Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 25


__ADS_3

"Sekarang juga kau harus mengemasi barang-barang mu dan keluar dari sini!" ketus wanita itu.


Hidungnya sedikit bulat, sementara bibir tipisnya tampak melengkung ke bawah menunjukkan raut marah. Namun yang menarik perhatian adalah sebuah tompel sebesar jempol di pipi kirinya.


Gubrak!


Suara benda terjatuh terdengar dari belakang Naeva. Gadis itu segera berbalik, dan melihat seorang perempuan lain terjatuh bersama sebuah koper besar.


Naeva refleks mendekat dan membantunya berdiri. Namun begitu perempuan yang terjatuh itu mengangkat wajahnya, Naeva seketika terlonjak kaget.


Wajahnya sama persis dengan wanita judes yang baru saja menerobos ke kamarnya. Hidungnya, bibirnya, bahkan tompel nya.


Dengan wajah pias Naeva memalingkan wajah kembali pada perempuan yang judes.


Sama persis!


"Terimakasih," ucap perempuan yang terjatuh, lembut.


"Bodoh! Kau merusak koperku Lucie!"


"Ma-maaf ...." perempuan yang dipanggil Lucie langsung mengambil kembali koper yang teronggok di lantai.


"Kalian ... kalian sangat mirip," gumam Naeva takjub.


"Benarkah?" tanya Lucie tak percaya, namun matanya yang besar tampak berbinar.


"Mereka kembar identik," sela Maria yang baru muncul.


"Oh," Naeva manggut-manggut. Baru kali ini ia melihat kembaran yang berwajah sama persis.


"Kami tak mirip! Sama sekali tidak!" sanggah kembaran Lucie dengan raut kesal. Seolah kenyataan wajah mereka yang mirip adalah aib baginya. Matanya yang sama besar dengan mata Lucie kemudian beralih pada Maria.


"Maria! Apa hak mu menyuruh orang lain tidur di kamarku? Baru dua bulan aku pergi. Kau sudah ingin memberikan kamarku untuk orang asing?!"


"Maafkan saya Mlle Louise, Mlle Gaulle adalah tamunya Monsieur Comte," jawab Maria sembari menundukkan kepalanya.


"Dia adalah tamu Comte, sedangkan aku adalah sepupunya! Siapa yang lebih berhak?!"


Maria tampak menghela nafas berat.


"Tentu saja anda, M'mselle."


"Bagus! Kalau begitu, bersihkan kamarku sekarang juga!" perintah Louise dengan dagu terangkat.


Naeva menatap kedua perempuan itu bergantian. Mereka kembar, tapi sepertinya karakter mereka sama sekali tak sama. Lucie terlihat lembut, dan tak percaya diri, sedangkan Louise judes dan angkuh.


Dan kalau diperhatikan, wajah mereka pun ada perbedaannya, yakni tompel nya. Tompel Lucie di pipi kanan, sedang Louise di pipi kiri.


Tanpa sadar Naeva menahan senyumannya.


"Kau menertawakan wajahku?!" sengit Louise dengan mata melotot.


"Tidak, saya tidak bermaksud menertawakan," jawab Naeva tak enak.


"Lantas apa? Kau bermaksud menghina?!"


"Maaf Mlle Louise, apa masih ada barang anda di luar yang harus dimasukkan?" Maria segera mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Tidak! Aku bukan tipe orang yang membawa banyak barang seperti Lucie. Bibiku pemilik segala macam pabrik, aku bisa memiliki barang baru semauku! Segera bersihkan kamarku!"


Maria mengambil koper yang dijinjing Lucie dan meletakkannya di samping lemari.


"Hei, Maria! Apa kau tak paham? Ini kamarku! Kenapa masih ada orang lain di sini?!" bentak Louise lagi.


"Baik M'mselle, saya akan mengambil barang-barang Mlle Gaulle dulu," jawab Maria.


Merasa disindir, Naeva segara berbalik dan melangkah keluar. Begitu juga dengan Lucie.


"Apa aku dan Louise memang mirip?" bisik Lucie setelah mereka di luar.


"Ya, tentu saja sangat mirip karena kalian kembar identik." Naeva menatap gadis itu heran. Kenapa kemiripan dengan kembarannya sendiri menjadi hal yang sangat menggembirakan bagi Lucie?


