Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 64


__ADS_3

Musik waltz itu berhenti mengalun tepat di saat mereka mengakhiri tarian indahnya dengan Naeva yang melenting ke belakang bertumpu pada tangan Abellard yang menahan pada punggungnya.


Suara tepuk tangan seketika bergemuruh di dalam ruangan itu. Tarian Naeva dengan Abellard benar-benar menjadi tontonan yang mengundang decak kagum para tamu.


Keduanya membungkuk, berterimakasih atas penghargaan dan tepuk tangan itu.


Abellard tersenyum. "Kau sangat hebat, Sayangku. Mari, kita sambut pujian orang-orang di dekat Lady Angelia."


"Ternyata kau mengerikan juga Abellard," bisik Naeva menggoda.


Abellard tersenyum. "Aku bisa lebih mengerikan daripada ini. Tak ada yang boleh macam-macam dengan orang yang aku cintai."


Seperti yang diperkirakan Abellard. Lady Angelia benar-benar kesal. Wajahnya merah, dengan mata yang melotot marah.


"Kalian pasangan dansa yang hebat!" puji salah seorang tamu wanita yang bertubuh gemuk dengan mata yang berbinar.


"Terimakasih, Ma'am. Kami memang pasangan yang hebat dalam hal apapun," jawab Abellard sembari tersenyum dan melirik Naeva dengan mata menggoda.


"Oh, aku jadi ingin mengadakan pesta dansa dan mengundang kalian, biar semua tamuku juga terkagum-kagum," sambung wanita itu lebih heboh.


"Ya, aku pun begitu. Aku sangat kagum melihat gadis cantik ini. Siapakah namanya?" tanya tamu wanita yang lain.


"Nama saya Naeva de Gaulle, Ma'am." Naeva menjawab sopan.


"Oh, Mlle Gaulle ... Anda sangat pintar menari. Pinggang yang ramping, wajah yang cantik, sungguh sempurna," puji wanita itu.


Naeva tersenyum dan berterimakasih sembari membungkuk hormat.


"Partner dansa yang hebat, Monsieur Comte!" puji suami dari perempuan gemuk tadi.


Abellard tersenyum bangga. Namun baru saja ia hendak mengatakan bahwa Naeva tidak hanya sekedar partner dansanya, Lady Angelia datang menghampiri. Gadis itu langsung menggandeng tangan Abellard dengan manja.


"Abellard memang pintar berdansa. Jika bersama, kami bahkan bisa menari lebih indah dari pasangan manapun," ujarnya dengan dagu terangkat.


Abellard segera menarik tangannya dari gandengan perempuan itu.


"Maat, tapi kau adalah penari yang buruk. Aku bahkan sampai beberapa kali tak sengaja menginjak kakimu tadi," sinis Abellard dengan senyuman miring yang meremehkan.


"Abellard!" protes gadis itu dengan raut menegang marah.


Abellard tidak mempedulikannya. Perhatiannya malah beralih pada Naeva dan menatap gadis itu lembut. "Mari, Naeva. Kita beristirahat dulu dan menikmati minuman."


Naeva mengangguk tanpa melirik Lady Angelia. Ia tahu, tatapan wanita itu sekarang menghujam padanya. Ia tak ingin meladeni. Biarlah wanita itu lelah sendiri.


"Kami permisi sebentar, Monsieur et Mademoiselle," Gadis itu membungkuk sebelum kemudian mengikuti langkah Abellard yang menggenggam tangannya.


"Abellard, bukankah seharusnya kau bersikap baik padanya?" bisiknya pada pria itu.


"Entahlah, aku menjadi muak saat melihatnya berlagak manja seperti itu," jawab Abellard cuek.

__ADS_1


"Perhatian semuanya!" Tiba-tiba sebuah suara berkata keras di tengah suara obrolan para tamu.


Itu suara Lady Angelia.


Langkah Abellard dan Naeva seketika terhenti. Keduanya langsung berbalik. Dan melihat Lady Angelia berdiri tegak di tempatnya berdiri tadi, menantang keduanya dengan senyuman dingin.


Semua orang tampak menghentikan obrolan mereka dan memperhatikan gadis cantik bergaun Hitam yang tiba-tiba berseru kencang itu. Ada juga yang tidak mendengar, namun langsung diam saat diberitahu tamu lainnya. Suasana ruangan itu perlahan-lahan tampak senyap.


Naeva menoleh pada Abellard dengan raut cemas. Pria itu ternyata juga tampak tegang.


"Abellard, bagaimana kalau Lady Angelia nekad mengatakan pada semua orang?" bisiknya.


"Aku tak akan membiarkannya!" tegas pria itu sembari menggenggam erat tangan Naeva.


Lady Angelia menatap sang Comte tanpa berkedip. "Aku ingin bertanya pada kalian. Apa pendapat kalian jika ada seorang penganut agama budak bersembunyi di tempat tinggal kalian, atau bahkan di tengah-tengah keluarga kalian? "


Wajah Naeva dan Abellard seketika pucat pasi. Bahkan Naeva merasa tak bisa bernapas saat itu.


"Itu sangat mengerikan!" komentar seorang pria yang memakai topi panjang dengan kumis tebal di bawah hidungnya.


"Ya, mereka bisa menjadi penyakit! Sedikit demi sedikit menularkan kesesatan mereka pada anak dan cucu kita," sambung yang lain.


Lady Angelia tersenyum puas. Respon para tamu tepat seperti dugaannya.


"Karena itu, orang seperti itu tidak bisa dibiarkan berada di sekitar kita, bukan?" timpalnya semakin memprovokasi.


