Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 36


__ADS_3

Naeva berbalik masuk kembali. Namun belum sempat ia membuka pintu, seseorang memanggilnya dari arah tangga.


"Mlle Gaulle!"


Naeva menoleh dan melihat Alfred muncul dengan senyuman percaya dirinya.


"Bagaimana kabarmu hari ini?"


Naeva sedikit membungkuk hormat. "Baik, My Lord. Bagaimana dengan anda?" jawabnya.


Alfred tersenyum senang mendengar sambutan Naeva.


"Aku sangat senang hari ini. Karena aku baru menemukan tempat berkuda yang sangat indah di Marseille."


"Oh, benarkah?" Naeva tertarik mendengarnya. Ia paling suka sesuatu yang bersangkutan dengan alam.


Alfred tampak semakin semangat.


"Ya, benar-benar indah. Kau takkan pernah menemukan tempat yang lebih hijau di Marseille daripada yang kutemukan ini. Karena itu, aku datang untuk mengajakmu berkuda bersamaku esok pagi."


Naeva memang tertarik. Karena ia butuh suasana segar untuk menenangkan pikiran selama beberapa hari terkurung di kamar menara. Tapi berkuda bersama Lord Alfred tentu bukan pilihan yang menyenangkan. Karena ia tak pernah merasa nyaman dengan pria Inggris itu.


"Maaf, My Lord. Saya tidak bisa ikut. Mungkin lain kali, karena Marc juga belum benar sembuh."


Alfred seketika merasa kecewa.


"Pria itu hanya mencari kesempatan dari kebaikanmu, M'mselle. Benar-benar benalu!" sindirnya sinis.


Naeva terhenyak mendengarnya, matanya langsung menyipit dengan raut tak suka.


Menyadari reaksi Naeva yang marah mendengar ucapannya, Alfred langsung mengubah topik pembicaraan.


"Kalau kau tidak bisa ikut berkuda, aku harap kau mau menemaniku untuk makan malam nanti."


Naeva langsung menggeleng, "maaf, saya tak bisa. Saya izin masuk dahulu, My Lord. Selamat malam." Naeva cepat-cepat berbalik masuk ke kamarnya dan menutup pintu.


Meninggalkan Alfred yang berdiri di hadapan pintu dengan wajah merah padam. Pria itu mengepalkan tangannya sembari menggeram marah, kemudian memukuli dinding dengan kepalan tangannya.


***


Pagi yang mendung.


Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan kemeja sutra putih berdiri di hadapan pintu sebuah kamar dengan tangan terkepal penuh tekad. Itulah sang Comte. Pewaris tunggal keluarga bangsawan di Kota Marseille.


Hari ini ia akan memperjuangkan cintanya. Mengatakan pada ibunya bahwa ia akan segera menikahi Naeva.


Abellard tahu, karena statusnya sebagai Comte yang masih lajang dan satu-satunya penerus Kastil Marseille, ia tak bisa memilih jodohnya sendiri.

__ADS_1


Seperti bangsawan muda lainnya. Mereka akan dijodohkan dengan perempuan dari keluarga bangsawan yang sederajat. Yang memiliki properti dan bisnis yang bisa saling mendukung. Perjodohan itu akan membawa keuntungan di kedua belah pihak keluarga.


Namun setelah menikah para bangsawan muda itu akan tetap bersama kekasihnya dalam hubungan gelap.


Abellard tak ingin seperti itu. Ia hanya ingin membina hubungan yang murni karena cinta, yang bersih tanpa noda perselingkuhan. Dan itupun hanya dengan Naeva seorang.


Tok tok


Abellard mengetuk pintu kamar ibunya.


"Ini aku Mère, Abellard," ucapnya.


Tak berapa lama terdengar suara sahutan dari dalam. "Masuklah."


Abellard membuka pintu kamar ibunya dan melihat sang Comtesse sedang berdiri di hadapan sebuah lukisan. Lukisan yang belum pernah ia lihat sebelumnya tergantung di dinding kamar mewah itu.


"Apa itu lukisan baru, Mère?" Abellard menaikkan sebelah alisnya.


"Kau tak mengingatnya?" Mme Aamber balik bertanya dengan raut menyelidik.


Abellard memperhatikan lukisan bergambar wanita cantik itu sejenak, lalu menggeleng.


Mme Aamber tersenyum. Namun entah kenapa, Abellard merasa ibunya itu tampak lega melihatnya menggeleng.


"Wanita dalam lukisan ini mirip dengan Mère," ujar Abellard sembari memperhatikan lukisan itu kembali.


Abellard dapat merasakan suasana hati ibunya yang sedang gembira, dan ini kesempatan bagus untuknya.


"Ada apa sampai kau menemui Mère? Apa ada masalah?"


Abellard menatap ibunya lurus. "Ya, ada yang ingin aku bicarakan."


Comtesse berjalan ke arah meja kecil tempat ia biasa menikmati teh seorang diri ataupun bersama Maria.


