Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 74


__ADS_3

Maria mengetuk pintu kamar Comte Abellard sepuluh kali. Marc langsung membuka kunci pintunya. Pria itu tampak menghembuskan napas lega saat Maria masuk.


"Kau tadi membuka pintunya?" tanya wanita itu.


"Ya, saya mengira Amily yang kembali untuk mengantarkan buah, dan mungkin dia lupa mengetuk. Maafkan saya," jawab Marc dengan rasa bersalah.


"Tidak apa. Setelah ini kau hanya boleh membuka pintu jika ada ketukan sepuluh kali, kau mengerti?" Nada suara Maria terdengar lembut namun tegas.


"Baik, Ma'am. Saya berjanji akan lebih berhati-hati."


Maria mengangguk, lalu beralih menatap ke arah nampan makanan Marc.


"Kau tidak menghabiskan makananmu?"


"Saya ... tidak suka stew ayam, Ma'am. Maaf, bukannya saya pilih-pilih makanan, tapi kalau ayam, saya bahkan tidak sanggup mencium aromanya," jawab Marc canggung.


"Ya, untuk orang yang tidak suka, daging ayam memang terasa amis. Tapi kita harus menghabiskan stew ayam ini, karena ini kesukaan Monsieur Comte. Orang akan bertanya-tanya jika makanan kesukaannya malah tidak disentuh sama sekali."


"Oh ... lalu bagaimana?"


Maria menghampiri meja kecil beralaskan kain beldu berwarna coklat tua. "Aku akan menghabiskannya," jawabnya.


Setelah menghabiskan stew ayam itu, Maria melangkah keluar dengan membawa nampan kosong.


"Ingat, jangan membuka pintu sebelum ada ketukan sepuluh kali," pesannya, sebelum kemudian keluar menuju dapur.


Di dapur, tampak Amily sedang melakukan pekerjaannya. Gadis itu langsung bergegas menghampiri Maria saat melihatnya.


"Mme Maria, apa semua masih baik-baik saja?" cemas gadis itu.


"Simpanlah nampan ini dulu, kita tidak bisa bicara di sini," jawab Maria.


Amily mengangguk, lalu mengambil nampan dari tangan Maria dan membawanya ke tempat pencucian piring. Setelah itu, gadis itu cepat-cepat kembali. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi tadi.


"Mari, kita bicara di luar dapur," ajak Maria.


"Baik, Ma'am ...."


Di luar dapur Maria menatap serius gadis belia di hadapannya.


"Amily, mulai sekarang kau harus berpikir panjang sebelum bertindak," nasihatnya.


"Baik, Ma'am. Saya berjanji tidak akan ceroboh lagi."


"Nanti siang, kau bisa mengantarkan lagi makanannya? Aku harus terus mengawasi gerbang untuk menunggu kedatangan Monsieur Comte agar tak ada hambatan dari pengawal. Monsieur Comte berpesan untuk merahasiakan perjalanannya ini sampai kakakmu berdiri di hadapan Comtesse untuk memberi kesaksian."


"Baik, Ma'am saya akan mengantarkannya."


Sementara itu, dari ruang depan muncul Lady Angelia. Gadis itu baru saja melihat Maria menuju ke dapur membawa nampan makanan Abellard. Ia sengaja menyusul untuk memperingatkan Maria agar tidak macam-macam dengannya.


Namun belum sampai ke dapur, sang Lady malah melihat Maria sedang berbincang serius dengan gadis pelayan kepercayaannya.


Apa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya sebuah rahasia, sampai dibicarakan di tempat yang sepi.


Lady Angelia segera mencari tempat untuk menguping. Di balik lemari kaca berisi keramik pajangan milik Comtesse ia berdiri dan memasang kupingnya baik-baik.

__ADS_1


"Apa kau yakin bisa menjaga sandiwara ini, Amily?" tanya Maria.


"Saya yakin, Ma'am."


"Baiklah kalau begitu nanti siang jangan lupa membawa makanannya tepat waktu."


Pelayan kepercayaan Maria mengangguk pasti, "Baik," jawabnya.


"Kembalilah ke dapur, aku akan kembali menemani Comtesse."


Amily kembali mengangguk. Lalu membungkuk hormat dan berbalik masuk ke dapur. Sementara Maria berbalik ke arah yang berlawanan dan kembali ke ruang depan.


Lady Angelia berusaha berdiri tanpa bergerak sedikitpun, berharap Maria tidak memperhatikan ke arah lemari kaca dan melihatnya. Ia tak jadi melabrak Maria. Karena saat ini yang lebih penting adalah memikirkan kata sandiwara yang diucapkan Maria.


Begitu Maria telah pergi jauh ke depan, gadis itu keluar dari persembunyiannya. Dan mulai berpikir keras sembari kembali ke ruang duduk.


Jadi mereka sedang bersandiwara? Sandiwara apa yang dimaksud Maria? Dan kenapa pula wanita itu menyuruh pelayan yang tadi lagi untuk membawakan makanan Abellard, sementara Comtesse sudah melarangnya?


Kening Lady Angelia tampak mengernyit dalam. Pasti ada sesuatu yang besar dalam kejanggalan ini. Dan ia harus mencari tahu.


"Lady Angelia, Anda mau kemana?"


Lady Angelia tidak mendengar panggilan itu karena pikirannya sedang fokus memikirkan masalah itu.


