Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 22


__ADS_3

Naeva mengantarkan Anne ke gerbang kastil dengan perasaan sedih dan enggan merelakan. Kebersamaannya dengan keluarga Adam sejak kecil membuatnya tak mudah tinggal terpisah seperti ini.


Untunglah ada Marc di sini. Tatapannya beralih pada Marc. Pria itu sedang merangkul Anne dengan hangat sebelum berpisah. Kehangatan yang selalu hadir dalam keluarga Adam.


Tapi entah kenapa, Marc tak pernah menyentuhnya. Padahal mereka telah hidup begitu akrab sejak kecil. Sedangkan Anne tak pernah sungkan untuk memeluk atau mencium pipinya kala sedih atau bahagia.


Naeva menghampiri Anne. Lalu merentangkan kedua lengannya setelah gadis itu melepaskan pelukan Marc.


Tak perlu menunggu, Anne langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Naeva dan menangis tersedu-sedu.


"Jagalah Adam dan Emma. Insyaallah, aku dan Marc akan kembali sebelum musim dingin tiba."


Anne mengangguk dan menghampiri kereta mereka.


Kereta itu telah diservis oleh ahli kereta pribadi kastil, atas perintah Abellard. Kereta itu juga dipasang penutup yang kuat, serta bekal makanan untuk perjalanan mereka.


Mereka semua sangat berterimakasih pada Sang Comte. Tapi entah kenapa pagi ini pria itu tak kelihatan batang hidungnya.


"Tolong sampaikan rasa terimakasih kami pada Monsieur Richard ... maksudku Monsieur Comte," pesan Edward sebelum mereka pergi.


Pemuda tanggung itu menghentak pelan kekang kuda hitam itu, salah satu diantara dua kuda yang mereka miliki di Kastil Wisteria. Kuda itu bergerak malas, seolah enggan meninggalkan dua anak manusia yang selama ini merawatnya.


Naeva dan Marc terdiam dalam kesepian yang ditingkahi suara debur ombak di bawah kastil. Mereka tetap berdiri di depan gerbang sampai kereta Anne dan Edward tak terlihat lagi.


"Apa kau melihat Abellard, Marc?" tanya Naeva sembari berbalik masuk ke halaman kastil yang lapang dengan lantai batu yang tertata membentuk sebuah lambang, mungkin lambang kebangsawanan pemilik Kastil. Tanpa bunga dan tanpa warna. Hanya rumput-rumput gersang yang memaksa tumbuh di antara lekukan lambang itu.


"Tidak M'mselle. Sejak tadi pagi, Monsieur Comte tak terlihat dimana-mana," sahut Marc sembari mengikuti langkah Naeva.


"Dia juga tidak sarapan bersama ibunya?"


"Tidak, saya juga tak melihat Comtesse di meja makan."


Kening Naeva mengernyit, ia mengira Abellard sedang sarapan bersama ibunya saat dirinya makan di kamar bersama Anne.


Gadis itu menghela nafasnya. Kemudian menghirup kembali dalam-dalam udara Marseille yang bercampur garam.


"Kau dan Edward tidur di mana tadi malam?"


Marc tersenyum.


"Saya tidur di barak pengawal, M'mselle. Tak jauh dari kamar anda tadi malam."


Naeva menoleh pada Marc yang berjalan di samping kanannya dengan raut prihatin.


"Mereka baik padamu?"


Marc kembali tersenyum.


"Baik. Saya rasa hanya para wanita yang suka bersikap sinis dan bersaing," jawabnya.


Naeva tersenyum geli mendengarnya.


"Aku juga wanita, apa menurutmu aku juga suka sinis dan bersaing seperti itu?"


Naeva melihat Marc berpaling kearah lain, sekilas wajah pria itu tampak memerah. Gadis itu semakin prihatin, berpikir Marc tak tahan dengan cuaca panas di Marseille.

__ADS_1


"Anda berbeda. Dan tak akan pernah sama dengan wanita manapun."


