Kekasih Beda Dunia

Kekasih Beda Dunia
Tumben Keramas Sore-sore?


__ADS_3

“Tumben sore-sore kau keramas?” tanya Julia saat mendapati putranya baru saja keluar dari kamar mandi. 


“Loh, Bu? Sudah pulang?” reflek Bayu terkejut, namun dengan cepat ia bisa mengendalikan diri dan bersikap senormal mungkin. “Iya, ini gerah. Kan habis jalan jauh.”


Untung saja kegiatan terlarang ‘itu’ sudah selesai sebelum Julia pulang. Kalau tidak? Bayu tidak bisa memikirkannya lebih jauh, karena mungkin bisa saja berakibat fatal. Sangat fatal. Bahkan hanya dilempar pertanyaan sepele itu saja Bayu merasa begitu menggigil. Pertanyaan biasa namun mempunyai makna yang berbeda baginya.


“Bagaimana? Ada informasi?” tanya Julia lalu melihat-lihat rantang yang ada di meja dapur.


Bayu menggeleng. 


“Ini rantang siapa?”


“Itu dari Liana, katanya Mamanya habis aqiqah.”


“Oh ….” Julia mengeluarkan makanan dari dalam rantang itu. “Kambing, Yu. Kau makanlah! Ajak Putri juga, sudah pada makan apa belum?”


“Nanti saja, Bu. Biar kami ambil sendiri saja.” Bayu langsung masuk ke dalam kamar. 


Sesampainya di kamar, Bayu melihat wanita itu dengan wajah yang meringis. Mungkin ada yang sedang dirasakannya? 


“Bagaimana dengan aku?” tanya Putri. 


Bayu menggaruk kepalanya bingung. “Mandi saja, anggap saja tak pernah terjadi apa-apa.”


“Apa aku bisa seperti itu?” Putri tidak pandai walau sebatas berpura-pura.


“Harus bisa,” jawab Bayu. “Kau bisa keluar dulu? Aku mau berganti pakaian.”


Putri mengangguk dan langsung menuju ke kamar mandi. Ada rasa sakit yang dirasakan oleh wanita itu sehingga terlihat begitu aneh saat berjalan. Dan Bayu sendiri tidak tahu, entah sampai kapan dia seperti itu. Ada perasaan khawatir dihatinya yang bisa saja menimbulkan sebuah kecurigaan. Karena satu persatu hal itu bisa saja saling berkesinambungan bila Julia peka dan menghubungkannya.


“Semoga saja tidak,” gumamnya kepada diri sendiri.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Bayu pergi bekerja dengan sejuta semangat. Wajahnya ceria berseri-seri. Tenaganya seakan bertambah berpuluh-puluh kali lipat. Menurutnya ini memang aneh. Apa seperti ini jika seseorang sudah melakukan hubungan penyatuan. Seolah beban yang bertumpuk dan rasa penasaran yang berlebih tumpah seketika pada saat itu dan menyisakan kelegaan setelahnya. Tetapi anehnya ia malah mengalami semacam— kecanduan. Ya, itu adalah kata yang tepat. Karena setiap kali terbayang, salah satu anggotanya hidup sendirinya tanpa perintah. Dan nalurinya terus menginginkannya lagi, lagi dan lagi.


“Gila, semua pekerjaan hampir beres sama dia, seperti Popeye habis makan bayam,” seloroh Kampleng kepada Bayu di depan teman-temannya.


“Habis dapat kocokkan arisan kali tuh,” timpal Koreng dan kekehan dari Halim juga. Namun Bayu memilih untuk tersenyum dan dalam diam. Bayu pikir, tidak perlu semua permasalahan bisa diceritakan kepada khalayak umum. Apalagi hal privasi macam ini. Ada konsekuensi yang harus ditanggung, hubungan kepada sesama teman tidak selalu dalam keadaan rukun. Alangkah lebih baiknya Bayu menghindari hal itu. Karena Tuhan sudah menyembunyikan aibnya rapat-rapat. 


“Kau belum menjawab pertanyaanku, Yu. Kau punya cewek dari mana yang seperti itu?” tanya Krempeng seolah tak bosan-bosannya bertanya itu-itu melulu. Sampai Bayu merasa jengah. “Ku pikir Kau jelek, kenapa kau bisa mendapatkan cewek cantik?”


“Aku memperbanyak berdoa,” jawab Bayu singkat. Baginya, kampas rem motor yang sedang diperbaikinya lebih menarik daripada tampang Krempeng yang jelek.


“Kau pikir Tuhan mengirimkannya dari langit begitu saja?”


“Aku sedang sibuk, jangan kau tanya-tanya terus nanti ada yang kelupaan.” Bayu masih berpura-pura sibuk mengerjakan tugasnya.


