
Bab 31
"Cari pelakunya sampai dapat!" Abellard mengepalkan kedua belah tangannya dan berlari kembali menuju Menara Selatan. Ia akan meminta maaf pada gadis yang dicintainya itu dengan penuh penyesalan.
Namun, niatnya seketika tertahan saat melihat Alfred ada di sana. Pria itu duduk menemani Naeva yang tak beranjak sama sekali dari sisi Marc.
Harusnya ia seperti itu. Mendampingi Naeva disaat-saat seperti ini.
"Aku akan menemani Naeva di sini. Anda tak perlu lagi meminta pelayan untuk menemaninya, Monsieur Comte. Aku yang akan melayaninya." Alfred melirik Naeva saat mengatakannya.
Abellard melotot kesal. Namun ia tak mungkin menunjukkan rasa cemburunya lagi dan membuat Naeva semakin kecewa.
Dipandanginya punggung Naeva yang masih duduk membelakangi. Mungkin sekarang Naeva telah malas berurusan dengan laki-laki se-posesif dirinya.
"Baiklah, aku juga akan di sini," ujarnya sembari berjalan ke arah jendela.
"Comtesse mungkin akan mencari anda, Monsieur Comte." Alfred tersenyum mengejek.
Sang Comte tak menjawabnya. Ia akan berusaha bersabar demi menjaga perasaan Naeva.
Namun, seolah keadaan sama sekali tak berpihak padanya, tiba-tiba seorang pelayan datang, dan menyampaikan panggilan Comtesse.
Abellard mencengkeram tepi jendela saat melihat senyum penuh kemenangan di bibir Alfred. Ia kemudian menghampiri gadisnya sebelum keluar. Sungguh ia berharap Naeva menatapnya, memaafkan dan memahami kecemburuannya.
Namun harapannya tak terwujud. Naeva sama sekali tak menatapnya.
"Aku akan turun sebentar. Istirahat lah, Marc akan baik-baik saja." Ia menatap wajah cantik Naeva dari samping dengan perasaan yang berkecamuk. Seandainya Naeva meliriknya sedikit saja, mungkin akan mengurangi rasa bersalah di hatinya.
Abellard akhirnya melangkah berat meninggalkan kamar itu.
Alfred mengiringi langkah Abellard dengan tatapan kemenangan. Ada rasa yang semakin menantang untuk mendapatkan Naeva di hatinya, setelah melihat rasa cinta sang Comte.
"Monsieur Lord Alfred ...." panggil Naeva.
Alfred menoleh. "Ah, lagi-lagi kau memanggilku dengan panggilan aneh itu." Pria itu pura-pura merajuk dengan tampang kecewa.
Naeva menghela napas, merasa jengah dengan sikap Alfred yang terus mengakrabkan diri. "Maaf ... Alfred," ralatnya.
Alfred tersenyum senang.
"Ya? Kau butuh bantuanku?" Pria berwajah bersih itu memasang tampang penuh perhatian.
"Anda lebih baik juga beristirahat di kamar anda. Saya bisa menjaga Marc sendiri," suara Naeva terdengar datar.
Alfred mengernyit. "Maksudmu, aku harus meninggalkanmu hanya berdua dengannya?" tunjuknya pada Marc.
Naeva menoleh dengan raut tak suka. Ia sudah muak mendengar orang meragukan kebersamaannya dengan Marc.
"Memangnya kenapa? Apa anda akan berpikir yang buruk tentang saya? Saya saat ini sedang merawat saudara saya sendiri yang sedang sekarat. Apa itu suatu hal yang buruk?"
Alfred terhenyak melihat reaksi Naeva. Namun kemudian ia tersenyum dan memasang wajah pengertian.
