
Bab 54
Naeva bergegas turun dari tempat tidur mewah Abellard dan melangkah pergi tanpa berkata apapun.
Tap ....
Tangannya diraih lembut oleh sang Comte.
"Maafkan aku ...." bisik pria itu.
"Buat apa? Kau tetap tak mempercayaiku," jawab Naeva tanpa menoleh.
"Aku percaya. Aku telah mendengar semuanya tadi malam saat kau berhalusinasi."
Naeva menoleh, "halusinasi?" wajahnya tampak bingung.
"Ya, Alfred mencampur minuman yang diberikannya padamu semalam dengan ramuan yang membuatmu berhalusinasi."
"Benarkah? Buat apa?" Naeva bertanya polos.
"Karena dia berniat jahat padamu. Sudahlah, jangan tanyakan itu lagi. Yang penting sekarang dia akan pergi dari sini." Abellard menarik pelan tangan Naeva, "duduklah ...." pintanya lembut.
Naeva menurut. Ia duduk kembali di tepi tempat tidur. Sementara Abellard tetap duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Abellard menatapnya teduh, lalu menarik napasnya dalam-dalam. "Aku ... benar-benar minta maaf, Naeva. Aku baru tahu bahwa kau sangat ketakutan saat aku akan menjemputmu. Aku hanya memikirkan perasaanku saja. Aku merasa hanya aku yang benar-benar mencintaimu dengan tulus bahkan aku berjuang melawan maut untuk menjemputmu sekaligus menyatakan cintaku padamu. Setelah mengingat itu semua, aku menjadi sakit hati karena kau bohongi. Tapi sekarang aku mengerti Naeva, kau juga terpaksa berbohong karena keadaan, dan kau tidak tahu sama sekali tentang cintaku."
Naeva mengernyit. "Kau jatuh cinta padaku sebelum kita bertemu?"
Abellard menunduk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bibirnya yang menawan tampak tersenyum malu-malu. Naeva merasakan jantungnya berdetak kencang, Abellard terlihat begitu manis saat tersipu seperti itu. Apalagi jika mengingat sang Comte yang dihormati semua orang itu saat ini sedang malu-malu kucing terhadap dirinya.
"Aku ... jatuh cinta padamu sejak melihat fotomu yang diserahkan ayahmu waktu itu."
Naeva terhenyak, tak menyangka Sang Comte Abellard Marseille yang awalnya ia pikir akan menjemputnya untuk dijadikan budak, ternyata malah ingin menjadikannya istri. Dan satu hal lagi yang membuat Naeva tak bisa berkata-kata, sang Comte telah jatuh cinta hanya dengan melihat fotonya.
"Mungkin terdengar tak masuk akal, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Aku jatuh cinta untuk yang pertama kali, dan cintaku pun jatuh saat pandangan pertama."
"Tapi ... aku hanya gadis taruhan," ujar Naeva dengan raut tak percaya. Tak mungkin rasanya seorang Comte populer yang bisa mendapatkan gadis bermartabat manapun yang dia inginkan, tapi malah jatuh cinta pada seorang gadis yang menjadi taruhan judi?
"Aku tak pernah bertaruh untuk seorang gadis. Aku mendekati meja ayahmu hanya untuk menolong seorang gadis malang yang tak tahu bahwa dirinya sedang diperebutkan bangsawan-bangsawan rakus dan bejat di meja itu. Tapi siapa sangka ternyata malah aku yang menjadi bangsawan jahat yang ditakuti gadis itu?" Abellard tersenyum miring sembari menghela napas.
Naeva mendengarkan penjelasan Abellard dengan hati takjub. Ternyata mereka selama ini sama-sama telah salah paham. Bedanya, Abellard mudah sekali marah dan menuduhnya yang tidak-tidak. Pria itu tak percaya bahwa ia benar-benar mencintai dengan tulus, bukan karena Abellard seorang bangsawan. Tapi Abellard baru percaya setelah dirinya menjelaskan dalam keadaan tidak sadar. Mengingat itu, kekesalan Naeva pun muncul kembali.
