Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 73


__ADS_3

Bab 73:


Maria semakin mempercepat langkahnya ke arah kamar Comte Abellard. Hatinya benar-benar kesal pada Lady Angelia. Selalu saja gadis yang tampak bermartabat namun ternyata berhati jahat itu, mencari masalah.


"Kenapa lagi putri dari Inggris itu menemui Monsieur Comte?!" gerutunya.


Amily yang masih mengikuti dua langkah di belakangnya langsung menjawab dengan menggebu-gebu.


"Lady Angelia dan orangtuanya berencana meminta Monsieur Comte membelikan tanah untuk mereka, Ma'am. Saya mendengar sendiri musyawarah mereka."


Langkah Maria langsung terhenti. Namun sedetik kemudian ia kembali melangkah lebih cepat sambil menggerutu lagi, "dasar, keluarga serakah. Sangat memalukan!"


Di hadapan pintu kamar Abellard Maria melihat Comtesse dan Lady Angelia. Wanita itu sangat bersyukur, ternyata ia belum terlambat.


"Lady Angelia, ternyata Anda juga di sini? Ada perlu apa?" tanya Maria sengaja mengalihkan perhatian Mme Aamber.


Lady Angelia menoleh pada Maria dengan tatapan tak suka. Asisten kepercayaan Comtesse ini terlalu dekat dengan gadis kampung yang telah merebut Abellard darinya.


"Dia ingin mengantarkan buah untuk Abellard," sela Mme Aamber. "Maria, cepat panggilkan Dokter. Aku akan melihat Abellard sekarang," perintahnya sembari meraih gagang pintu untu membukanya.


Mata Maria dan Amily seketika melotot melihatnya. Jantung mereka seakan berhenti berdetak. "Tunggu dulu, Comtesse!" sergah Maria dengan suara keras dan panik.


Mme Aamber menoleh tak sabar. Di dalam sana putranya pasti sedang sangat kesakitan. Abellard pasti sangat menderita. Hatinya baru saja terluka, dan sekarang tubuhnya pun sakit.


"Ada apa lagi, Maria?!" tegur wanita itu kesal.


"Pintunya masih terkunci, Ma'am. Dan sebenarnya Anda tidak perlu masuk. Bukankah Anda ingin Monsieur Comte menyendiri untuk beberapa waktu?"


"Lady Angelia bilang pintunya sudah terbuka."


Wajah Maria seketika pucat mendengarnya. Marc sudah membukakan pintu?


"Lagipula kenapa kau melarangku masuk? Apa kau tak berpikir bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membiarkan Abellard sendiri?! Cepat panggilkan Dokter sekarang!" Mme Aamber menatap marah pada Maria.


"Bukan seperti itu, Ma'am. Saya melarang Anda karena sebenarnya Monsieur Comte tidak sedang sakit."


Mme Aamber mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Sebenarnya Monsieur Comte tadi pagi cuma menegur Amily karena terlambat membawakan sarapan. Dia mengatakan, bahwa dirinya sampai sakit perut karena menunggu. Saya yakin sekarang setelah sarapan Monsieur Comte akan baik-baik saja."


Mme Aamber menoleh pada Amily.


"Gadis bodoh! Kenapa kau sampai terlambat mengantarkan sarapan? Kebodohamu itu juga telah membuat semua orang panik!" ketusnya marah.


"Maafkan saya, Ma'am. Saya berjanji tidak akan terlambat lagi."


"Tidak perlu! Aku tidak perlu gadis bodoh untuk melayani putraku!" Mme Aamber kemudian beralih menatap Maria, "mulai nanti, carikan pelayan lain untuk mengganti tugasnya."


Maria menatap Amily sesaat. Tak mungkin ia mencari pelayan lain untuk masuk dalam sandiwara ini. Wanita itu kemudian memberikan kode pada Amily untuk meninggalkan tempat itu.


Setelah Amily pergi, Maria membungkukkan sedikit badannya pada Mme Aamber seraya menjawab, "saya sendiri yang akan mengantarkan makanan untuk Monsieur Comte mulai nanti, Ma'am."


Mme Aamber menatap Maria lega. "Baiklah kalau begitu, aku akan lebih tenang jika kau yang mengurusnya langsung."


Lady Angelia yang merasa tujuannya tertunda karena kedatangan orang-orang ini mendecak kesal dalam hati. Padahal ia nyaris bertemu dengan Abellard dan melancarkan rencananya.

__ADS_1


"Maaf Comtesse. Biar aku saja yang menjenguk Abellard sekalian membawakan buah ini," ujarnya dengan nada dan raut wajah yang dibuat selembut mungkin.


Maria langsung menyela. "Lady Angelia, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah tanah dengan Monsieur Comte!"


Mata Lady Angelia seketika terbelalak mendengarnya. Bagaimana Maria bisa tahu tujuannya?


Sementara itu Mme Aamber tampak mengernyit bingung.


"Masalah tanah? Apa maksudmu, Maria?"


Maria melirik sang Lady sekilas sebelum menjawabnya. Tampak gadis itu meneguk salivanya dengan wajah pucat.


"Lady Angelia ingin meminta Monsieur Comte membelikan tanah untuknya."


"Kau jangan sembarangan bicara, Maria!" sentak sang Lady, mencoba menutupi kecemasannya.


