Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 32


__ADS_3

Abellard menatap sepupunya dengan tatapan tajam. "Lucie, aku ingin tahu alasanmu mengantarkan makanan itu!"


Aku diminta oleh Lady Angelia." Lucie menjawab pertanyaan Abellard dengan raut panik.


Tatapan Abellard langsung beralih pada sang Lady, begitu pun dengan yang lain.


"Anda? Untuk apa?" Abellard menatapnya curiga.


Lady Angelia tampak begitu tenang. Seolah dirinya sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan masalah itu. Gadis cantik berwajah seperti seorang peri itu menjawabnya dengan tampang prihatin.


"Aku meminta Lucie untuk menghibur Mlle Gaulle, karena sepertinya dia itu tak disukai di kastil ini. Bukan suatu yang mengherankan jika salah satu pelayan meracuninya. Tapi aku tak setuju dengan cara seperti itu. Itu sangat kejam."


"Ya, aku setuju. Pelakunya harus ditemukan. Aku tak mau namaku tercemar. Karena aku tak mungkin melakukan perbuatan yang membahayakan nyawa orang seperti itu," timpal Lucie cepat.


"Huh!" terdengar suara dengusan dari arah Louise. "Seolah kau sangat peduli dengan nyawa orang lain. Kau berpura-pura tak tahu apa-apa saat Mlee Gaulle memintamu memanggilkan Dokter," sindirnya sinis. Lalu bergerak bangkit dan dan meninggalkan ruang duduk itu sembari menggerutu, "lebih baik aku pergi berbelanja dari pada harus berkumpul dengan orang munafik."


Lucie menatap kembarannya itu dengan tatapan kecewa. Perempuan yang serupa dengannya itu tak pernah sekalipun peduli terhadap dirinya sebagai saudara. Padahal mereka dikandung dan dilahirkan dalam waktu yang sama.


Sementara Lady Angelia menatap Louise dengan raut tak suka. Menurutnya Louise terlalu bar-bar dan tegas. Dan itu bukan tipe orang yang bisa ia manfaatkan.


Abellard ikut meninggalkan ruangan itu dengan otak yang terus mencari solusi. Ia benar-benar bingung menghadapi masalah ini. Karena sama sekali tak bisa mengingat karakter orang-orang yang tinggal di kastilnya.


Hanya satu orang yang bisa ia tanyai dan bisa dipercaya. Yaitu Maria.


Kebetulan sekali wanita yang memiliki empati tinggi terhadap orang di sekitarnya itu sedang tidak berada di kamar ibunya. Abellard segera menghampiri.


"Maria, aku ingin mengajak bicara sebentar, apa kau punya waktu?"


Maria menatap putra asuhannya itu hangat. Cara berbicara Abellard sekarang, juga sangat berubah dan menyejukkan hati. Dulu sang Comte hanya tahu memerintah dengan nada bicara yang ketus dan dingin.


"Tentu saja," jawab Maria dengan senyuman. "Anda ingin membicarakan apa?"


"Sebaiknya kita berbincang di ruang baca."


"Baik, Monsieur Comte."


Abellard kemudian berjalan beriringan, dengan Maria di sisi kanannya.


"Maria, apa dulu ... aku adalah orang yang baik?"


Maria kembali tersenyum mendengar pertanyaan Abellard.


"Anda ingin jawaban yang semestinya atau yang sebenarnya?"


"Maksudnya?"


"Maksud saya, jawaban yang semestinya dari kami para pelayan tentu saja majikan yang kami layani adalah orang yang baik. Tapi jika anda ingin jawaban yang sebenarnya, maka jabarannya akan sangat panjang," jawab Maria yang kemudian tertawa pelan.


"Aku ingin jawaban yang sebenarnya." Abellard menatap Maria cemas. Sepertinya dulu dirinya memang bukan orang yang baik.


Maria terus melangkah pelan di samping anak muda yang telah dikenalnya sejak lahir itu.


