
Abellard meminum vitamin yang diletakkan dokter di atas meja kamarnya. Lalu meneguk air seolah meneguk arak yang akan memacu adrenalin-nya dan membuatnya tak ingin berpikir panjang lagi.
Lalu melangkah pasti menuju Menara Selatan.
Tok tok
Pintu kamar paling atas dalam menara itu ia ketuk dengan kekuatan sedang, dingin dan tak berirama. Mewakili hatinya yang sedang membeku.
Ceklek
Pintu itu terbuka. Memperlihatkan wajah seorang gadis yang selalu mampu menghangatkan hatinya hanya dengan menatap. Seketika itu juga kebekuan hati Abellard perlahan meleleh. Bagaimana ia bisa marah terhadap gadis yang selalu ingin dilihat dan disentuhnya dengan penuh cinta?
Abellard menggeleng kuat. Tidak. Ia tak boleh lemah oleh cinta. Naeva telah mempermainkan dirinya, ia harus meluruskan masalah ini.
Pria itu kemudian mengepalkan kedua tangannya.
"Abellard?" Naeva menyambut dengan raut khawatir sekaligus senang dalam waktu bersamaan. "Kau tidak kenapa-kenapa? Aku mendengar dari Sora bahwa kau sedang sakit."
Tangan Abellard yang terkepal perlahan melentur, perhatian Naeva segera membuatnya luluh.
Namun detik selanjutnya pria itu kembali mengutuk dirinya sendiri. Merasa menjadi lelaki yang lemah terhadap cinta. Dan tangan itu pun kembali terkepal.
"Aku ingin bertanya padamu. Jawab dengan jujur!" Suaranya terdengar begitu tegas dan dingin. Abellard tambah semangat mendengar nada suaranya sendiri, karena terbukti bahwa ia tak akan kalah oleh cinta.
Raut wajah Naeva terlihat kaget. "Bertanya apa? Apa ada masalah?"
"Ya! Kau lah masalahnya! Katakan sekarang, sejak kapan kau jatuh cinta padaku?"
Naeva masih mengernyit heran melihat sikap Abellard. Gadis itu terdiam sejenak, menelengkan kepala dan memperhatikan wajah Abellard dengan seksama. Membuat sang Comte yang sedang memasang mode garang menjadi salah tingkah.
"Abellard ... Apa kau meracau? Jangan-jangan kau demam dan panas tinggi." Gadis itu tak langsung menjawab pertanyaannya. Malah mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya.
__ADS_1
Abellard langsung menghindar dengan memalingkan wajah ke samping. Namun sialnya, Naeva malah menyentuh lehernya. Seketika itu juga gelenyar indah menyetrum syarafnya.
Oh Mon Deu! Bagaimana ia bisa mempertahankan ketegasannya sebagai Comte, jika untuk mempertahankan ketegasan sebagai laki-laki saja di hadapan Naeva ia tak mampu?
Abellard segera berbalik membelakangi Naeva.
"Apa kau mengira ini main-main? Jawab pertanyaaku sekarang!" tegasnya lagi dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan dagu terangkat. Menunjukkan pada Naeva bahwa ia adalah laki-laki yang tegas dan berwibawa.
Naeva benar-benar bingung melihat tingkah Abellard. Pria gagah ini seperti pangeran kecil yang merajuk karena tak didengarkan titahnya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Karena aku ingin tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi saat aku amnesia."
Naeva tampak terkejut sesaat. Gadis itu meneguk salivanya dengan wajah khawatir. Apa Abellard telah mengingat semuanya?
Diamnya Naeva membuat Abellard yakin Naeva terkejut mendengar ucapannya. Abellard langsung berbalik kembali dan menelisik ekspresi Naeva. Gadis itu tampak mengkhawatirkan sesuatu. Apa Naeva takut rencana busuknya terbongkar?
Jantung Abellard mulai berdetak kencang. Matanya menatap Naeva dengan hati was-was, berharap gadis itu menjawab telah jatuh cinta padanya sejak awal.
"Aku mulai jatuh cinta padamu sejak awal."
Mendengar itu wajah Abellard yang tadinya seperti seorang pasien yang sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter, berubah lega seperti seorang pasien yang dinyatakan sehat. Bibirnya tersenyum miring dengan raut lega.
Naeva ikut tersenyum, terkenang sebuah momen saat ia baru pulang dari pasar dan Anne berteriak panik mengatakan bahwa Abellard telah kembali ingatannya. Dan setelah bergegas mencari pria itu, ia menemukan sang Comte sedang memakai baju bangsawan yang dipakainya saat datang dalam keadaan terluka. Naeva masih bisa merasakan getaran hati yang ia rasakan kala itu.
