
Lima belas menit menunggu. Tabib belum juga datang. Naeva mulai cemas. Apa Lucie tak jadi memanggil tabibnya?
Sementara Marc mulai meracau. Panas yang di deritanya teramat tinggi.
Naeva benar-benar tak tahan melihatnya. Diraihnya tangan Marc yang panas dan menggenggamnya erat. Dadanya terasa sesak. Hingga air mata pun tak lagi sanggup dibendung.
"Marc, kenapa kau melakukan ini? Bagaimana hidupku nanti jika terjadi hal buruk padamu?" lirihnya di sela tangis.
"Aku ... aku tak akan membiarkan seorang pun menyakiti M'mselle, tak akan ...." racau Marc. "Perasaanku murni ... lebih murni dari cinta manapun."
Ucapan Marc yang terakhir membuat Naeva terpaku.
"Apa maksudmu, Marc?" bisiknya dengan pipi yang masih dibasahi air mata.
"Aku ... tak akan membiarkan siapapun menyakitinya ...." Marc kembali mengulang kalimat yang sama.
Naeva merasa terharu. Sungguh terharu. Sebegitu penting keselamatannya bagi Marc. Tangannya mempererat genggaman. Menatap wajah kesakitan Marc dengan mata yang kembali berkabut.
Harusnya Marc tahu, betapa penting dirinya bagi Naeva. Melihat Marc yang kesakitan karena dirinya, Naeva merasa lebih sakit daripada merasakannya sendiri.
Satu jam berlalu, tabib tak juga datang. Naeva merasa tak bisa berdiam diri menunggu. Ia mengganti kompres di kening Marc, sebelum kemudian kembali turun untuk mencari Lucie.
Naeva menemukan gadis bertompel itu di dalam kamar saudara kembarnya.
"Mlle Lucie! Kenapa tabibnya belum datang? Ini sudah satu jam berlalu, keadaan saudaraku semakin parah."
Lucie tampak gugup. "Tabib apa?" tanya gadis itu tanpa berani menatap Naeva. "A-aku tak mengerti maksudmu," ujarnya pura-pura tak tahu.
Naeva menatap gadis yang dianggapnya berhati lembut itu tak percaya.
"Lucie! Ini masalah nyawa. Aku tak menyangka kau sekejam ini!"
"Mlle Gaulle, aku benar-benar tak paham, maaf ...."
Lucie tampak buru-buru ingin keluar. Kepalanya tertunduk saat melangkah melewati Naeva.
Tap!
Naeva menangkap lengannya dan mencengkeramnya sekuat tenaga. "Tunggu! Kau harus bertanggungjawab!" sergahnya.
Lucie meringis sembari berusaha melepaskan lengannya.
"Ada apa ini?!"Louise yang sejak tadi diam, menghampiri dengan cepat demi melihat kembarannya dipojokkan.
"Mlle Lucie telah memberikan makanan beracun hingga nyawa saudaraku terancam setelah memakannya! Aku memintanya memanggil tabib, tapi dia malah pura-pura tak terjadi apa-apa!" terang Naeva sembari menatap Lucie tajam.
"Benar seperti itu, Lucie?"
Lucie tak menjawab, ia masih berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Naeva.
Melihat reaksi kembarannya, Louise langsung tahu siapa benar. "Dasar gadis bodoh! Itulah mengapa aku tak mau disebut mirip denganmu!" bentaknya marah.
Lalu tatapannya beralih pada Naeva.
"Aku yakin Lucie tak mungkin meracuni orang lain, tapi melihat sikapnya aku tahu Lucie terlibat. Kau panggilkan beberapa pelayan untuk membantu menjaga saudaramu. aku akan memberitahu Comtesse agar dipanggilkan Dokter."
__ADS_1
Lucie langsung menangkap lengan Louise dengan sebelah tangan lainnya.
"Jangan Louise! Aku mohon jangan temui Comtesse! Aku akan bertanggungjawab dan memanggilkan tabib sekarang!" pintanya dengan raut panik dan memelas.
"Diam kau! Tabib kau bilang? Keluarga ini terlalu kaya untuk hanya memanggil seorang tabib dalam masalah menyelamatkan nyawa!"
"Kumohon, Louise! Jangan pada Comtesse ...." Lucie mulai menangis.
"Baiklah, baiklah! Aku akan mencari Comte Abellard!"
Naeva melepaskan cengkeramannya pada lengan Lucie setelah Louise pergi.
Ia menatap gadis bertompel yang kini menangis dengan kepala tertunduk itu sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku tak menyangka kau seperti ini," desisnya.
Kemudian melangkah pergi meninggalkan Lucie.
**
"Mlle Gaulle, apa yang terjadi? Kenapa dengan Monsieur Pomeroy?"
Maria masuk kamar Naeva dengan tergopoh-gopoh.
Melihat Maria, Naeva merasa seorang malaikat telah menghampirinya.
"Marc memakan makanan beracun, Maria."
"Oh, Mon Deu! Kenapa sampai ada makanan yang beracun di dalam kastil ini?"
"Entahlah Maria. Masalahnya belum jelas. Mlle Louise sekarang sedang mencari Comte agar memanggilkan Dokter."
"Ya Tuhan ... terimakasih Maria," ucap Naeva lega, sungguh lega.
Ia segera memberikan Marc cairan manis yang penuh khasiat itu. Marc masih meracau. Namun suaranya semakin tak jelas dan lemah.
Tak lama kemudian, Abellard masuk bersama seorang Dokter.