"Saat kecil, anda adalah kesayangannya Comte of Marseille, ayah anda. Abellard adalah nama pemberiannya untuk putranya yang sangat pintar. Sampai usia 12 tahun, anda masih sosok anak yang ramah dan suka menyapa seperti ayah anda. Namun setelah beliau tiada, anda berubah. Dingin dan .... kesepian," cerita Maria.


Abellard masih terdiam setelah mendengarkannya. Tatapannya tampak nelangsa, seolah kisah yang diceritakan Maria membuatnya merasakan kembali rasa kesepian itu.

__ADS_1


"Begitukah?" gumamnya kemudian.


Ruangan baca yang mereka tuju adalah sebuah ruangan yang luas dengan begitu banyak rak buku berukuran besar.


"Ini adalah ruangan favorit anda, Monsieur. Makanya saat anda mengajak bicara di ruangan ini, saya berpikir ingatan anda telah kembali."


"Tidak, saya belum mengingatnya. Hanya merasakan." Abellard memilih sebuah kursi yang berhadapan dengan jendela.


"Ruangan ini juga favorit ayah anda, karena beliau sangat suka membaca. Dulu saat anda berusia 4 tahun, anda sering bermain di sini bersamanya," terang Maria sembari duduk di kursi lainnya.


Abellard memperhatikan sekelilingnya. Namun tak ada momen apapun yang terekam memorinya di dalam ruangan itu.


Setelah beberapa saat terdiam, pria itu menghela napasnya.


"Maria, bagaimana dengan sifat Lucie dan Louise?" Abellard kembali pada pokok masalah yang ingin ditanyakan.


"Mlle Lucie bersifat lemah dan penakut. Dia selalu merasa minder, bahkan dengan saudara kembarnya sendiri. Sehingga dia cenderung mencari perhatian, dan takut dinilai sebagai orang yang tak bisa diandalkan."


Abellard mencerna penjelasan Maria. Rasanya tak mungkin orang yang bersifat seperti itu berani meracuni orang lain.


"Sedangkan Mlle Louise adalah orang yang tak mau tau urusan orang lain. Tak suka diganggu dan sangat boros."


Sang Comte bergumam pelan. "Mungkinkah dia?" Abellard berpikir kalau Louise memiliki alasan untuk memusuhi Naeva. Ia mendengar ibunya menggerutu mengenai Maria yang memberikan kamar Louise pada Naeva, sehingga membuat keponakannya itu marah-marah.


"Bagaimana dengan Lady Angelia dan Lord Alfred?"


"Saya tidak begitu mengenal mereka. Mereka adalah kolega ayah anda dahulu."


"Apa dulu pernah terjadi tindak kriminal di kastil ini?"


"Belum pernah, Monsieur. Belum pernah sama sekali." Maria menjawab pasti.


"Baiklah, Maria. Aku ingin meminta bantuanmu menyelidiki masalah ini."


"Baik, Monsieur. Akan saya bantu semampu mungkin."


Abellard bangkit dari duduknya. Namun kemudian, ia duduk kembali.


"Satu lagi, Maria. Tolong pesankan 1000 tangkai bunga untukku."


Maria menatap sang Comte bingung.


"1000 tangkai bunga?" Maria memastikan kembali.


Pasalnya selama ini, bunga hanya dipakai sebagai bahan makanan. Comte memesan seribu tangkai bunga untuk di masakkan makanan apa?


"Ya, bunga apa saja. Aku ingin menghiasi Menara Selatan agar dia tak terlalu merindukan Kastil Wisteria," jawabnya.


"Oh ...." desah Maria sembari menahan senyum, ia langsung mengerti keinginan sang Comte.


***


Naeva membuka pintu kamarnya saat seseorang mengetuk. Seorang pelayan laki-laki berdiri di ambang pintu dengan satu keranjang besar penuh dengan bunga.


"Ada apa?" Gadis itu memperhatikan sang pelayan dengan raut bingung.