Gadis itu perlahan turun dari sisi tempat tidur, dan melangkah ke pintu kamar tanpa berkata apapun.
Abellard menatapnya bingung, kenapa tiba-tiba Naeva tak bereaksi lagi dan malah berjalan keluar seolah tidak sedang berbincang dengannya?
"Naeva?" panggilnya. "Kau mau kemana?"
"Keluar," jawabnya singkat.
"Tapi kita sedang berbicara."
Naeva menghentikan langkahnya. "Tak ada lagi yang perlu dibicarakan," ketusnya.
__ADS_1
Abellard langsung bangkit dan menghampiri.
"Kau masih marah padaku?"
"Ya," jawab Naeva tanpa menoleh.
"Tapi aku sudah minta maaf ...."
"Tidak cukup hanya dengan meminta maaf. Itu sudah sering kau lakukan."
Abellard menatap wajah Naeva yang terlihat kaku dan tak bersahabat itu dengan hati cemas. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Kau harus mengurangi egomu, mencoba mendengarkan orang lain dan jangan mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu," jawabnya. Lalu bergegas meninggalkan kamar itu dan juga Abellard yang masih berdiri kaku di tempatnya.
***
Setelah mengganti pakaiannya Naeva memutuskan untuk membersihkan bunga-bunga layu dari vas kaca berisi air yang diberikan Abellard tempo hari.
Tok tok
Pintu kamarnya diketuk.
Naeva meletakkan kembali tangkai bunga dalam genggamannya kedalam vas dan melangkah ke pintu.
Begitu pintu terbuka, ia melihat gadis-gadis pelayan yang berjumlah sekitar 10 orang, bergerombol di depan pintu kamarnya. Ada juga beberapa pelayan senior yang telah berusia dewasa. Semua bersikap canggung dan malu-malu saat Naeva membukakan pintu.
"Selamat pagi, M'mselle. Maaf kalau kami mengganggu," sapa mereka beramai-ramai.
"Selamat pagi juga semuanya. Apa ... ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin mengundang Anda untuk hadir di acara kecil kami," salah seorang pelayan senior menjawab dengan ekspresi canggung.
Naeva langsung membulatkan mata dengan raut tertarik. "Acara? Acara apa?"
Melihat reaksi Naeva, semuanya langsung bersemangat. "Acara ulangtahun salah satu senior kami," jawab yang masih belia dengan senyuman lebar.
"Iya, kami biasanya memberikan kejutan kecil-kecilan untuk yang berulangtahun," timpal yang lain tak kalah semangat.
"Jadi kami berharap Anda mungkin mau menikmati acaranya bersama kami," sahut yang lain dengan raut penuh harap.
Naeva merasa hatinya penuh dengan keharuan melihat sikap para pelayan yang berubah hangat padanya.
"Tentu saja aku mau, pukul berapa acaranya?"
"Sekitar siang nanti, karena sekarang kami masih mempersiapkannya."
"Oh ... boleh aku bergabung juga?"
Para pelayan saling berpandangan mendengar pertanyaan Naeva. Gadis yang dicintai seorang Comte meminta gabung bersama mereka? Semua seketika tersenyum senang.
"Tentu boleh jika Anda berkenan, M'mselle. Tapi ... kami sangat kacau kalau sedang heboh begini ...." jawab salah seorang sembari tersenyum malu.
Naeva tertawa pelan mendengarnya. "Tidak apa, itu pasti akan sangat seru," sahutnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, Anda mau ikut bersama kami sekarang?"
"Ya, aku ikut sekarang," sambut Naeva.
Lalu bergegas keluar dan menutup pintu kamarnya. Paginya benar-benar menyenangkan hari ini. Belum pernah ia bergaul bersama gadis-gadis sebayanya selain dengan Anne. Apalagi bersenang-senang seperti ini. Sejak dulu temannya hanyalah orang-orang di pasar dan petani yang berkebun di dekat kastilnya.
