
Launching perhiasan yang diselenggarakan oleh Monsieur Simon dan Mme Aamber berjalan lancar dan megah. Beratus-ratus orang datang untuk melihat perhiasan keluaran terbaru dari pabrik terpopuler se-Perancis itu.
Toko perhiasan itu dibangun dengan arsitektur yang sangat artistik. Hampir seperti rumah kaca, dinding bangunan itu nyaris dipenuhi kaca yang tembus pandang. Sehingga dari luar pun setiap mata akan tergoda melihat kilauan perhiasan di dalamnya.
Naeva datang dengan memakai gaun sutra berwarna krem. Rambutnya yang berwarna coklat disanggul dengan bentuk elegan. Di bagian kiri kepalanya bertengger sebuah jepitan emas berbentuk cabang pohon dengan daun-daunnya.
Gadis itu berkeliling melihat-lihat perhiasan indah yang di pajang pada leher patung-patung batu berbentuk wanita cantik.
"Terimakasih, Mlle Gaulle. Anda sangat berjasa dalam mendesain dan memilih bahan terbaik untuk perhiasan kita," tiba-tiba Monsieur Simon muncul di hadapan Naeva dan mengulurkan tangannya.
Pria itu tampak gagah dengan setelan tuksedo berwarna putih tulang. Matanya menatap Naeva penuh rasa terimakasih.
Naeva tersenyum seraya menyambut uluran tangan itu dan mengangguk hormat.
"Tapi, apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saya mendengar Anda hendak pergi ke Maroko?" Monsieur Simon mengerutkan keningnya.
"Tidak terjadi apa-apa, Monsieur. Saya hanya ingin mengunjungi tanah kelahiran ibu saya."
"Oh, jadi ibu Anda dari Maroko?" Pria itu tampak terkejut.
"Ya, ibu saya orang Maroko."
Monsieur Simon menelisik wajah Naeva sesaat. "Oh, pantas saja wajah Anda sedikit berbeda dan unik. Kulit anda pun tidak pucat, tapi putih kekuningan. Dulu saya berpikir Anda adalah gadis Perancis yang diberi anugerah kecantikan yang sangat menarik. Ternyata inilah alasannya, Anda memiliki darah campuran dengan Maroko," katanya dengan raut takjub.
Naeva tersenyum. Seperti dugaannya, Monsieur Simon bukanlah orang yang peduli dengan Kasta. Hingga ia tak perlu takut menyatakan dirinya adalah keturunan seorang budak.
"Tapi sebelumnya, saya akan pulang ke Wisteria lebih dulu," ujarnya.
"Wisteria? Itu nama desa Anda?"
"Bukan, itu nama kastil tua saya, Monsieur."
Monsieur Simon lagi-lagi mengernyit, "kastil? Anda tinggal di sebuah kastil?" tanya pria itu.
"Itu hanya sebuah kastil tua peninggalan orang tua saya."
Pria itu menatap Naeva lama. "Anda benar-benar penuh kejutan, M'mselle ...." katanya kemudian. "Saya pikir Anda adalah gadis dari kalangan biasa."
Naeva tertawa pelan, "saya memang gadis biasa, Monsieur," jawabnya.
Tak lama kemudian pengusaha sukses itu telah dipanggil oleh tamu lainnya, sehingga ia terpaksa memutus percakapan mereka dan meninggalkan Naeva sendiri.
Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundak Naeva dari belakang.
Gadis itu menoleh. Dan senyuman lembut Abellard langsung menyambutnya.
"Kau sangat mempesona hari ini. Semua orang bahkan lebih antusias untuk melihat sang desainer daripada pemilik pabriknya," puji pria itu dengan mata memancarkan kekaguman.
"Itu karena dirimu, Monsieur Simon dan Comtesse terlalu melebih-lebihkan tentang aku pada para pengunjung." Naeva tersipu dan menundukkan wajahnya.
Abellard menatapnya hangat. Menikmati raut tersipu malu Naeva yang sangat disukainya. Lalu merogoh saku tuksedo-nya dan mengeluarkan sesuatu.
Sebuah kotak kecil dari kayu yang berukir indah.
__ADS_1
Abellard membuka kotaknya. Hingga terlihat sebuah cincin emas berukir indah dengan berlian merah di tengahnya.
"Ini, cincin pernikahan kita. Aku ingin kau memakainya sekarang," ujarnya.
"Sekarang? Bukannya saat pernikahan?"
"Tidak mesti. Aku sudah tidak sabar untuk menyematkan cincin ini di jarimu."
Naeva menghela napasnya. Abellard selalu tidak sabaran.
Ia pun membuka sarung tangan pendeknya dan mengulurkan tangan pada pria itu.
Dan cincin bermata berlian termahal itu langsung tersemat cantik di jari manisnya, di samping cincin Aster yang ia pakai di jari tengah.
"Masih ada tiga jari lagi yang masih kosong." Naeva menggoyangkan jemarinya sambil tersenyum menggoda.
Abellard terbahak melihatnya. Hingga beberapa orang pengunjung menoleh pada mereka.
Abellard tidak peduli. Hatinya benar-benar sedang bahagia sekarang.
Ia meraih tangan Naeva dan mengangkatnya. Dengan mata terpejam, ia mengecup punggung tangan gadis itu penuh cinta.
Naeva juga memejamkan matanya. Merasakan kecupan bibir sang Comte yang hangat dan mendebarkan itu.