"Oh ya?" Naeva menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum, kemudian menghela nafas. "Aku jarang bergaul, mungkin karena itulah aku tak tahu harus bersaing dengan siapa."


"Tapi anda memang bukan orang seperti itu, M'mselle!" tukas Marc. "Seandainya pun anda bergaul dengan orang seperti mereka."


"Ah tapi tidak juga, dulu aku pernah bersaing!" Naeva tiba-tiba teringat sesuatu.


"Benarkah?"


"Ya, dengan Anne!"


Marc menatap nona-nya penasaran. Rasanya tak pernah ia melihat nona-nya bersaing dengan Anne.


Naeva tersenyum dengan pipi yang memerah kala mengingat kenangan masa kecil yang tetap tersimpan di memorinya.


"Waktu itu, aku baru saja bisa mengendarai kuda dan ingin menunjukkannya padamu. Tapi tiba-tiba saja Anne berteriak memanggil mu untuk menunjukkan dirinya telah pandai memanah. Aku langsung menjatuhkan diri agar kau tetap peduli padaku. Itu ... sangat licik menurutku. Setelah itu aku tak pernah lagi merebut perhatianmu dari Anne. Karena aku tau, kau tak akan pernah menganggap ku lebih dari sekedar Nona Naeva," tuturnya.


Jujur dari hatinya, Naeva berharap Marc memperlakukannya seperti Anne, seperti adiknya sendiri.


Namun tanpa ia sadari, langkah Marc terhenti.


Pria itu membeku. Tak menyangka sang nona mengharapkan anggapan yang lebih darinya. Apa mungkin sang nona juga menyimpan perasaan yang sama dengannya? Perasaan Marc benar-benar tak karuan. Takjub, tak percaya dan takut salah dengar.


Tapi yang pasti, Marc salah paham.


"Mlle Gaulle, anda dipanggil oleh Mme Comtesse!" Seorang pelayan datang memberitahu.


Naeva terpaku sesaat.


"Di ruang duduk."


"Baik," jawab gadis itu. Kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menoleh pada Marc di belakangnya. "Marc, aku masuk dulu."


Wajah Marc tampak memerah, lalu menjawab dengan gugup, "Ba-baik M'mselle, sa-saya ... di luar saja."


Naeva memperhatikan kegugupan Marc sesaat, kemudian mengangguk dan berbalik masuk.


Mme Aamber telah menanti di ruang duduk dengan posisi yang membuat Naeva tegang. Tegak, bibirnya tampak seperti garis lurus, dan mata menatap tajam.


"Anda memanggil saya, Ma'am?" Naeva membungkuk hormat.


"Duduklah!" titahnya dingin.


Naeva menghampiri sofa yang berhadapan dengan Mme Aamber dan duduk di sana.


"Aku ingin mengundang mu makan malam nanti," ujar Mme Aamber dengan nada sinis dan angkuh.


Mata coklat terang Naeva seketika berbinar mendengarnya. Apa ini pertanda Comtesse telah menerimanya?


"Kau harus keluar tepat waktu. Namun sebelum waktu itu tiba, kau tak boleh keluar dari kamarmu! Apa kau mengerti?"


Naeva terdiam sesaat, pikirannya penuh dengan dugaan apa tujuan Comtesse mengundang makan malam.


Mme Aamber menaikkan sebelah alisnya dengan raut kesal karena tak langsung memperoleh jawaban.

__ADS_1


Melihat itu, Naeva segera mengangguk dalam-dalam, "baik, Ma'am. Saya akan datang tepat waktu dan tetap di kamar sebelum waktunya," jawab gadis itu sebagaimana perintah wanita di hadapannya.


Tidak masalah baginya jika harus terus berada di kamar sampai malam nanti. Yang penting sekarang, jalan restu ibunya Abellard mulai terbuka.


"Apalagi yang kau tunggu?! Cepat masuk ke kamar mu!" ketus Mme Aamber.