"Semua orang mengatakan wajah kami sama, tapi Louise selalu mengatakan aku jelek dan sama sekali tak mirip dengannya," ujar gadis itu sembari mengangkat kopernya sendiri. "Senang bertemu dengan anda Mlle Gaulle," ucap gadis itu ramah, sebelum kemudian meninggalkan Naeva dengan wajah sumringah.


Naeva menunggu Maria keluar untuk menanyakan dimana ia harus tidur sekarang.


Wanita itu kemudian muncul dengan raut tak enak.


"Maafkan saya atas ketidaknyamanan ini, Mlle Gaulle. Anda akan saya antarkan ke kamar lain. Masih ada 70 kamar kosong yang tak di tempati, anda bisa memilih yang mana saja."


Mulut Naeva seketika terbuka lebar mendengar jumlah kamar yang dikatakan Maria.


"70 kamar?"


"Ya, kamar-kamar itu diperuntukkan bagi tamu istimewa Comtesse saat menggelar acara-acara besar. Sementara yang 50 lagi sudah ditempati keluarga Comtesse sendiri dan para pekerja di sini."


"Oh, begitu ..." Naeva teringat dengan Kastil Wisteria yang hanya memiliki 10 kamar, dan ia selalu merasa kastilnya terlalu banyak ruang kosong yang hanya menyita tenaga untuk dibersihkan.


"Tunggu!" sebuah suara menghentikan langkah mereka.


Keduanya berbalik dan melihat Comtesse yang berdiri dengan sikap angkuh, dan menghujam Naeva dengan tatapan tak bersahabat.


"Mlle Gaulle akan tidur di keep menara sebelah Selatan!" 'Keep' adalah sebutan untuk kamar di sebuah menara. Dahulu digunakan sebagai kamar keluarga inti bangsawan, agar terlindung dari musuh. Namun kini menara-menara itu hanya menjadi pelengkap kastil.


Maria langsung membulatkan matanya. Kamar-kamar itu biasanya hanya ditempati para pekerja laki-laki. Bahkan sering tak ada yang mau tempati karena kondisi dalam menara yang lembab dan gelap. Setiap kamarnya hanya ada satu jendela kecil.


"Tapi, Ma'am ... masih ada banyak kamar di bawah," protes Maria tak tega.


"Kamar-kamar itu akan ditempati tamu-tamu ku saat Abellard menikah."


Jantung Naeva serasa mencelos mendengarnya. Menikah?


"Aku juga tak mau Mlle Gaulle berlalu lalang di dalam kastil ini dan menggoda Abellard! Mulai sekarang, dia hanya bisa memasuki bagian belakang Kastil. Dia harus mematuhinya jika dirinya memang orang yang tahu berterimakasih. Apa kau mengerti, Maria?"


"Mengerti, Ma'am...."


Mme Aamber melirik Naeva sinis, lalu berbalik dan pergi dengan langkah anggunnya.


Kata-kata sang Comtesse memang pedas, tapi saat ini Naeva hanya memikirkan tentang pernikahan Abellard. Apa Abellard memang telah memutuskan untuk menikahi Lady Angelia? Lantas, kenapa tadi malam laki-laki itu ingin mengekang dirinya sampai tak boleh menerima perhiasan dari laki-laki lain?


Naeva mengikuti Maria dengan langkah tak bertenaga. Matanya menatap cincin berliontin bunga aster yang dipasang Abellard di jari manisnya. Perasaannya kini bercampur aduk. Kesal, kecewa, tersinggung, dan sakit hati terhadap laki-laki itu.


Menara sebelah Selatan adalah menara yang berada paling pinggir dan dekat laut. Saat kakinya melangkah masuk dan menaiki tangga, gadis itu langsung merasakan suasana yang lembab.


Maria menoleh sesaat ke belakangnya. Wajah Naeva terlihat sedih, gadis itu pasti merasa terbuang dan diasingkan.

__ADS_1


"Jangan bersedih, M'mselle. Menurut saya, Comtesse tidak bermaksud membuat anda menderita. Menara Selatan ini adalah menara yang paling istimewa dari menara yang lain. Hanya ada dua kamar di sini, dan kamarnya sangat luas. Anda lebih baik tidur di kamar atas, agar lebih banyak mendapat cahaya matahari."