"Lady Angelia!" panggil suara itu sekali lagi.


Lady Angelia menoleh, dan melihat Lucie berdiri di depan pintu kamarnya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seperti pepatah itulah perasaan Lady Angelia saat melihat perempuan bertompel itu.


"Ah, Lucie ... maafkan aku. Pikiranku sedang kalut saat ini, sehingga tak mendengar panggilanmu," jawabnya dengan raut wajah yang dibuat sedih.


"Tidak apa-apa, aku akan menanggungnya sendiri ...." lirih sang Lady dengan raut menderita.


Raut wajah itu berhasil menjerat Lucie ,dan membuat perempuan itu mengajukan diri untuk membantu.


"Anda tidak boleh menyimpan masalah seorang diri, my Lady. Anda bisa mengandalkan saya untuk tempat berkeluh-kesah ataupun meminta bantuan." Lucie menatap iba, kemudian meraih tangan Lady Angelia dan menggenggamnya hangat.


Lady Angelia tersenyum dalam hati.


"Sebenarnya, aku mencurigai Maria. Sepertinya ada yang disembunyikan wanita itu. Aku ... aku cuma mengkhawatirkan Abellard," tuturnya. Mata gadis itu telah berkaca-kaca dan siap untuk menangis.


"Kenapa dengan Maria? Apa yang telah dilakukan wanita itu?" rongrong Lucie dengan hati yang mulai memanas.


"Entahlah, aku tidak tahu pasti. Aku mendengarnya mengatakan bahwa dia dan pelayan kepercayaannya itu sedang bersandiwara. Maukah kau mencari tahu untukku apa yang mereka rencanakan?"


"Tentu saja, my Lady. Ini juga menyangkut sepupuku Abellard. Aku akan segera mencari tahu."


***


Desa yang di masuki oleh Abellard, Naeva, dan Jean adalah desa petani. Semua warganya berkebun. Sehingga pemandangannya tampak hijau oleh sayur-mayur sepanjang mata memandang.


"Sepertinya kita akan susah mendapatkan kereta kuda yang dijual di sini," ujar Abellard.


"Ya, benar, Monsieur. Kebanyakan warga cuma memiliki satu kereta untuk alt tranportasi," Jean membenarkan.

__ADS_1


Tak jauh di depan mereka ada petani yang sedang membersihkan kebun di tepi jalan desa.


"Biar saya coba tanyakan pada petani itu." Jean mengajukan diri untuk membantu.


Abellard mengangguk.


Jean segera menghampiri pertani itu dengan sigap. Ia benar-benar ingin menjadi berguna bagi kedua orang yang telah menolongnya itu.


Tak lama kemudian ia kembali dengan senyuman.


"Petani itu bilang orang yang memiliki kereta kuda lebih dari satu cuma saudagar desa ini. Rumahnya cukup jauh dari sini."


Abellard tampak berpikir sesaat. "Itu cukup membuang waktu. Biar aku tawar kereta miliknya, mungkin dia mau menjualnya untuk kita."


Sang Comte kemudian menghampiri petani itu. Melewati sayur-mayur hijau yang ditanam berbaris.


"Bonjour, Monsieur ...." sapanya.


Petani itu menoleh. "Bonjour ...." jawabnya.


"Saya ingin menawar kereta Anda. Maukah Anda menjualnya? Anda bisa membeli yang baru dengan uang yang saya berikan."


Petani itu tersenyum.


"Boleh saja. Tapi masalahnya saya cuma punya satu kereta sayur, Monsieur. Tak ada atapnya dan saya tidak akan menjual kudanya," petani itu menunjuk ke arah kudanya dan sebuah gerobak sayur.


Abellard melengos kecewa. Lalu menoleh pada Naeva yang berjalan menghampiri.


"Sepertinya kita harus mencari rumah saudagar itu," ujarnya.


"Memangnya kenapa dengan kereta sayur itu?" Naeva bertanya bingung.


"Cuma dijual gerobaknya."


"Kita punya kuda sendiri, bukan?"


"Iya, tapi itu gerobak bekas mengangkut sayur, Naeva."


Naeva tersenyum. Ia kadang lupa, jika pemuda yang sedang bersamanya itu seorang Pangeran. Dengan lembut, ia meraih lengan pria itu.


"Tidak apa. Aku ingin merasakan naik kereta dengan sensasi yang berbeda. Ini akan menjadi kenangan indah yang tidak akan terlupakan."


Diperlakukan begitu, hati Abellard seketika meleleh.


"Ba-baik, a-aku akan membeli gerobak sayurnya," ujarnya gugup.


Naeva seketika bersorak senang. "Yeay! Ini akan menjadi perjalanan yang fantastis," serunya antusias.


Dan akhirnya, mereka mulai melanjutkan perjalanan dengan kereta sayur.


Jean tersenyum melihat keceriaan Mlle Gaulle yang selalu berhasil membakar semangat orang di sekitarnya.


"Kalau tidak ada rintangan apa-apa, kita akan tiba menjelang malam nanti," ujar Jean memberitahu.


"Semoga tidak ada rintangan apa-apa," doa Naeva.

__ADS_1


***


Lucie bergegas menemui Lady Angelia. Ia baru saja melihat sesuatu yang janggal di dapur.


__ADS_2