Abellard menegang kaku. Ia tak bisa berdiam diri begini. Lady Angelia akan benar-benar membuka rahasia Naeva.


Sementara itu, Naeva merasa seperti orang yang berada di tepi jurang, dengan Lady Angelia berdiri di belakangnya dan bersiap-siap untuk mendorongnya dengan kuat.


Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.


"Ya. Orang seperti itu ada di sekitar kita," jawab Lady Angelia.


Abellard segera menghampiri dan mencengkeram lengan sang Lady dengan hati menggelegak penuh amarah.


"Kenapa kau mengatakan hal yang tidak penting, Lady? Sementara ada sesuatu yang lebih penting untuk kita umumkan pada semua orang?" erang laki-laki itu dengan tatapan penuh penekanan.


Lady Angelia meringis merasakan sakit di lengannya. Namun rencana liciknya yang berhasil, membuatnya melupakan rasa sakit dan malah tersenyum senang. "Apa yang ingin kau umumkan, Sayangku?"


Abellard menatap perempuan itu penuh kebencian. Hatinya benar-benar marah. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa.


Pria itu menghela napasnya, mencoba meredakan badai amarah di dalam hatinya.


"Hari ini saya ingin memperkenalkan calon istri saya pada Anda semua, Lady Angelia," tuturnya kemudian.


Rencana bahagianya hari ini berubah total. Yang terjadi malah dirinya terperangkap dalam rencana busuk orang lain. Bahu yang semula tegak bersemangat, kini kuyu sudah.


Lady Angelia langsung melepaskan cengkraman tangan Abellard dan menggamit lengan pria itu manja. Lalu mengembangkan senyumannya pada semua orang.

__ADS_1


"Ya, kami akan segera melangsungkan pertunangan," sambutnya.


"Comte Abellard, keponakanku. Selamat, akhirnya kau menemukan tambatan hati." Seorang perempuan paruh baya yang samar-samar diingat Abellard adalah kerabat dekatnya memberi selamat sembari menepuk-nepuk punggungnya.


Para kerabat lainnya juga ikut menghampiri dan memberi selamat.


Melewati Naeva yang berdiri seorang diri. Gadis itu menatap Abellard dengan rasa bersalah. Merasa semua ini terjadi karena dirinya. Abellard terpaksa berpura-pura menjadi calon suami dari orang yang tak disukainya. Apalagi Lady Angelia jelas-jelas memerasnya, memaksa Abellard bersikap seperti yang dia inginkan.


Sungguh Naeva kasihan melihat Abellard. Pria yang tak pernah mau mengalah dan tak mau diatur orang lain itu terpaksa mengalah demi melindunginya. Berulang kali melawan ego demi dirinya.


Mata Naeva tampak berkaca-kaca. Hingga kemudian setetes air mata mengalir di pipinya. Gadis itu segera berbalik, tak ingin Abellard melihatnya dan berpikir dirinya sedih karena Abellard mengakui Lady Angelia sebagai calon istri.


Tepat di saat itu Abellard melihatnya. Melihat gadis yang dicintainya menghapus sesuatu di pipi dan melangkah pergi.


Naeva pasti terluka.


Ya Tuhan, kenapa ia tak pernah bisa menjadi pria yang membuat Naeva senantiasa tersenyum? Kenapa ia selalu membuat gadis yang dicintainya menderita?


Abellard tak lagi mendengarkan pertanyaan dan juga ucapan selamat dari para tamu. Dunianya seakan mendadak sunyi, saat Naeva pergi meninggalkannya dengan berlinang air mata.


Abellard melepaskan tangan Lady Angelia dari lengannya. Meninggalkan semua orang. Dan pergi menyusul Naeva.


Lady Angelia dengan sigap mencegat lengannya. Namun dengan sekali hentakan pria itu menyingkirkan tangan sang Lady seperti menyingkirkan kecoa yang mengganggu.


Abellard tak peduli dengan tatapan orang, tak peduli dengan keheranan mereka. Ia melangkah pasti untuk mengejar gadis yang dicintainya.


"Naeva!" panggilnya begitu sampai di aula.


Gadis itu menoleh. Dan Abellard dapat melihat pipi gadis itu basah. Naeva memang menangis.


"Sayangku, maafkan aku ...." lirih Abellard dengan dada yang terasa sesak.


Tanpa ragu ia menghampiri dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.


Naeva membalas pelukan itu. Untuk pertama kalinya, ia membalas pelukan pria itu. Ia benar-benar melingkarkan tangannya pada tubuh pria itu. Merengkuhnya erat. Meleburkan jiwa yang sengsara karena merasa tak bisa membuat sang kekasih bahagia.


"Tidak, jangan meminta maaf. Aku lah yang salah. Aku yang menjadi penyebab dirimu harus mengikuti keinginan Lady Angelia," ucapnya dengan dada yang terasa sesak.


Keduanya saling menguatkan, di tengah ruangan yang luas, kosong, dan sunyi. Di hadapan mereka masih ada jurang pemisah, yang harus mereka seberangi untuk bersatu.


Namun keduanya akan berjuang, demi yang dicintai.


***


Naeva menggenggam tangan kokoh, yang juga menggenggam tangannya itu erat. Melangkah bersama menuju kamar Menara Selatan.


Gadis itu menoleh, menatap wajah tampan Abellard yang berjalan gagah di sisinya.


"Apa kau yakin, Abellard?" tanya Naeva ragu.

__ADS_1


__ADS_2