Naeva mengangguk. Tapi sungguh ia tak mempermasalahkan perihal kamar. Hatinya saat ini sedang bimbang. Rasanya tak ada gunanya lagi ia berada di sini. Abellard sebentar lagi akan menikah, buat apa dirinya tinggal di menara itu untuk menjadi penonton kebahagiaan Abellard dengan wanita lain?


Pembunuh-pembunuh bayaran itu juga pasti akan berhenti mencari dirinya setelah Abellard menikah. Mereka akan mengetahui bahwa gadis dari kastil tua yang dipenuhi bunga Wisteria itu bukanlah siapa-siapa bagi sang Comte.


Setelah menaiki sekitar 50 anak tangga, Naeva tiba di kamar atas. Maria membuka pintunya, sedikit berderit saat pintu kayunya yang tebal bergesekan dengan marmer.


Kamar itu memang sangat luas seperti yang dikatakan Maria. Kondisinya tidak seburuk bayangannya, namun suasananya yang gelap sedikit membuat dada Naeva sesak. Seperti berada dalam sebuah gua.


Maria beranjak ke arah jendela berukuran 1x1/2 meter dan membukanya. Cahaya matahari langsung menerobos masuk. Membuat perasaan Naeva sedikit lega.


"Silahkan, M'mselle. Kamar ini selalu dibersihkan, tapi mungkin sprei nya jarang diganti karena tak ada yang tempati. Saya akan menyuruh pelayan untuk mengganti sprei nya."


"Terimakasih, Maria ...." lirih Naeva.


"Tak perlu sungkan, M'mselle. Anda harus mengatakan kepada saya apapun yang anda butuhkan."


Naeva mengangguk.


Dua orang pelayan wanita masuk membawa koper Naeva dan kotak perhiasan yang diberikan Abellard tadi malam. Dadanya seakan terhimpit sebuah beban berat saat menatap kotak baja berukiran bunga itu.


"Kembalilah lagi untuk mengganti sprei Mlle Gaulle," instruksi Maria sebelum kedua pelayan itu keluar.


"Baik, Ma'am," jawab mereka.


Naeva tak memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Pikirannya hanya terfokus pada kotak perhiasan yang membawa ingatannya kembali pada kejadian semalam.


Gadis itu kemudian melangkah ke arah meja kecil dimana kotak perhiasan diletakkan.


"Maria," lirihnya.


"Ya, M'mselle."


"Aku ingin meminta bantuanmu sekarang."


"Katakan saja, M'mselle. Saya akan berusaha mewujudkannya," jawab wanita itu sembari menghampiri Naeva.


"Aku ingin ... kau menyerahkan kotak ini pada Comte Abellard." Gadis itu melepaskan cincin berliontin aster dari jari manisnya dan memasukkannya ke dalam kotak perhiasan. Kemudian ia serahkan kotak itu dengan mata berkaca-kaca. Kerongkongannya serasa tercekat. Sekuat hati ia berusaha untuk tidak menangis di hadapan Maria.


"Katakan padanya, aku tak pantas menerima perhiasannya yang berharga," lirihnya, nyaris terdengar seperti bisikan.


Maria menatap gadis belia di hadapannya dengan tatapan cemas. Apa yang telah terjadi diantara dua insan yang saling mencintai ini? Padahal ia baru mulai melangkah untuk mendukung hubungan sang Comte dengan gadis berhati hangat ini.


Namun ia tak mungkin menanyakannya.


**


Maria mengulurkan kotak perhiasan ke hadapan Comte Abellard yang langsung menatapnya bingung.


"Mlle Gaulle meminta saya mengantarkannya kepada anda dengan sebuah pesan."


"Pesan?"


"Ya, dengan mata yang menyiratkan luka, Mlle Gaulle mengatakan bahwa dia tak pantas menerima perhiasan anda yang sangat berharga. Mlle Gaulle tampak sangat menderita saat menatap kotak ini. Maafkan jika saya lancang, namun seperti itulah yang saya lihat, Monsieur."


Seperti mendengar gelegar petir yang menyambar, pria gagah bergelar Comte itu seketika menegang kaku.

__ADS_1


__ADS_2