Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 21


__ADS_3

Maria bergegas menemui Abellard dengan bibir tersenyum.


"Monsieur Comte, anda ditunggu Comtesse di ruang musik."


Abellard menoleh. Begitu pun dengan Naeva, Marc, Anne dan Edward.


"Menungguku?"


"Ya, ada yang ingin dibicarakan dengan anda ... masalah Mlle Gaulle," Maria melirik Naeva sekilas.


Naeva langsung merasa tegang. Apa yang akan dibicarakan Comtesse sekarang? Pasti mengenai keputusan wanita itu tentang keberadaannya.


"Baik aku akan segera ke sana!" jawab Abellard.


Laki-laki itu kemudian menatap Naeva sesaat. Seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu tubuh jangkungnya bergerak bangkit dan mengikuti Maria.


Naeva menatap punggung Abellard nelangsa. Tak masalah baginya jika harus kembali ke Kastil Wisteria dan menghadapi bahayanya pembunuh bayaran itu. Yang dikhawatirkannya adalah, Abellard yang pasti tak akan dibiarkan ikut bersamanya. Karena pria itu adalah putra sekaligus pewaris satu-satunya yang dimiliki Comtesse.


"M'mselle, bibir anda sangat kering, apa anda haus?" Suara Anne mengejutkan lamunannya.


Naeva meringis.


"Ya, aku ... segan meminta airnya."


"Ya Tuhan! Biar aku ambilkan airnya M'mselle!" seru Anne. "Bagaimana mereka bisa membuat seorang tamu kehausan?!" gerutunya kemudian.


Gadis itu melangkah menghampiri seorang pelayan laki-laki dan menanyakan letak dapur di dalam bangunan yang megah itu. Pria itu menunjukkan arahnya dengan raut ramah.


Anne merasa lega, walau mereka tak begitu perhatian pada tamu, tapi mereka bisa bersikap ramah. Setidaknya, nona-nya tidak akan terlalu merasa tertekan.


Sekilas, ia melihat Abellard di depan sana memasuki sebuah ruangan musik yang dimaksud Maria.


Anne terus berjalan melewati ruangan itu. Pintunya tampak terbuka. Sekilas Anne bisa melihat sebuah ruangan mewah dengan peralatan musik yang belum pernah dilihatnya.


Begitu memasuki dapur, Anne menemukan beberapa pelayan wanita yang sedang duduk bercengkerama.


"Maaf, bisakah seseorang mengantarkan sedikit minuman untuk Nona saya di ruang duduk?" tanya gadis itu sopan.


Para pelayan wanita itu menatap Anne sesaat, lalu saling berpandangan dengan raut menertawai dan mencibir Anne.


Kemudian mereka kembali berbincang sembari pura-pura menyibukkan diri.


Anne menggigit bibirnya menerima perlakuan wanita-wanita itu. Ternyata, pelayan wanita bersikap angkuh.


Hati Anne seketika gelisah, mengingat bagaimana nona-nya akan tinggal ditengah orang yang sinis seperti mereka.

__ADS_1


Gadis itu kemudian mengambilkan sendiri minumannya. Tak peduli pada ekor mata yang memperhatikannya dengan tajam, seolah mereka takut dirinya akan mencuri di kastil yang megah itu.


Ia segera meninggalkan dapur setelah mendapatkan satu teko penuh air untuk Naeva. Namun begitu langkahnya melewati ruang musik, rasa penasaran gadis itu mencuat. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan Comtesse terhadap nona-nya.


Di samping pintu berdiri sebuah patung wanita berjubah sutra seperti sosok bidadari. Anne langsung berdiri di balik patung itu dan menajamkan pendengaran.


"Kau harus mempercayaiku, Ma Fils! Gadis itu hanya memanfaatkanmu! Coba kau pikir, kenapa ia tak berusaha mencari tahu tentang dirimu yang tiba-tiba datang dengan tubuh terluka?! Kecuali jika dia memang tahu siapa dirimu dan tahu bahwa kau akan membawa keuntungan untuknya!"


Samar-samar ia mendengar Comtesse memfitnah nona-nya.


"Tapi Naeva bukan gadis yang suka mencari keuntungan, Mère!" bela Abellard.


"Suka atau tidak, buktinya dia memberikanmu identitas palsu dan membuat kau tinggal di kastilnya hingga kau merasa akrab dan berhutang budi padanya!"


Anne menggenggam nampan teko minuman dengan hati kesal. Nona Naeva tak seperti itu! Ia tak terima nona-nya difitnah sekejam itu!


Dengan raut kesal, gadis itu melanjutkan langkahnya ke ruang duduk.


"Kau sampai membawa seteko penuh, Anne?" sambut Naeva dengan senyuman saat Anne datang.


