
"Jadi? Kau curiga bahwa Maria meminta tukang masak membuat makanan itu untuk orang lain?" tanya Lady Angelia.
"Sepertinya begitu. Dan ada yang lebih mencurigakan, my Lady. Maria memperingatkan pelayan itu untuk memberi kode seperti yang sudah disepakati."
"Kode? Kode apa?" Lady Angelia sontak bangkit dari kursinya dengan mata melebar.
"Kalau itu aku tidak tahu, Maria tidak mengatakannya."
"Hm, ternyata seperti itu .... " gadis itu melangkah ke jendela kamarnya dengan kening mengernyit. Berpikir keras kemungkinan apa yang sedang terjadi di dalam kastil itu.
Apa mungkin ada orang lain di kamar itu? Atau jangan-jangan Mlle Gaulle? Perempuan miskin itu pura-pura kabur tapi ternyata malah bersembunyi di kamar Abellard?
Lady Angelia meremas tepi jendela dengan raut murka. Kalau memang seperti itu yang terjadi, ia tak akan membiarkan! Ia akan membongkar pada semua orang agama apa yang dianut gadis dari kampung itu!
"Kalau begitu, kita akan mengawasi pelayan itu saat mengantarkan makanan," geramnya dengan gigi merapat.
Lucie mengangguk dengan senyuman bangga. Merasa bisa diandalkan oleh orang yang diidolakannya itu. "Baik my Lady, kita akan menyelidikinya bersama."
"Apa kamar masa kecil Monsieur Comte telah dikunci kembali?" tanya sang Lady dengan mata menyiratkan kecemburuan, mengingat kamar spesial itu malah diberikan pada Naeva.
"Sepertinya tidak, my Lady."
"Baguslah, kalau begitu kita akan mengawasi dari kamar itu."
Sesuai rencana, keduanya masuk ke kamar masa kecil Abellard dan memberi sedikit celah pada pintunya untuk mereka mengintai.
Lama menunggu, akhirnya mereka melihat Amily datang membawa nampan berisi makanan.
Lady Angelia menahan napasnya, mengawasi Amily melalui celah pintu tanpa berkedip dan memasang telinganya dengan sangat baik.
Namun gadis pelayan itu tidak mengatakan apa-apa sebagai kode.
"Jangan-jangan, makanannya yang diminta Maria tadi sudah diantarkan ke tempat lain," bisik Lucie.
Lady Angelia mendesah cemas mendengarnya. "Mungkinkah? Berarti kita sia-sia menunggu di sini. Jangan-jangan makanan itu di antarkan ke tempat lain selagi kita menunggu di sini."
"Ya sepertinya begitu."
"Ck!" Lady Angelia berdecak kesal sembari meninggalkan daun pintu.
Namun tiba-tiba Lucie menarik lengannya. "Tunggu dulu, my Lady. Pelayan itu mengetuk pintu."
"Ya, tentu saja dia harus mengetuk sebelum dibukakan pintu," sela sang Lady tak sabar.
"Tapi ketukannya terlalu banyak dan tanpa jeda. Ini bahkan sudah ketukan kelima. Pelayan itu juga terlihat seperti menghitung ketukannya."
Lady Angelia segera mengintip kembali.
__ADS_1
"Sudah berapa?" bisiknya.
"7" jawab Lucie.
Lady Angelia kembali mengawasi tanpa berkedip, "8 ... 9 ... 10," Hitungannya berhenti saat Amily menurunkan tangan. "Sepuluh kali! serunya dengan mata berbinar puas dan bibir menyeringai.
"Aku akan masuk dengan mengetuk sepuluh kali saat tiba waktunya makan malam nanti!" gumamnya.
***
Di atas gerobak sayur yang terbuat dari kayu, Naeva duduk bersama Jean dengan raut sumringah. Sementara Abellard mengendarai kuda di bagian depan.
Mereka telah melewati desa petani yang berada di bukit rendah nan hijau dan sejuk itu. Hingga kemudian menuruni lembah.
Di lembah itu Naeva melihat sekelompok kuda merumput tanpa kawalan. Hewan itu begitu cantik dengan bulu ekor yang tebal dan Surai yang panjang tergerai menyentuh lehernya yang kokoh.
Pemandangan indah itu memantik antusiasme Naeva hingga matanya tampak berbintang-bintang karena terpesona.
Menurutnya, kuda adalah binatang ajaib yang selalu ada dalam dongeng-dongeng.
"Apa itu kuda liar?" serunya.
"Bukan, M'mselle ... itu kuda warga desa petani tadi. Mereka membiarkan kuda merumput bebas di lembah ini."
"Apa tidak akan dirampok?"
"Kuda desa petani dikenal liar dan tak ramah pada orang yang bukan pemiliknya, jadi tidak akan ada yang berani membawa paksa mereka," jelas Jean lagi.