"Aku akan memenuhi seluruh jarimu dengan perhiasan terbaik jika kau mau," tuturnya kemudian. "Namun yang pasti, aku akan memenuhi setiap harimu dengan kebahagiaan."
Tutur kata yang mampu melambungkan hati itu membuat senyuman Naeva seketika merekah.
Akhirnya tibalah waktu untuk Naeva, Abellard, dan Marc kembali ke Kastil Wisteria. Tiga orang yang mendatangi Kastil Marseille dua bulan yang lalu itu kini akan pergi kembali.
Para pelayan serentak menangis. Tak rela melepaskan kepergian Mlle Gaulle yang selama ini telah membuat hari-hari mereka berbeda.
Tak ada lagi kata bosan saat mereka bekerja, Mlle Gaulle selalu saja ada ide untuk memeriahkan suasana.
Gadis itu bahkan sempat mengajarkan mereka membuat pupuk organik dan bercocok tanam.
Kini halaman depan dan belakang Kastil tak lagi gersang. Di depan telah tumbuh bunga, sementara di belakang telah menjadi ladang sayur-mayur.
Comtesse memperbolehkan para pelayan menanam dan mengkonsumsi sesuka hati.
Berbicara tentang Comtesse yang tak lain adalah Mme Aamber, wanita itu ternyata sangat bersyukur telah bertemu dengan gadis yang dulu dihujatnya. Namun untuk meminta gadis itu bertahan di kastilnya, itu bukanlah karakter Mme Aamber. Ia adalah wanita bangsawan yang tak akan pernah memohon pada orang lain.
Naeva menghampiri wanita itu setelah berpamitan pada para pelayan dan juga Maria.
"Saya sangat berterimakasih pada Anda, Ma'am. Atas kebaikan Anda selama ini." gadis itu membungkukkan badannya.
Mme Aamber memasang wajah dingin seperti biasa.
Lalu mengangguk dan menjawab, "ya, tidak perlu berterimakasih. Aku sangat senang kau berada di sini. Kau telah membantu banyak untuk bisnis kami."
Naeva tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya yang sangat senang, Ma'am. Menemukan sosok ibu yang sudah lama tidak saya miliki. Saya sangat menyayangi Anda. Dan jika Anda mengizinkan, saya akan kembali lagi kemari."
Mme Aamber langsung mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya wanita itu antusias.
Reaksi yang samasekali tak diduga Naeva.
Gadis itu langsung mengangguk. "Ya, Ma'am. Saya akan kembali secepatnya jika Anda mengizinkan."
Tanpa disangka-sangka, Mme Aamber tiba-tiba memeluk Naeva. Pelukan lembut yang penuh kasih.
"Terimakasih," ucapnya.
Namun kemudian Sang Comtesse segera melepaskan pelukannya. Dan Naeva melihat wanita itu buru-buru menghapus air mata di sudut matanya sebelum mengalir dan dilihat orang lain.
Hati Naeva seketika terharu. Mendapatkan kasih dari Mme Aamber adalah suatu hal yang sangat ia dambakan.
Sementara itu, di luar sana Abellard sedang mengemas barang-barang bersama Marc.
"Apa sekarang kau yakin kalau aku bisa menjaga Naeva?" Abellard melirik Marc yang sedang memperbaiki tali kekang kuda.
Marc tersenyum tipis.
"Kalau nona Naeva merasa yakin, maka saya juga."
"Apa kau masih menyimpan perasaan padanya?"
Marc menatap Abellard kaget, tak menyangka sang Comte tahu perasaannya. Lalu tersenyum misterius. "Kalau saya mengatakan tidak, apa Anda akan percaya?"
Abellard tampak berpikir. Marc mengatakan tidak, pasti hanya karena tidak ingin merusak kebahagiaan Naeva. Kalau diingat bagaimana pengorbanan Marc untuk Naeva selama ini, mustahil jika laki-laki di sampingnya itu telah melupakan perasaannya.
"Aku tidak percaya," jawabnya.
"Berarti Anda harus belajar untuk percaya bahwa keikhlasan tetap akan mendatangkan kebaikan. Dan Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya," tutur Marc bijak.
"Monsieur Marc!" Sebuah panggilan dari dari arah samping Kastil membuat Marc menoleh.
Amily berdiri di sana dengan senyuman dan sebuah mantel tergantung di lengannya.
Marc membalas senyuman itu. Kemudian beralih pada sang Comte.
"Sebentar, Monsieur. Saya akan segera kembali," ucapnya sembari membungkukkan tubuhnya. Lalu berlari menyongsong Amily.
Abellard memperhatikan sejenak. Melihat Amily menyerahkan mantel berwarna hitam pada Marc dengan wajah tersipu malu. Sepertinya mantel itu hasil jahitannya sendiri.
Bibir sang Comte tampak tersenyum. Ternyata Marc telah menemukan takdirnya.
Pria itu kemudian melangkah masuk. Menjemput cintanya untuk pulang sejenak ke Kastil Wisteria. Memberi kabar pernikahan mereka pada Emma, Adam, Anne dan Edward. Keluarga kecilnya yang tak akan pernah ia lupakan.
Ia juga ingin mengenang kembali, masa-masa amnesia yang membuatnya bertemu dengan seorang kekasih ideal. Gadis taruhan yang telah memenangkan hatinya.
Naeva de Gaulle.
TAMAT
Mau Bonus Chapter?
__ADS_1