"Tidak, tentu saja bukan seperti itu maksudku. Aku hanya cemas jika kau hanya sendiri menjaganya, mengingat baru saja ada yang ingin meracuni kalian. Kastil ini sangat berbahaya. Berbeda dengan istanaku, kami tak akan melakukan hal senista ini." Laki-laki itu kemudian bangkit dari kursinya. "Tapi kau tak perlu takut. Aku akan menjagamu dari kamar bawah."
Naeva hanya mengangguk. Saat ini ia hanya ingin sendiri. Hatinya masih kecewa pada Abellard.
Ditatapnya Marc yang tak lagi meracau. Mungkin memang lebih baik jika mereka kembali ke Kastil Wisteria.
__ADS_1
***
Esok paginya.
Naeva turun dan menuju ke dapur. Ia akan membuatkan sup hangat untuk Marc. Tak ingin lagi seseorang mengantarkan makanan dan meracuni mereka untuk kedua kalinya.
Ia tak ingin berburuk sangka, tapi melihat penolakan dan sikap sinis penghuni kastil ini, bisa jadi mereka akan mencoba lagi.
Naeva berdiri di ambang pintu dapur yang luas itu sejenak. Mencari letak bahan dapur yang dibutuhkannya. Lalu mulai bergerak untuk memasak. Beberapa pelayan memperhatikannya, namun hal itu tak membuat niat Naeva surut.
Ia mulai mengupas kentang dengan telaten. Inilah untungnya ia tak pernah berpangku tangan saat Emma memasak di dapur. Kini ia bisa mandiri saat keadaan mendesak seperti ini.
Bruk!
Seseorang menabrak dan menumpahkan tepung di bajunya.
"Aw!" seru Naeva kaget.
"Oh, maaf!" ucap pelayan yang menabrak tanpa rasa bersalah.
Naeva menatap gaun coklatnya kini dibaluri tepung dari dada hingga ujung kaki. Sementara itu, ia mendengar suara bisik-bisik dari pelayan lain dan juga suara tawa mereka yang cekikikan menertawainya.
"Itu akan menjadi pelajaran baginya karena telah menempatkan kita di situasi yang sulit. Bisa-bisanya dia datang dan menuduh salah satu di antara kita membubuhi racun di makanan."
"Benar. Padahal sebelumnya tak pernah ada masalah yang seperti ini," timpal yang lain.
Naeva meneguk salivanya. Sepertinya semua pelayan semakin membencinya.
"Ini, ambillah untuk membantu membersihkan tepung di gaun anda." Seorang gadis pelayan menghampirinya dan memberikan sehelai sapu tangan dengan raut iba.
Gadis belia itu tersenyum. "Ambillah tak apa," ucapnya tulus. Tak peduli dengan tatapan protes teman seprofesinya.
"Terimakasih." Naeva menerima sapu tangan berwarna putih itu. Dan membersihkan gaunnya.
Selesai membuat sup, ia langsung membawa hasil masakannya itu ke kamarnya. Semoga Marc sudah bangun dan bisa memakan sup itu. Marc harus cepat sembuh agar mereka bisa secepatnya kembali.
Sejak tadi malam ia memikirkannya, dan sekarang Naeva telah memutuskan untuk pulang ke Kastil Wisteria.
Bukan berarti ia tak ingin memperjuangkan cintanya terhadap Abellard. Ia hanya tak bisa mengorbankan Marc demi cintanya.
Gadis itu berdiri sejenak di depan pintu. Kilasan sikap Abellard kemarin kembali terbayang. Ia menghela napas berat. Sikap Abellard telah berubah. Laki-laki itu mengekang dirinya melakukan ini dan itu. Selalu cemburu buta. Padahal dia sendiri menerima perjodohan dari ibunya. Dan kemarin bahkan Abellard duduk berdampingan dan berbincang-bincang dengan calon istrinya.
Perlahan Naeva membuka pintu.
Marc ternyata telah duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Pria itu tampak begitu lemah.
Naeva segera tersenyum dan menghampiri dengan nampan berisi semangkuk sup hangat dan dua keping roti tawar di tangannya.