"Ba-baik, Ma'am."


Naeva segera bangkit dengan gugup di bawah tatapan menghujam sang Comtesse.


**


Malam setelah Maghrib, Naeva bersiap untuk undangan makan malam. Ia memilih gaun malam berwarna biru Dongker, begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Juga penjepit rambut berbentuk bunga aster dengan warna perak.


Naeva menggelung rambutnya ke atas, hingga lehernya yang jenjang tampak jelas dan membuatnya semakin memikat.


Namun Naeva tak pernah memakai gaun yang rendah dan menampakkan pangkal dada seperti gaun wanita Perancis pada umumnya. Gaunnya selalu tertutup dengan lengan yang panjang, jadi ia hanya perlu memakai sarung tangan pendek sebatas pergelangan.


Naeva terlihat begitu anggun dan bermartabat. Keindahan tubuhnya tertutup dari mata laki-laki yang tak berhak atas dirinya.


Setelah merasa penampilannya sudah cukup rapi, gadis itu beranjak untuk keluar kamar.


Tok Tok


Pintu kamar diketuk dari luar tepat disaat Naeva hendak membukanya. Gadis itu segera menarik gagang pintu, dan melihat Marc berdiri di hadapannya.


Untuk sesaat, Marc terpaku. Matanya menatap lekat pada sosok cantik di hadapannya. Perlahan, wajah tampan itu memerah.


"Marc, syukurlah kau datang. Rasanya aku tak sanggup berjalan ke jamuan ini sendirian. Tolong temani aku sampai ke meja makan," pinta Naeva dengan raut cemas.


"Sa-saya akan menemani anda kemanapun," jawab Marc tak fokus. "Tapi anda mau kemana berdandan se ... cantik ... ini, M'mselle?"


Naeva kembali merapikan roknya dengan cemas. "Aku diundang makan malam oleh Comtesse. Apa aku terlihat aneh, Marc? Bajuku kusut, karena baru terjepit di dalam koper."


"Tidak, M'mselle. Anda ... sangat cantik," puji Marc dengan nafas tertahan. Dahinya yang berbentuk tegas itu tiba-tiba berkeringat.


"Oh, syukurlah. Mari, aku tak boleh terlambat." Naeva menggandeng tangan kiri Marc sembari menutupkan pintu. "Kau sendiri sudah makan?"


"Be-belum M'mselle ...."


Marc benar-benar gugup, lengannya yang sedang digandeng Naeva berubah kaku dengan sendirinya. Pria tangguh itu tak bisa menenangkan hatinya. Sejak tadi pagi mendengar pengakuan Naeva yang mengharapkan anggapan lebih darinya.


Ruang makan yang mereka tuju dibangun dengan sangat megah. Atapnya dibuat berbentuk kubah raksasa. Di bawah kubah menggantung lampu-lampu hias yang menerangi ruangan.


Di tengah ruangan terdapat sebuah Meja makan yang sangat panjang dan telah dipenuhi makanan-makanan lezat serta istimewa.


Di ujung meja sebelah kanan telah duduk Mme Aamber dengan gaya angkuhnya. Naeva melihat kilatan tak senang dari tatapan wanita itu.


Namun jantung Naeva tiba-tiba berhenti berdetak. Bukan, bukan karena tatapan wanita itu. Tapi karena melihat sosok pria tampan yang duduk di samping kiri Mme Aamber.


Abellard bagaikan pangeran kegelapan. Pria itu tampak begitu dominan, dengan baju bangsawan dan rambutnya yang tebal tersisir rapi ke belakang, memperjelas lekuk alisnya yang berbentuk sayap elang.


Abellard terlihat berbeda. Apalagi netra biru tuanya menatap tajam, dan tanpa senyuman.


Naeva merasa ada kemarahan di sana, di netra berwarna samudera itu.

__ADS_1


Tanpa sadar, ia mengeratkan genggamannya di lengan Marc.


__ADS_2