Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 45


__ADS_3

Abellard membawa foto dalam genggamannya dengan hati meluap oleh kegembiraan. Ia baru saja memenangkan taruhan. Dan sang gadis cantik beserta kastilnya menjadi hak dirinya sepenuhnya.


Tapi bukan seperti itu yang ia harapkan. Ia berencana untuk melamar gadis itu secara resmi. Namun sebelumnya tentu ia harus memperkenalkan diri terlebih dahulu.


"Kita tidur di penginapan malam ini," titahnya pada dua orang pengawal dan satu orang kusir kereta kuda yang setia menunggu di luar.


"Baik, Monsieur," jawab mereka sembari membungkuk hormat.


Di rumah penginapan, Abellard duduk di hadapan perapian. Saat itu masih di penghujung musim dingin. Salju masih turun tipis-tipis menyentuh pucuk pohon Cemara.


Pria itu tengah menatap selembar foto seorang gadis cantik. Matanya memancarkan ketertarikan yang sangat besar, seolah sedang melihat masa depan yang cerah.


Gadis itu memiliki senyum yang hangat. Berdiri tegak dengan gaun yang sederhana.


Bibir Abellard yang menawan itu tersenyum. Seakan membalas senyuman gadis dalam foto.


Tok tok


Suara ketukan di pintu mengagetkannya.


"Siapa?" Suara baritonnya bertanya tegas.


"Saya, Monsieur. Pengawal Anda," jawab orang yang mengetuk pintu.


Pria itu meletakkan foto di atas meja dan bangkit dengan sikap enggan, lalu membuka pintu kamarnya sedikit, memberi kesan bahwa ia sedang tak ingin diganggu.


"Ada apa?"


"Maaf Monsieur," jawab Pengawal dengan raut segan. "Di sini ada .... " Ucapan pengawal terputus saat tiba-tiba seseorang yang berdiri di belakang pintu mendorongnya dengan tergesa.


Seorang gadis muda muncul dan langsung menghamburkan diri di dada bidangnya.


"Monsieur Comte, aku sangat merindukanmu!" seru gadis itu seraya mendekap tubuhnya erat-erat.


Abellard tersentak kaget. Refleks tangannya mendorong tubuh gadis itu untuk menjauh darinya.

__ADS_1


"Mlle Claire?! Apa yang Anda lakukan?!" tegurnya marah, tangannya menyapu kemeja biru tuanya dengan raut kesal. Seolah tubuhnya telah ternodai sesuatu.


Abellard memang terlihat selalu berganti pasangan, tapi bukan berarti para perempuan itu boleh menyentuh tubuhnya.


Gadis yang bernama Claire itu ternyata tak peduli dengan penolakan pria di hadapannya. Ia menerobos masuk dari bawah lengan Abellard.


Abellard cepat-cepat berbalik. Sementara pengawal yang berdiri di luar segera meninggalkan kamar itu, karena mengira itu adalah urusan pribadi sang Comte yang tak patut ia tonton.


"Mlle Claire! Anda sudah melewati batas! Keluar sekarang juga dari kamar saya. Urusan kita telah selesai!" bentak Abellard.


Gadis bergaun kuning itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya di lantai kayu penginapan, lalu menangis. Membuat Abellard terdiam dan tak tahu harus melakukan apa.


"Monsieur Comte ... aku tak bisa melupakanmu, sungguh. Tolonglah ... terimalah cintaku. Aku akan membuatmu bahagia," ratap gadis itu dengan nada yang sangat pilu. Matanya yang telah basah menatap Abellard dengan tatapan memohon.


"Mlle Claire, jangan membuat saya menyesal telah menolong Anda!" tegas Abellard.


"Aku tak akan kembali padanya. Laki-laki itu tak akan pernah menghargaiku ... Tidak seperti dirimu, Monsieur. Kau sangat menghargai wanita."


Abellard menggeleng. "Tidak. Anda salah. Dan saya tak akan pernah bisa membalas perasaan anda."


"Saya telah jatuh cinta pada seorang gadis." Abellard melangkah ke arah meja dan mengambil selembar foto. "Ini, ini adalah gadis yang saya cintai. Dan saya akan segera menikah dengannya."


Claire terhenyak. Matanya yang basah menatap getir pada foto yang ditunjukkan Abellard.


"Jadi ... tak ada kesempatan untukku?"


Abellard menggeleng. "Kembalilah pada kekasih Anda. Dan belajarlah untuk menghargai diri, agar Anda dihargai orang lain."


Claire menunduk. Dan kembali terisak. Bahunya sampai berguncang karena ia benar-benar meratap dengan tangis yang meledak dan sesenggukan. "Aku ... tak akan pernah dihargai. Aku memang sudah tak berharga di mata siapapun!" ratapnya putus asa.


Abellard menghela napas. Iba melihat keterpurukan gadis itu.


"Mlle Claire ...." Abellard tak tahu harus melakukan apa. Ia berdiri gelisah dengan perasaan serba salah.


Hingga beberapa saat, ratapan Claire mereda. "Sudah tak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini. Sudah tidak ada lagi yang bisa aku perjuangkan ...." desahnya.

__ADS_1


Tangan gadis cantik itu bergerak ke bawah gaunnya dan mengeluarkan sebilah pisau.


Crass!


Tanpa pikir panjang dan tanpa keraguan gadis itu menancapkan pisau di dadanya.


"Tidak!!!" pekik Abellard kaget. Matanya mendelik tak percaya.


Tepat di hadapannya gadis itu menusuk dadanya sendiri, hingga jatuh dan terkapar di lantai kayu penginapan dengan dada bersimbah darah.


Abellard menegang kaku, melihat pemandangan mengerikan yang belum pernah disaksikan mata kepalanya secara langsung. Claire berguncang sekarat, wajahnya pucat tanpa ekspresi.


"Pengawal!" teriak Abellard dengan napas tertahan.


Pengawal yang berjaga tak jauh dari kamarnya datang dengan tergesa mendengar teriakan sang tuan. Dan begitu melihat situasi dalam kamar, laki-laki itu berseru kaget. Matanya membeliak seperti melihat hantu.


"A-apa yang terjadi, Monsieur?"


Abellard masih berdiri kaku. Tenggorokan tercekat dan tak mampu menjawab untuk beberapa saat.


"Di-dia menusuk dirinya sendiri. Tiba-tiba dia mengambil pisau dan ...." Abellard tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.


Kedua pria itu terdiam dalam kesenyapan yang menegangkan. Sementara malam semakin larut dalam kebekuan angin musim dingin.


Tubuh Claire sudah tak bergerak sama sekali. Matanya setengah terbuka dengan sisa air mata yang membasahi bulu lentiknya.


Perlahan Abellard mendekati. Jantungnya berdegup kencang melihat tubuh bersimbah darah di hadapannya. Dengan menahan napas, tangannya yang gemetar terjulur ke arah hidung, memeriksa napas Claire. Dan saat jari telunjuknya tak lagi merasakan hembusan napas, Abellard menutup matanya erat dengan raut pedih.


"Apa dia ... masih hidup?" tanya si pengawal.


Abellard menggeleng pelan.


"A-apa yang harus kita lakukan sekarang, Monsieur Comte?" suara pengawal terdengar panik.


"Panggil yang lain, kita akan membawa jasadnya pulang ke Marseille."

__ADS_1


__ADS_2