“Dia itu asalnya dari mana? Kenapa bisa menyukai pria biasa-biasa saja sepertimu. Apa kau mempunyai semacam pengasihan?”


“Sembuarangan!” sembur Bayu dengan tatapan tajam.


“Mungkin kalau kau kaya, itu masih bisa masuk akal. Tapi, kau tidak punya kelebihan sama sekali selain lemak. Aku rasa, penglihatan wanita itu memang ada yang salah.”


“Dia—ah, sudahlah. Untuk apa pula kau membahasnya. Mau suka atau tidak dan bagaimana tentang hubungan kami, itu sama sekali bukan urusanmu.”


“Hanya begitu saja kau marah. Kan wajar aku sebagai temanmu bertanya-tanya begitu. Aku pun penasaran. Barangkali ada trik aku kan bisa menirunya. Kau ini sensitif sekali.”


“Bagaimana aku tak sensitif? Kau mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Mengatakanku jelek pula. Kupikir kalau bercermin pun aku masih lebih baik daripada tampangmu.”


“Aha aha ihi hihuh aaha hihuh?” tanya Halim. (ada apa ini, ribut saja ribut?)


“Ini lagi, ikut-ikutan!” ucap Bayu.


“Hahah hahuk!” (Dasar janc*k!)


“Kalau ganteng mengumpat masih mendingan. Ini orang jelek, mengumpat lagi. Dasar kedelai!”

__ADS_1


“Keledai, Yu,” sahut Kampleng meralat ucapannya. Ketiganya membantu Bayu agar pekerjaannya lebih cepat selesai. Sedangkan satu temannya yang lain bernama Koreng itu sedang sibuk sendiri bersama Pakde pemilik bengkel ini. Apalagi kalau bukan sedang diperbudak. Pasti beliau sedang menyuruhnya macam-macam ini dan itu tak ada henti-hentinya. Semua karyawan hafal betul kebiasaan Pakde; jika sedang menyukai satu orang pasti orang itu-itu saja yang disuruhnya. Maka dari itu Bayu selalu seolah membangun tembok tinggi-tinggi agar Pakde tak terlalu dekat dengannya, tujuannya-- ya untuk menghindari kesialan macam ini.


“Sementara aki-aki itu tidak sedang mengawasi kita, lebih baik kita ke warteg saja,” kata Kampleng mengajak Bayu dan Halim.


Bayu langsung menyahut, “yakin kau tidak menunggu Koreng dulu?”


“Menunggu dia itu sangat lama. Aku keburu mati kelaparan.”


“Kalau hanya libur makan siang saja tidak akan terjadi!” selak Bayu cepat. “Orang puasa saja tidak makan seharian masih hidup.”


“Itu beda lagi ceritanya, Yu,” jawab Kampleng. “Kau tidak melihat tubuhku yang kamplang-kampleng ini?” 


“Aku juga heran terhadapmu, sebanyak truk sampah kau makan pun tak pernah ada bedanya. Tetap saja tinggal tulang. Aku pikir, kau memang makan bersamaan dengan setan. Maka dari itu kau tidak pernah kebagian.”


“Hahah, huhah! Hahan hahan! Aho!” Halim bersungut-sungut kesal dan mendahului mereka di depannya. (Halah, sudah! Makan makan! Ayo!)


“Taruh kuncinya, ayo otewe. Belum tentu Koreng makan bareng kita, kalau dia makan sama aki-aki itu? Kita bisa menunggu pecuma.”


“HAHUT!” seru Halim lagi.


“Cabut, Pleng! Cabut!” ucap Bayu lalu melempar semua peralatan yang ada di tangannya. Ketiganya lantas berjalan menuju warteg bukaan baru tak jauh dari bengkel mereka bekerja.


“Warteg BEN WARG, tamu harap lapar!” begitu tulisan yang terpajang di depan warteg. “Ada-ada saja namanya,” gumam Bayu, “aku baru ke sini, nih,” katanya kepada Kampleng.


“Bah! Ketinggalan jaman. Aku sudah sering ke sini, Yu. Selain tempatnya nyaman, ada janda kembangnya jadi tambah betah aku.”


“Gak mutu kau ini, Pleng. Janda terus kau pikirkan. Pantas duitmu selalu melayang.”


Ketiganya lantas memesan makanan.


“Sri … cah ayu, minumnya teh hangat semanis kau ya, Sri.” goda Kampleng di depan etalase.


“Kau ini menggelikan sekali.” Bayu bergidik jijik dengan nada yang terdengar dibuat-buat itu.

__ADS_1


“Pakai, ini, ini, ini.” Kampleng menunjuk menu-menu yang terpajang di etalase.


“Bayu …,” panggil seseorang dan ketiganya sontak menoleh.


__ADS_2