Semua tampak sibuk di dapur. Ada yang sedang mencuci buah, ada juga yang mengadon kue. Sementara yang lainnya sedang menarik karung besar berisi gandum beramai-ramai.
"Ini terlalu berat. Kita harus memanggil pengawal untuk membantu," keluh salah seorang pelayan.
Namun begitu melihat kedatangan Naeva bersama para pelayan yang pergi mengundangnya, mereka serentak menghentikan kegiatan yang sedang mereka lakukan. Semua tampak bingung, apa jangan-jangan pelayan yang bertugas mengundang Mlle Gaulle salah memberi tahu waktunya?
"Mlle Gaulle ingin bergabung bersama kita untuk mempersiapkan acaranya." Salah satu pelayan menerangkan pada teman-temannya.
Semua yang berada di dapur langsung tersenyum lega sekaligus gembira.
Amily yang sedang menjinjing dua keranjang buah di tangan kanan dan kirinya, cepat-cepat menghampiri Naeva dengan penuh semangat. Mata gadis itu menatap penuh kekaguman. Mlle Gaulle memang selalu memberi kejutan dengan semua kebaikannya. Dan Amily akan selalu mengidolakan dan menjadikannya panutan.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Naeva pada Amily. "Bagaimana kalau aku membantumu mencuci buahnya?"
"Buah ini sudah dicuci, M'mselle. Aku akan mengantarkannya ke ruang makan. Kalau Anda mau, kita bisa membawanya bersama."
Naeva berpikir sesaat. Comtesse memang melarangnya masuk ke kastil, tapi saat ini ia sedang bersama para pelayan, rasanya tak masalah kalau masuk sebentar. Seperti tadi malam ia menjadi tamu karena datang bersama Lord Alfred, Comtesse juga tidak mengusirnya dari sana.
"Aku mau, ayo!" ajaknya semangat sembari meraih satu keranjang buah dari tangan Amily.
Keduanya kemudian berjalan menuju ruang makan sambil berbincang-bincang penuh kegembiraan. Suasana heboh saat menyiapkan sebuah pesta benar-benar terasa.
Buk!
Tiba-tiba bahu Naeva menabrak seseorang yang keluar dari sebuah ruangan.
Gadis itu segera menoleh. Orang itu ternyata adalah Abellard. Pria itu menatapnya teduh.
Naeva langsung membuang muka dan melangkah pergi.
"Tunggu Naeva!" panggil Abellard. Lalu beralih menatap Amily. "Aku ingin berbicara berdua dengan Naeva sebentar," isyaratnya, agar Amily meninggalkan mereka berdua.
"Baik Monsieur," Amily mengangguk hormat dan melangkah lebih dulu ke ruang makan.
"Naeva, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu?" lirih Abellard setelah Amily pergi.
"Tidak ada!" ketus Naeva. Lalu berbalik untuk mengejar Amily. Namun kemudian langkahnya terhenti saat teringat sesuatu. Ia berbalik dan menatap sang Comte. "Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku ingin kau berubah? Kalau benar-benar ingin meminta maaf, kau bisa melakukan perubahan itu mulai sekarang."
Abellard langsung mendekat. "Aku akan melakukannya! Apapun itu!" tekadnya penuh semangat.
Naeva menahan senyum mengingat idenya. Sekarang para pelayan wanita tak perlu lagi menunggu pengawal untuk mengangkat barang yang berat-berat, karena sang Comte sendiri yang akan membantu.
**Halo pembaca setiaku. Terimakasih sudah setia mengikuti kisah Naeva de Gaulle dalam Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan ini. Terimakasih juga atas dukungan kalian semua.
Author sedang sangat membutuhkan dukungan besar dari kamu semua. Mohon waktunya untuk memberikan like, favorit dan bintangnya ya ... (Semoga bintang lima 😁). Author juga akan selalu menantikan sapaan kalian di kolom komentar. Setiap dukungan kalian menjadi mood booster buat saya.
Terimakasiiiih**....
__ADS_1