ngapain aja, woy!” kata Bayu, kemudian melanjutkan, “kau boleh memanggilnya Kemplang juga kalau kau mau, Put.”


Putri hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang sungguh menawan. Tidak pernah ada senyuman manis yang melebihi senyum Putri Roro Ageng di desa ini. Ke-empat anak-anak muda tersebut baru pernah melihatnya. Benar-benar memikat.


Halim seketika juga langsung menyela pada saat Kampleng selesai. “Hahahu, Hayim hihihi ….” (Namaku, Halim hihihi ....)


“A-apa?” tanya Putri kurang jelas setelah melepaskan jabatan tangannya. “Hahahu Hayim?” tapi bukan dengan suara sengau.

__ADS_1


“Hahahu, HAYIM!” kata Halim lagi lebih jelas dan menekan. Seketika tawa Putri dan keempat orang lainnya meledak. Tetapi Halim tak tersinggung, dia malah ikut-ikutan tergelak juga dengan kerasnya.


__ADS_2