Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 79


__ADS_3

Abellard bangkit dari kursinya dengan gerakan santai dan berwibawa.


"Dia tidak menuduh, Your Grace. (Your Grace: panggilan untuk seorang Duke). Tapi mengungkapkan kebenaran. Putri Anda memang melakukannya. Kami masih memiliki saksi lain jika Anda tidak percaya. Saat ini kami juga sedang menggeledah kamar putri Anda. Saya yakin, akan menemukan beberapa bungkus ramuan herbal yang mematikan."


Lady Angelia yang duduk di sampingnya tampak ketakutan setengah mati. Gadis itu terpaku dengan wajah pucat dan mata melotot. Ia benar-benar tak menyangka, Abellard ternyata menyelidikinya!


Tatapan Abellard beralih Maria. "Maria, coba panggilkan orang-orang yang memeriksa kamar itu," titahnya.


Maria mengangguk. "Baik, Monsieur Comte," jawabnya. Lalu bergegas meninggalkan ruang makan.


Tak lama kemudian, Maria kembali bersama Amily dan Sora.


Tampak Amily menjinjing sebuah kantung berwarna coklat tua yang terbuat dari kain linen.


Mata lady Angelia nyaris melompat keluar melihat apa yang dibawa gadis pelayan itu. Wajahnya semakin pucat. Dengan susah payah, ia meneguk salivanya.


Habis lah sudah ....


Mereka menemukannya!


"Ini, Monsieur Comte. Kami menemukannya di kamar Lady Angelia. Di dalam kantung ini ada beberapa bungkus bubuk herbal." Amily menyerahkan kantung itu pada sang Comte.


Lady Angelia tiba-tiba bangkit dari kursinya.


"I-itu ... itu ramuan herbal untuk kecantikan," sambarnya panik. "Aku memakainya untuk merawat kecantikan ku!"


"Iya, benar! Kami memang memiliki ramuan herbal untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit kami," sahut Duchess membela putrinya.


"Benarkah? Kalau begitu, berarti Lady Angelia tidak akan keberatan mencicipi sedikit untuk meyakinkanku," tantang Abellard.


Tatapan tegasnya kemudian beralih kembali pada Amily. "Amily, Campurkan setiap bubuk ramuan itu dengan air di gelas yang berbeda. Lady Angelia akan meminumnya. Jangan terlalu banyak, agar dia tidak beralasan telah kenyang dengan satu gelas ramuan."


Amily mengangguk dan bergegas ke dapur bersama Sora untuk mengambil beberapa gelas dan air.


Abellard menduga, bahwa memang ada ramuan untuk kecantikan seperti yang dikatakan Lady Angelia dan ibunya. Perempuan itu pasti akan meminum ramuan kecantikan terlebih dahulu, dan menyisakan ramuan herbal yang mengandung racun.

__ADS_1


Lady Angelia terduduk kembali di kursinya dengan tubuh yang terkulai. Tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Hatinya telah putus asa. Sekarang tak ada lagi celah untuk melepaskan diri.


Sementara itu suasana ruangan tampak senyap. Semua orang terdiam dan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tak lama kemudian, Amily dan Sora telah kembali membawa nampan berisi gelas dan air. Lalu bergegas mencampurnya dengan bubuk ramuan herbal dari setiap bungkusnya.


Setelah selesai, mereka menyerahkan nampan berisi tujuh gelas air ramuan itu pada sang Comte.


"Monsieur Comte, ini ramuannya."


Abellard mengambil nampannya dan meletakkan di hadapan Lady Angelia.


"Silakan diminum," ucapnya.


Lady Angelia terpaku dalam diam. Sementara mata semua orang tertuju padanya.


"Minum saja putriku. Agar mereka tahu kau tidak bersalah," dukung Duchess. Ia tak tahu, dukungannya itu malah semakin memperburuk situasi yang dialami putrinya.


Dengan tangan bergetar, Lady Angelia meraih salah satu gelas berisi ramuan. Tepat seperti dugaan Abellard, gadis itu meminum beberapa gelas yang merupakan ramuan kecantikan. Hingga kemudian tiga gelas telah diminumnya, menyisakan empat gelas yang masih utuh isinya.


"Aku tidak bisa meminum semua ramuannya sekaligus. Karena ada ramuan yang tidak baik jika diminum bersama ramuan lainnya," ucapnya beralasan.


"Maria, panggilkan Dokter sekarang. Dia pasti sudah selesai memeriksa bubuk ramuannya," titah Abellard tanpa mengalihkan pantauannya dari Lady Angelia.


Beberapa menit berlalu, Maria pun kembali bersama Dokter.


Pria berpenampilan rapi dan profesional itu memperlihatkan sebuah gelas kecil berisi air yang tampak berwarna keruh.