Abellard menoleh ke belakangnya dan melihat ekspresi terpana Naeva. Bibir menawan sang Comte tersenyum hangat.
"Mumpung sudah siang, kita akan menikmati makan siang di sini," ujarnya.
Naeva segera menoleh dengan antusias. "Benarkah? Waaa ... seru sekali bisa menikmati makan siang dengan udara sejuk dan pemandangan seindah ini!" soraknya sembari merentangkan tangan lebar-lebar dan senyuman yang merekah.
Reaksi itu sungguh memancing rasa gemas sang Comte saat melihatnya. Namun ia harus kembali fokus ke depan, mencari tempat yang cocok untuk mereka singgahi.
Di bawah pohon yang lumayan besar, Abellard menghentikan kudanya.
"Kita duduk di bawah saja, beralaskan rumput hijau!" usul Naeva penuh semangat.
Abellard mengangguk setuju dan membantu gadis itu turun dari gerobak sayur.
Jean segera mengambil bungkusan makanan yang dibeli tuannya untuk bekal di pasar desa petani tadi. Perempuan itu dengan cekatan membuka bungkusan makanan untuk majikannya dan Mlle Gaulle terlebih dahulu. Lalu ia duduk menunggu di tempat yang sedikit berjauhan.
Naeva yang melihat itu langsung paham, bahwa Jean melakukannya karena wanita itu terlalu meyakini perbedaan kasta, yang bahwa seorang pelayan tak patut makan bersama majikannya.
"Jean? Kenapa kau menjauhi kami?" guraunya.
__ADS_1
Jean menoleh dan tersenyum canggung.
"Saya akan menunggu setelah Anda dan Monsieur makan, M'mselle."
"Itu akan membuang waktu, Jean. Bukankah lebih menyenangkan makan bersama? Semakin ramai semakin menambah selera."
"Ba-baiklah ...." Jean bangkit mengambil bungkusan makanannya di gerobak dan memakannya di tempat semula.
Naeva menatap tak sabar. Namun sebelum ia sempat memanggil Jean untuk duduk di dekat mereka, Abellard telah menyela.
"Apa kau takut Mlle Gaulle akan menyerobot makananmu?" Sang Comte menahan senyuman sembari melirik Naeva.
Gadis cantik itu seketika mendelik. "Aku tidak begitu!" bantahnya cepat.
Abellard tak kuasa menahan senyum melihat ekspresi Naeva.
"Kalau begitu berarti Jean harus duduk di dekatmu agar aku bisa membuktikannya. Kalau tidak, berarti dia benar-benar takut padamu."
"Saya akan duduk," jawab Jean panik. Tak ingin Mlle Gaulle-nya itu benar-benar berpikir dirinya takut. Lalu buru-buru bangkit menghampiri.
Naeva yang paham tujuan Abellard yang ingin membuat Jean duduk bersama, memicingkan matanya pada pria itu. Namun bibirnya tersenyum senang. "Kau mengkambinghitamkan aku," bisiknya.
Hatinya bangga, Abellard semakin berubah lebih baik dan mulai bersikap rendah hati. Akhirnya ia berhasil mengikis sedikit demi sedikit, kepercayaan terhadap perbedaan kasta yang telah mendarah daging di kehidupan mereka.
"Mlle Gaulle, Anda bisa mengambil makanan saya sesuka hati. Saya tidak keberatan." Jean menyodorkan bungkus makanan yang belum dimakannya.
Abellard seketika tertawa melihat Jean yang akhirnya benar-benar berpikir Naeva tak cukup hanya dengan satu bungkus makanan. "Hati-hati Jean, Mlle Gaulle akan merampas semua makananmu," godanya lagi.
Naeva sontak merasa gemas, hingga ia menjulurkan tangannya untuk mencubit lengan kekar sang pangeran.
Abellard terkekeh sembari mengelus lengannya yang terasa seperti dicium semut.
Naeva beralih menatap Jean yang tampak bingung.
"Tidak apa-apa Jean. Monsieur Comte sengaja menggoda seperti itu agar kau mau duduk dan makan bersama," jelasnya lembut.
Jean terperangah. Sungguh ia tak menduga akan dihargai seperti ini. Dirinya yang hanya seorang pelayan, duduk dan makan bersama majikan. Dan majikannya sendiri yang memintanya.
Tanpa disadari, hati Jean terasa penuh oleh keharuan.
Mereka bertiga kemudian menikmati makan siang itu dengan kebersamaan dan pemandangan kuda liar yang indah.
***
Malam pun tiba.
Lampu-lampu kastil mulai dinyalakan. Sehingga bangunan megah itu tampak terang benderang di tengah kegelapan.
__ADS_1
Di dalam sana, seorang gadis cantik tampak tak sabar melihat pelayan yang sedang membantunya memakai gaun indah berwarna hijau tua itu, melalui cermin.
"Cepatlah, aku hendak melakukan sesuatu yang penting sekarang," desaknya.