"Duduklah," pintanya pada sang putra.


Abellard melangkah dan duduk di hadapan ibunya.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa kau sudah memutuskan hari apa yang cocok untuk pernikahanmu?"


"Ya Mère, aku sudah memutuskan hari pernikahanku. Dan itu secepatnya."


Comtesse tersenyum lebar mendengarnya. "Kau lihat? Mère memang tak salah memilih menantu. Kau pasti akan menyukai Lady Angelia!" seru wanita paruh baya itu senang.


"Tidak Mère, bukan dengan Lady Angelia, tapi dengan Naeva."


Jawaban Abellard membuat wajah sang Comtesse membeku seketika. Senyuman kebahagiaan yang menghiasi wajah cantiknya dalam sekejap menghilang.

__ADS_1


Mme Aamber langsung bangkit dari kursinya dengan raut murka. "Apa yang kau katakan Abellard?! Apa kau sudah kehilangan akal?!" Suaranya tiba-tiba menggelegar. Lalu berbalik dan melangkah gusar ke arah jendela.


"Aku tak bisa menikah dengan orang lain, Mère! Karena aku hanya mencintai Naeva!"


"Tapi hidup ini bukan hanya pasal cinta, Ma Fils!" (putraku)


Mme Aamber berkata sembari melirik lukisannya tadi dengan raut nelangsa.


"Mère, hidup memang bukan hanya pasal cinta, tapi hidupku ini hanya pasal Naeva! Karena tanpa Naeva aku tak akan bisa hidup!"


Sang Comtesse berbalik kembali dan memelototi putranya. "Naeva de Gaulle itu bukan wanita baik-baik, Ma Fils! Dia ingin memanfaatkanmu!"


"Tidak, Mère. Naeva mencintaiku!" jawab Abellard yakin.


"Kalaupun dia mencintaimu, itu karena dia mengetahui siapa dirimu sebenarnya."


Abellard menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Sebelum utusan Mère datang, Naeva tidak mengetahui siapa aku sebenarnya, Mère. Kastilnya itu berada terpisah dari pedesaan. Dan dia juga tak pernah pergi jauh apalagi ke kota! Dia tak tahu menahu tentang siapa saja yang berpengaruh di kota."


"Lantas, kenapa ia tak menyuruhmu mencari tahu jati dirimu yang sebenarnya? Kenapa dia malah memberikanmu identitas palsu?"


"Semua karena cinta, Mère. Naeva jatuh cinta padaku dan tak ingin melihatku pergi. Mère tak akan mengerti karena Mère tak mementingkan cinta!"


Mme Aamber terdiam mendengarnya. Tersirat sebuah rasa pedih di mata wanita itu mendengar ucapan Abellard yang terakhir.


Cinta? Tentu saja ia mengerti cinta. Ia bahkan sangat mengerti bagaimana cinta bisa melukai hatinya dengan teramat dalam.


Setelah beberapa saat, wajah yang menyiratkan luka dari hati itu, kembali membeku. Bibir tipisnya sampai terlihat seperti sebuah garis lurus. Dan Sang Comtesse kembali mendebat putranya.


"Dia itu gadis yang miskin, kau pikir dia akan menanggung hidup seorang pemuda tanpa alasan tertentu?"


Kali ini Abellard tersenyum sembari mengangguk. Bayangannya tentang Naeva selalu menarik dan membuatnya ingin selalu memuji. "Ya, Naeva memang begitu, dia tak pernah mempunyai alasan saat menolong orang lain. Dia juga menampung seorang bocah pengemis, selain sebuah keluarga pelayan di kastil tuanya. Apa Mère juga berpikir dia juga ingin menjerat bocah pengemis itu?"


Mme Aamber benar-benar kehilangan kata-kata. Ia tak tahu harus mendebat putranya bagaimana lagi.


"Naeva adalah gadis yang sangat baik, Mère. Setelah mengenalnya nanti, Mère akan tahu bahwa penilaian Mère terhadapnya salah!" lanjut Abellard.


Setelah itu, ia tak lagi menunggu debat dari ibunya. Pria itu kemudian melangkah meninggalkan kamar itu.


Ia menarik nafas dalam-dalam. Rasanya tak sabar untuk menyelesaikan semua rencananya agar bisa menikahi Naeva.


Tujuannya sekarang adalah mengumpulkan semua penghuni kastilnya untuk disidak. Kalau perlu ia akan memakai cara yang kejam sekalipun. Ia harus memastikan keadaan kastilnya itu aman untuk Naeva.


Maria yang sedang berdiri di depan kamar majikannya itu menatap wajah ambisius sang Comte dengan kening mengernyit.


"Ada apa, Monsieur Comte?"


"Maria, kumpulkan semua penghuni Kastil ini di aula. Aku akan memberi pengumuman!" perintahnya tegas. Lalu segera melangkah ke arah aula untuk menunggu.

__ADS_1


__ADS_2