__ADS_1


"Monsieur Comte meminta kami mengantarkan bunga ini untuk anda, M'mselle."


"Untuk saya? Untuk apa?"


"Saya tidak tahu, M'mselle. Kami hanya diperintah membawa bunga ini kemari."


"Kami?" Naeva tak mengerti dengan maksud 'kami' dari seorang pelayan itu.


"Ya," jawabnya. "Saya izin masuk, M'mselle."


Naeva memberi ruang sembari mengangguk bingung. Kemudian ia melihat pelayan-pelayan lain ikut masuk dengan membawa keranjang-keranjang bunga pula.


Mulut gadis itu seketika terbuka. Takjub sekaligus bingung. Ternyata bukan hanya satu orang pelayan yang mengantarkan bunga untuknya.


Marc yang masih terbaring di atas tempat tidur pun tampak kaget melihatnya.


"Ada apa ini?"


"Entahlah, Marc. Abellard yang memerintahkannya."


Naeva dan Marc hanya bisa menatap dalam kebingungan. Terhitung sekitar 10 keranjang besar bunga yang dimasukkan. Untunglah keep (kamar menara) itu cukup luas.


Setelah pelayan laki-laki keluar, masuklah para pelayan wanita yang membawa vas bunga berisi air. Mereka langsung merangkai bunga-bunga itu ke dalam vas.


"Di mana saja kami harus meletakkan vas bunga ini, M'mselle?" tanya salah seorang pelayan.


"Di mana saja ... di mana saja baiknya," jawab Naeva gugup.


Pelayan itu mengangguk dan kembali bekerja.


Kamar Naeva kini dipenuhi bunga-bunga segar yang mengeluarkan aroma harum.


Setelah para pelayan keluar, gadis itu mengelilingi kamarnya. Memperhatikan dengan takjub bunga segar dengan beragam jenis dan warnanya itu.


Apa maksud Abellard memberikan bunga sebanyak ini?


Naeva merunduk dan menghirup aroma bunga yang diletakkan di atas meja.


Sementara Marc terus memperhatikannya.


Bibir sang nona tampak tersenyum. Jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga dengan raut bahagia. Nona Naeva memang sangat menyukai bunga. Makanya di Kastil Wisteria mereka memiliki taman bunga yang berkembang dengan subur.


Awalnya Marc mengira semua wanita menyukai bunga, karena Anne juga begitu. Adiknya itu tak pernah lalai menjaga kebun bunga, bahkan Edward pun di ajak menanam bunga. Tapi ternyata, Anne hanya meniru Naeva. Marc tahu jika Anne sangat mengagumi nona mereka itu. Begitu pula dengan dirinya.


Namun hati Marc tiba-tiba merasa resah, memikirkan makna bahagia dari raut cantik sang nona. Apakah hanya karena bunga-bunga itu, atau karena pemberinya juga?


Marc tahu, Abellard menyukai Naeva. Tapi ia tak tahu bagaimana perasaan nona-nya terhadap sang Comte.


"Marc?" panggil Naeva.


Membuat Pria bermata abu-abu itu tersadar dari lamunannya. Dan saat matanya bertemu pandang dengan Naeva, pria itu tersadar, tak seharusnya ia meresahkan perasaan sang nona. Karena perasaannya sendiri terhadap Nona Naeva hanya boleh sebatas kekaguman. Ah ... hatinya menjadi kacau karena pengakuan nona-nya dua hari lalu, yang menginginkan anggapan lebih darinya.


"Kau tak terganggu dengan bunga-bunga ini, bukan?"


"Ti-tidak, M'mselle."

__ADS_1


"Baguslah, karena menurutku harum bunga ini bisa menjadi aroma terapi agar kau cepat sembuh."


Marc mengangguk. Wajahnya kembali terasa panas. Ya Tuhan ... bagaimana ia bisa memungkiri perasaannya jika perhatian sang nona selalu membuat jantungnya berdebar?


__ADS_2