Mata sang Comte tampak terpaku pada tangan Naeva yang terus menggenggam tangan Marc. Api cemburu itu kembali memercik.
"Kemarilah, Dokter akan memeriksanya," panggil pria itu sembari berusaha meredakan rasa cemburu di hatinya.
Naeva beranjak dari sisi tempat tidur tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Dokter yang menghampiri Marc. Hatinya berubah was-was terhadap siapapun.
Semua terdiam dalam kecemasan. Termasuk Abellard yang tak mengharapkan sama sekali keadaan Marc menjadi seperti ini. Kepeduliannya terhadap Marc berbeda hal dengan kecemburuannya.
"Dia telah mengonsumsi minyak daun Cankush. Minyak itu membuat suhu tubuh naik, dan membuatnya dehidrasi seketika."
"Oh, Mon Deu! Dari mana minyak itu berasal?" seru Maria.
Naeva menggigit bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca. Minyak berbahaya itu ditujukan untuknya. Tapi kenapa Lucie ingin menyakitinya?
Setelah sang dokter keluar diantarkan oleh Maria, Abellard menghampirinya.
"Marc lebih baik tidur di dalam kastil. Aku akan meminta beberapa pelayan untuk membawanya." Lembut ucapan pria itu di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak! Aku tak bisa membiarkan Marc jauh dari pantauanku. Orang-orang di sini terlalu berbahaya!" tolak Naeva keras.
Abellard terhenyak mendengarnya. Sebegitu pentingnya Marc di mata Naeva hingga menolak tawarannya sekasar itu. Rasa cemburu semakin meradang di hatinya.
"Kalau begitu aku akan meminta pelayan untuk menemanimu menjaganya." Abellard merasa usulnya ini sangat tepat. Selain Naeva bisa terbantu, gadis yang dicintainya itu juga tak hanya berduaan dengan Marc di dalam kamar ini malam nanti.
Namun ternyata Naeva kembali menggeleng. "Aku belum bisa mempercayai satu orangpun di kastil ini!"
Bukan tanpa alasan Naeva berkata seperti itu. Semua pelayan sudah jelas tak menghargai mereka, dan kini orang yang dipikirnya baik hati seperti Lucie tiba-tiba ingin menyakitinya tanpa sebab.
Tapi penolakan Naeva ternyata memancing rasa tersinggung di hati Abellard.
"Apa sekarang kau juga tak mempercayaiku? Kenapa kau begitu yakin Marc diracuni orang dari kastil ini? Marc baru saja pulang dari perjalanan jauh, bisa saja dia mengonsumsi daun itu dalam perjalanannya!"
Naeva langsung menoleh dengan tatapan kecewa.
"Marc mengenal hutan sejak kecil. Dia sangat tahu tumbuhan apa saja yang boleh dimakan atau tidak," desisnya.
Pernyataan Naeva yang seolah mengagungkan Marc semakin menyulut gengsi Abellard.
"Kau tetap tak boleh hanya berdua dengan Marc di sini. Aku akan memanggilkan seorang pelayan kemari!"
Abellard langsung berbalik dan keluar dari kamar itu tanpa menunggu tanggapan Naeva.
**
Abellard memasuki kastil dengan tangan mengepal. Masih terbayang di matanya bagaimana Naeva menggenggam tangan Marc dengan raut terluka, seolah ingin menggantikan Marc untuk menanggung rasa sakit pria itu.
Bagaimana bisa perempuan itu mengabaikan dirinya demi Marc? Bukankah Anne mengatakan bahwa Naeva telah jatuh cinta padanya?
Ia harus menemui Maria untuk meminta seseorang menemani gadis itu.
Mata tajamnya mendapati Maria sedang berbincang dengan seorang pelayan dan juga Lucie.
Raut wajah wanita paruh baya itu tampak sedang marah.
"Ada masalah apa, Maria?"
Wanita paruh baya itu membungkuk sedikit saat Abellard menghampiri. "Maaf, Monsieur Comte. Saya sedang mencari tahu asal-usul makanan beracun itu."
"Jadi Marc benar-benar keracunan karena makanan yang disajikan kastil ini?" Abellard tampak terkejut.
"Ya, Monsieur. Makanan yang dibawa Lucie bersama seorang pelayan."
Abellard menoleh pada gadis bertompel yang telah menemuinya dan memperkenalkan diri sebagai sepupunya itu.
"Lucie, kenapa makanan itu bisa beracun? Apa kau yang menyiapkannya?"
Lucie langsung menggeleng panik. "Tidak, tidak! Aku hanya mengantarkannya! Dan lagi makanan itu sebenarnya dibuat untuk Mlle Gaulle, tapi saudaranya itu yang menghabiskan makanannya!"
Abellard tampak terhenyak. Ia sama sekali tak tahu, jika benar-benar ada makanan yang sengaja dibubuhi racun dan itu diperuntukkan bagi Naeva. Abellard mencengkeram rambutnya sendiri dengan raut frustasi.
Oh ... sungguh bodoh dirinya. Naeva ternyata sedang berada dalam situasi bahaya saat ini. Sementara ia, bukannya melindungi tapi malah menyalahkan Naeva yang tak lagi mempercayai orang-orang di kastilnya.
Semua karena rasa cemburunya yang berlebihan.
__ADS_1
Abellard tampak mengerang dengan tangan terkepal. Menyalahi diri yang selalu gegabah.
"Ya Tuhan ... kenapa aku kembali melakukan hal yang bodoh?" gumamnya lirih.