"Saya tidak sembarang bicara, my Lady. Anda baru saja memusyawarahkan masalah itu dengan kedua orangtua Anda," balas Maria. Tenang dan berwibawa.


Mme Aamber langsung menatap Lady Angelia. "Apa benar yang dikatakan Maria, Lady?"


"Tidak. Tidak seperti itu, Ma'am," bantah Lady Angelia gugup.


Melihat sikap gugup sang Lady, Mme Aamber langsung tahu bahwa yang dikatakan Maria itu benar. Mme Aamber memang menyadari sifat materialistis calon besannya. Tapi ia tak menyangka mereka akan memanfaatkan putranya seperti ini.


Dengan hati yang mulai tak suka, Mme Aamber menatap marah. "Berikan keranjang buah padaku, Lady. Biar aku sendiri yang memberikannya pada putraku. Kau bisa kembali menemani kedua orangtuamu."


Lady Angelia terhenyak. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kemarahan dari sang Comtesse. Tanpa bisa berkata apa-apa, gadis itu terpaksa membiarkan keranjang buah diambil dari tangannya.


Lalu berbalik dengan perasaan bercampur aduk. Malu, marah dan kesal setengah mati.


"Aku akan melihat Abellard, Maria. Kau tak perlu lagi memanggilkan Dokter," ucapnya sembari meraih kembali gagang pintu.


Seketika itu juga jantung Maria kembali serasa berhenti berdetak. Matanya menatap tangan Mme Aamber dengan napas tertahan.


Ceklek!


Gagang pintu ditekan dan didorong.


Maria merasa kerongkongannya tercekat. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mencegah Mme Aamber. Bahkan suaranya sama sekali tak bisa keluar. Sementara itu keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.


Tangan sang Comtesse tampak terhenti. Lalu kembali menekan gagang pintu dan mendorongnya.


"Kenapa tak bisa dibuka?" tanya wanita itu.


Maria menatap bingung. Apa sebenarnya Marc tidak membuka pintu?


"Ke-kenapa, Ma'am? Apa ... pintunya tak bisa terbuka?" tanya Maria masih dengan degup jantung yang kencang.


"Tidak bisa. Bukannya tadi Lady Angelia mengatakan bahwa pintunya telah dibuka Abellard?"


Maria langsung menghembuskan napas lega. Wanita itu menyapu keningnya yang berkeringat dengan punggung tangan.


"Saya memang mulai kurang percaya dengan gadis itu, Ma'am. Maaf kalau saya lancang," jawab Maria. Setelah mengetahui bahwa yang meracuni makanan Mlle Gaulle adalah Lady Angelia, hati Maria langsung merasa benci dan tak bisa memaafkan gadis itu.


Mme Aamber terdiam sejenak.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, biarkan Abellard beristirahat. Setelah dia merasa baik-baik saja, dia akan keluar dengan sendirinya," tuturnya kemudian.


"Baik, Ma'am. Saya akan menjaganya," Maria membungkukkan sedikit badannya. Sampai sang Comtesse kemudian meninggalkannya.


**


Beberapa saat yang lalu, Marc berdiri waspada di belakang pintu. Jantungnya tetap tak bisa tenang setiap kali harus membuka pintu itu. Harusnya Amily tak perlu membawanya buah-buahan.


Tangannya terulur untuk memutar kunci pintu kamar.


Ceklek!


Setelah itu, tubuhnya cepat-cepat bersembunyi di belakang pintu. Matanya menatap awas pada gagang pintu yang berwarna emas itu.


Tampak gagang itu ditekan.


"Lady Angelia! Kenapa berdiri di sini?"


Tiba-tiba sebuah suara dari luar mengejutkannya. Tubuh Marc seketika menegang kaku.


Itu suara Comtesse!


Dan wanita itu baru saja memanggil Lady Angelia yang katanya berdiri di depan pintu. Jadi ternyata yang membawakan buah buah itu bukan Amily?!


Oh Mon Deu!


Bagaimana ini?


Wajah Marc seketika memucat.


"Saya ingin mengantarkan buah untuk Abellard, Ma'am," jawab Lady Angelia.


"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menemuinya dulu?" suara Mme Aamber terdengar marah.


"Maafkan saya, Ma'am. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan Abellard. Saya takut dia sakit."


"Ya, Abellard memang sedang sakit, dia pasti tidak bisa bangun untuk membukakan pintu." Suara Mme Aamber terdengar melembut. "Tolong carikan Maria dan suruh ambil kunci cadangan di kamarku."


"Tidak perlu, Ma'am. Abellard telah membuka pintunya," sergah Lady Angelia.


Marc meneguk salivanya, ini benar-benar gawat! Mereka akan masuk. Ia harus menyamar menjadi Abellard. Tapi bagaimana caranya?


"Lady Angelia, ternyata Anda juga di sini? Ada perlu apa?"


Tiba-tiba terdengar suara Maria. Ya, itu benar suara Maria, Marc sudah menghafalnya. Seketika itu hatinya bersorak lega.


"Dia ingin mengantarkan buah untuk Abellard," terdengar Comtesse yang menjawab.


Marc menarik napas dalam-dalam. Ini kesempatannya. Mereka sedang sibuk berbicara. Semoga tidak ada yang mendengar suara kunci pintu.


Marc segera mengulurkan tangannya. Dan ....


Ceklek ....


Hanya pembaca yang bisa mendengar suara itu. 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2