"Ya, M'mselle. Kita bisa menyimpannya di kamar," jawab Anne.


Kepalanya masih terus memikirkan kata-kata Comtesse. Ia takut Monsieur Comte akan mempercayai kata-kata ibunya dan menelantarkan Nona Naeva.


***


Hampir tengah malam, Anne masih tak bisa memejamkan matanya. Padahal ia telah diizinkan untuk bermalam di kastil Marseille. Gadis itu tidur dengan gelisah di samping nona-nya yang telah terlelap.


Perlahan ia bangkit dari tempat tidur, agar tak mengusik lelapnya sang Nona.


Ia harus menemui Monsieur Comte sekarang sesuai rencananya!


Di depan pintu kamar Abellard, Anne berdiri dengan jantung yang berdegup kencang. Wajahnya terlihat begitu pucat. Gadis yang penakut itu nekad mengendap-endap dalam keremangan demi nona yang disayanginya.


Ia benar-benar merasa sendirian dalam bangunan yang besar itu. Karena semua penghuni kastil telah terlelap dalam mimpi, kecuali pengawal yang berjaga di luar. Lampu listrik pun telah dipadamkan sebagiannya, hingga suasana kastil tak lagi terang benderang.


Dengan tangan yang bergetar, takut terciduk pelayan atau bahkan Comtesse yang menyeramkan itu, Anne mengetuk pintunya perlahan.


Beberapa kali mengetuk, akhirnya Anne mendengar langkah kaki orang dari dalam yang menghampiri pintu.


Hingga kemudian pintu terbuka dan sosok Abellard berdiri dengan wajah mengantuk.


"Anne?" tanya pria itu bingung. "Kenapa kau belum tidur?"


"Ma-maaf Monsieur ... saya ...." jawab Anne terbata.

__ADS_1


Raut Abellard tiba-tiba berubah khawatir.


"Apa sesuatu terjadi pada Naeva?" paniknya.


"Tidak, Monsieur! Saya ... saya hanya ingin menyampaikan sesuatu!" sela Anne gugup.


"Menyampaikan apa?" Abellard memperhatikan gerak-gerik Anne yang gugup. Pasti ada sesuatu yang penting. Kalau tidak, tak mungkin gadis penakut dan gugup seperti Anne nekad menemuinya tengah malam.


"Apa kita perlu berbincang di ruang duduk?" tawarnya agar Anne lebih relaks.


"Tidak perlu, Monsieur. Saya akan mengatakannya langsung."


Anne menarik nafasnya sesaat. Namun matanya tetap terlihat gelisah.


"Sebenarnya ... sebenarnya M'mselle sengaja memberikan identitas palsu untuk anda karena M'mselle telah jatuh cinta pada Anda sejak awal beliau menolong anda ...."


Abellard terpaku.


Pria gagah itu merasakan tubuhnya membeku saat mendengar perkataan Anne. Nafasnya serasa tertahan oleh sebuah rasa yang tiba-tiba memenuhi dalam dadanya.


"M'mselle takut, jika anda mengetahui jati diri anda yang sebenarnya, anda akan pergi setelah sembuh," sambung Anne.


Abellard mencengkeram jubah tidurnya hingga otot-otot tangannya terbentuk jelas. Rasa itu tiba-tiba membuncah. Rasa bahagia yang luar biasa!


Membayangkan wajah Naeva yang mencintainya.


Oh ... ini benar-benar sebuah keajaiban!


Dadanya serasa dipenuhi bunga-bunga, hasrat, kerinduan, dan gelenyar indah yang kemudian menelusuri seluruh sarafnya.


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan, Monsieur," ujar Anne. Lalu cepat-cepat berbalik dan meninggalkan pria yang mematung di ambang pintu kamar itu.


Serasa tengah melayang, dan dengan setengah kesadaran Abellard menutup kembali pintunya. Berjalan perlahan menghampiri ranjang dan duduk di tepinya.


Tangannya yang menggenggam jubah, kini beralih meremas selimut.


Ingin rasanya ia berlari menemui Naeva dan merengkuh gadis itu kedalam dekapannya seerat mungkin. Membagi rasa bahagia yang terlalu besar di dalam dadanya itu.


Tapi ia tak bisa!


Satu kalimat yang tiba-tiba berkelebat di pikirannya membuat kebahagiaan itu seolah direnggut paksa.


Ya. Ia tak bisa.


Setelah perjanjiannya dengan sang ibu. Demi Naeva diizinkan tinggal di kastil ini, ia terlanjur menerima persyaratan dari ibunya. Ia harus kembali menjadi Comte Abellard Marseille yang dulu dan menjauhi Naeva.

__ADS_1


__ADS_2