"Ini ... adalah salah satu ramuan yang telah saya periksa," terangnya.


Duke of Medwin yang merasa situasi serius itu memberatkan putrinya sebagai tersangka, kembali berdiri dengan wajah marah.


"Ini sebuah penghinaan! Saya tidak terima putri saya disudutkan seperti ini! Anda mempermasalahkan ramuan yang telah turun temurun kami gunakan untuk menjaga kesehatan. Ini sangat mengada-ada!"


"Turun temurun?" Abellard tersenyum sinis sembari mengangguk-angguk. "Saya paham sekarang, berarti seluruh keluarga Anda membuat ramuan berbahaya seperti ini. Ini tidak terlalu mengejutkan, karena Lord Alfred juga menggunakan ramuan seperti itu untuk melancarkan niat bejatnya."

__ADS_1


"Apa?! Kau sudah keterlaluan, Comte! Sekarang kau juga ingin memfitnah putraku. Pantas saja putraku pergi, ternyata dia tidak tahan tinggal di tempat orang picik sepertimu!"


"Dia bukan pergi, Your Grace. Saya mengusirnya. Karena dia menggunakan ramuan yang mendatangkan kantuk untuk menjerat seorang gadis."


"Itu tidak benar!" Suara Duke of Medwin menggelegar di dalam ruangan itu. "Aku tak terima hinaan seperti ini. Aku akan menuntut kembali tanah yang telah kuberikan."


Mme Aamber yang sedari tadi tidak berkomentar, berdiri menghadap Duke itu dengan raut tegas. "Tidak masalah, Your Grace. Saya akan mengembalikan tanah itu sekarang juga!"


"Tidak ... ja-jangan seperti itu, Comtesse ...." Lady Angelia bersuara lirih di tempat duduknya. Kepalanya tertunduk dengan pipi yang telah dialiri air mata. "Tolong maafkan aku. Tolong jangan putuskan perjodohan ini. Kami ... tidak akan menuntut kembali tanah itu."


Abellard tiba-tiba tertawa mendengar kata-kata Lady Angelia. "Kami tidak butuh tanah Anda, Lady. Dan untuk tindak kriminal yang Anda lakukan, itu tidak bisa ditebus oleh kata maaf." Abellard merapatkan rahangnya dan menatap Lady Angelia tajam, "satu hal lagi, perjodohan yang Anda maksudkan itu tak akan pernah terwujud sampai kapanpun!"


Lady Angelia mengangkat wajahnya. Wajah yang telah bersimbah air mata itu tampak terkejut sekaligus panik. Gadis itu terlihat begitu syok dan putus asa.


Tiba-tiba ia bergerak menyambar lengan Abellard yang berdiri tak jauh darinya. Kepalanya menengadah pada pria bertubuh tinggi itu dengan wajah memelas.


"Tidak! Kau tidak boleh membuang aku begitu saja, Abellard. Aku mencintaimu. Hanya kau satu-satunya yang kuinginkan di dunia ini. Aku ... aku akan menebus kesalahanku, apapun hukumannya. Tapi tolonglah, jangan kau putuskan perjodohan ini ...."


Abellard sontak menarik lengannya. Namun sang Lady mencengkeram dengan erat, seolah tak akan pernah melepaskan. Ia kemudian memeluk lengan pria itu dengan seluruh jiwa dan raganya.


Putri dari Inggris itu terlihat begitu menyedihkan.


"Sudah cukup Angelia!" Duke of Medwin menghampiri putrinya dan menarik tangan gadis itu dari lengan Abellard dengan hentakan yang penuh amarah. "Jangan rendahkan dirimu demi lelaki seperti dia. Kita pulang sekarang!"


Duke dari negeri putih itu segera menyeret putrinya. Dan Duchess sang istri langsung mengikuti suami dan putrinya dengan menahan tangis yang menyesakkan dada.


Hingga tiba di dalam kamar, Lady Angelia menyentak tangan sang ayah yang mencengkeram lengannya sembari berteriak.


"Ini semua salah Daddy!" Gadis itu meraung dengan mata yang menatap ayahnya penuh kebencian.


"Kenapa aku yang salah?! Kau yang tiba-tiba gila dan meracuni orang di kastil ini dan membuatku malu setengah mati!"


Lady Angelia menggeleng sembari menyeringai. Wajah cantik itu terlihat begitu menyeramkan.


"Tiba-tiba gila? Aku sudah dari dulu gila, Daddy! Aku sudah dari dulu memberikan ramuan beracun pada laki-laki bejat yang Daddy minta aku dekati!" jawabnya dengan suara menggeram.

__ADS_1


Duke of Medwin seketika terperanjat.


"Apa?!


__ADS_2