"Selamat pagi, Marc. Syukurlah, kau telah bangun. Aku takut sekali kau tak membuka matamu." Gadis itu duduk di samping tempat tidur dan meletakkan nampan sup di atas pangkuannya.
Marc membalas senyuman itu seceria mungkin. Ia tak ingin membuat nona-nya khawatir walau sikap peduli gadis itu sungguh membuatnya bahagia.
"Saya baik-baik saja, M'mselle. Dan saya akan segera sembuh."
Naeva tersenyum lega. "Aku membuatkan sup untukmu," ujarnya.
Mata abu-abu Marc tampak membesar mendengarnya. Nona-nya memasak khusus untuknya? Pria itu langsung tersenyum lebar. Marc merasa momen ini benar-benar membahagiakan. Dan ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia itu.
__ADS_1
"Kau suka?" tanya Naeva penuh perhatian.
Marc mengangguk dalam-dalam. "Ya, saya memang ingin memakan sup," jawabnya.
Naeva kembali tersenyum lega. Lalu menyuapkan sesendok sup untuk Marc.
Marc menyesap kuah sup itu seolah menikmati makanan surgawi. Terlalu nikmat karena nona-nya yang memasakkan dan menyuapi.
"Ini enak sekali," pujinya.
"Tapi tak seenak masakan Emma yang biasa kita makan," ucap Naeva nelangsa. "Aku merindukannya."
Marc meneguk salivanya mendengar lirih suara Naeva. Ia juga merindukan keluarga dan kebersamaan mereka di Kastil Wisteria. Tapi ia harus tegar, demi keselamatan sang Nona.
"Marc ... setelah kau sembuh, kita akan pulang."
Pria itu menatap nona-nya khawatir. Apa yang membuat Nona Naeva mengajak pulang? Mungkinkah perlakuan para penghuni kastil ini telah membuatnya tak tahan? Tapi sejauh Marc mengenalnya, sang nona tak akan gentar dan terpuruk hanya karena perlakuan buruk orang lain.
***
Abellard melangkahkan kakinya lebar-lebar menghampiri dua gadis kembar yang tengah menikmati buah di ruang duduk bersama Lady Angelia dan Lord Alfred.
"Lucie, katakan sekarang, kenapa ada racun di dalam makanan yang kau bawakan untuk Mlle Gaulle?!" tanya pria itu dengan nada tajam.
Lucie tampak terperanjat mendengar pertanyaan tajam itu tiba-tiba. Ia berpikir dirinya akan lepas, setelah interogasi hanya dilakukan terhadap para pelayan.
"Aku tak tau, sepupuku. Aku hanya mengantarkan dan tidak memasaknya. Sudah pasti para pelayan yang bertugas di dapur pelakunya!" jawab Lucie panik. Matanya yang besar tampak berkaca-kaca. Ia tak pernah mengalami hal buruk seperti ini. Ia merasa semua kekacauan ini datang gara-gara Mlle Gaulle yang sombong itu!
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku akan menanyakan alasanmu mengantarkan makanan itu!"
Lucie segera menoleh pada Lady Angelia.
"Aku diminta oleh Lady Angelia."
Tatapan Abellard langsung beralih pada sang Lady, begitu pun dengan yang lain.
"Anda? Untuk apa?" Abellard menatapnya curiga.
Lady Angelia tampak begitu tenang. Seolah dirinya sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan masalah itu. Gadis cantik berwajah seperti seorang peri itu menjawabnya dengan tampang prihatin.
"Aku memintamu untuk menghibur Mlle Gaulle karena sepertinya dia itu tak disukai di kastil ini. Bukan suatu yang mengherankan jika salah satu pelayan meracuninya. Tapi aku tak setuju dengan cara seperti itu. Itu sangat kejam," ucapnya tanpa beban.
Visual:
__ADS_1