"Pertama kali hatiku terusik oleh seorang laki-laki adalah saat melihat pria asing yang baru mengalami amnesia berdiri dengan gagahnya memakai baju bangsawan yang baru dicuci Emma." Naeva langsung menunduk dengan raut tersipu setelah mengatakannya. "Kau terlihat sangat gagah. Namun aku belum ...."
Belum habis ucapan Naeva, Abellard telah menyela dengan raut marah.
"Oh, jadi kau menyukaiku karena aku seorang bangsawan?! Makanya kau mengatur strategi untuk menjeratku? Kau kemudian meminta Anne untuk mengatakan padaku bahwa alasanmu berbohong adalah karena kau telah jatuh cinta padaku dan takut kehilangan!" ketusnya sinis dan berapi-api. Baru saja ia senang mendengar Naeva menyukainya sejak awal, tapi ternyata gadis itu tertarik hanya karena ia seorang bangsawan.
__ADS_1
Naeva menatap Abellard tak percaya. Tak percaya kata-kata sepahit itu mampu dilontarkan Abellard untuknya.
"Abellard, apa maksudmu dengan aku menyuruh Anne untuk berbohong?" Aku ...."
"Sudah cukup! Aku hanya perlu tahu itu saja!" sentaknya keras namun juga lirih. Hatinya perih. Ternyata hanya seperti itu balasan dari cintanya yang begitu tulus. Gadis itu tak tak hanya memanfaatkan keadaan amnesianya, tapi juga cintanya.
Tanpa menunggu lagi, ia berbalik dan melangkah pergi. Sempat dilihatnya mata Naeva yang berkaca-kaca, menyiratkan bahwa hati gadis itu terluka. Namun Abellard segera mengenyahkan rasa peduli dalam hatinya, dan melangkah menuju tangga dengan dada yang penuh dengan emosi.
Sementara itu, Naeva hanya bisa menatap kepergian Abellard dengan hati pedih.
Sosok Abellard semakin jauh dan buram dalam pandangannya karena air mata yang menggenang. Naeva menutup matanya dengan hati pedih, hingga air mata itu mengalir di pipi. Dan saat ia membuka mata kembali, Abellard telah menghilang di balik tangga.
Gadis itu mendongak ke langit-langit sembari menghela napas. "Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Kenapa Abellard tiba-tiba bersikap seperti itu?" desahnya.
Ia menyukai Abellard saat memakai baju bangsawan bukan berarti ia suka Abellard karena pria itu seorang bangsawan. Ia suka melihat kegagahan Abellard yang bagaikan seorang pangeran dari negeri dongeng. Makanya ia hendak mengatakan bahwa saat itu ia belum bisa memastikan bahwa itu cinta.
Karena perasaan itu tumbuh sedikit demi sedikit saat mereka melewati waktu bersama.
Dan lagi, apa maksud Abellard mengatakan dirinya sengaja menyuruh Anne mengatakan alasannya berbohong adalah karena telah jatuh cinta? Ia berbohong karena takut. Dan apa itu salah? Ia hanya ingin melindungi hidupnya. Tak ingin seorang pria yang dikabarkan bersifat kejam memiliki dirinya.
Namun saat ia jatuh cinta, kenapa mereka berpikir cintanya tak murni?
Naeva menutup kembali pintu kamarnya dengan tangan yang terasa lunglai tak berdaya.
~Nantikan bab selanjutnya sesaat lagi...
Sedikit penjelasan tentang sifat Abellard:
Abellard tipe cowok yang bucin, cemburuan dan kekanak-kanakan. Tapi gentle dan menghargai wanita. Sikapnya sebagai seorang bangsawan yang sejak kecil telah mengetahui bahwa martabatnya lebih tinggi daripada rakyat biasa, membuatnya egois, tak ingin mendengarkan orang lain dan tak mau dianggap lemah. Seperti pada bab ini, Abellard tak ingin terlihat sangat mencintai Naeva.
Saat di kastil Wisteria kita telah melihat sifatnya yang seperti itu, namun ketegasan Naeva dalam merubah sifatnya itu membuatnya sedikit down to earth. Dan setelah ingatannya kembali, sifat itu kembali melekat sepenuhnya. Karena sifat dasar seseorang tak akan bisa diubah walau sedang amnesia.
__ADS_1