
Bab 24
Naeva duduk di tepi tempat tidurnya dengan raut gelisah. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan tentang sikap Abellard yang berubah. Sepanjang waktu makan malam tadi pria itu sama sekali tak menyapanya. Hanya menatap dengan tatapan tajam saja.
Apa ingatan Abellard telah kembali? Dan kini laki-laki itu membencinya?
Tanpa sadar, jemarinya yang masih tertutup sarung tangan menyentuh Bros berlian di punggung sarung tangannya.
"Eh?" desahnya dengan kening mengernyit, baru tersadar ada benda indah melekat di sarung tangannya.
Earl Alfred yang memasangkannya. Laki-laki Inggris itu mengatakan kecantikan Naeva terlalu polos tanpa perhiasan apapun.
"Jangan mengatakan kau tak menyukai perhiasan, aku tak akan percaya. Karena yang ku tau, semua wanita sangat menggilai benda berkilau," ujar pria itu.
Naeva tak benar-benar berniat menanggapi setiap obrolan sang Pangeran Inggris, hatinya masih dilanda gundah karena tatapan tajam Abellard tak berpindah sedikitpun dari dirinya.
"Saya bukan tak menyukai perhiasan. Saya cuma tak terbiasa memakainya."
"Tak terbiasa? Kenapa?"
Naeva menghela nafas sembari melirik Abellard. Ia merasa tertekan, hingga keringatnya muncul di dahi.
"Karena saya tak pernah menghadiri acara jamuan seperti ini."
Earl Alfred mendesah takjub, rautnya tampak menyiratkan rasa penasaran yang besar terhadap gadis di sampingnya.
Perlahan pria itu melepaskan Bros berlian yang melekat di bagian dada tuksedo nya. Lalu meraih tangan Naeva.
"Pardon Mlle Gaulle," bisiknya sopan.
Naeva tersentak kaget mendapati tangannya di genggaman lembut oleh Alfred. Namun tak mungkin ia menarik tangannya kembali dan membuat laki-laki itu malu.
Alfred memasangkan Bros indah itu di sarung tangannya.
"Pakai lah di gaun mu. Tak mungkin aku memasangkannya seperti wanita lain yang memasangnya di dada, bukan? Kecuali kau mengijinkan," godanya dengan senyuman lebar.
Naeva menarik tangannya dan menunduk dengan pipi yang memerah.
"Ah, kau benar-benar gadis yang pemalu. Aku suka melihat pipimu yang merona," goda laki-laki itu lagi.
Naeva merasa jengah, laki-laki ini memang sopan, ramah dan penuh perhatian. Tapi sikapnya yang berusaha akrab dengan cara yang cepat seperti itu membuat Naeva risih. Apalagi mata Abellard seolah mengulitinya sekarang. Mungkin Abellard sedang mencibir dirinya yang terlalu mudah didekati pria asing.
Naeva berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Acara makan malam itu telah selesai tiga jam yang lalu.
Pukul 9, semua tamu telah meninggalkan kastil. Namun sampai jarum jam menunjukkan angka 12 Naeva belum juga bisa tertidur, bahkan belum mengganti gaun malamnya dengan gaun tidur.
__ADS_1
CEKLEK
Pintu kamarnya tiba-tiba seperti ada yang mencoba buka dari luar. Namun Naeva telah menguncinya.
Siapa yang datang tengah malam begini? Tak mungkin Marc.
Marc tak akan langsung membuka pintunya tanpa mengetuk.
Mungkinkah Maria?
Kaki Naeva melangkah ke pintu.
"Siapa?" tanya gadis itu.
"Aku." Suara berat Abellard terdengar di baliknya.
Jantung Naeva seketika berhenti berdetak. Pria yang sedari tadi memenuhi pikirannya tiba-tiba mendatangi.
Mungkin Abellard benar-benar telah mengingat semuanya. Apapun yang terjadi, ia akan mengungkapkan semua penjelasan yang tertunda. Tentang dirinya yang sebenarnya adalah taruhan judi yang dimenangkan Abellard dan tentang kesengajaannya membuat identitas palsu untuk laki-laki itu.
Dengan tangan yang bergetar, gadis itu menarik tuas kunci, dan membukanya.
Abellard berdiri di hadapannya dengan wajah tanpa senyuman seperti tadi. Namun matanya tak lagi menatap tajam.
"Belum," lirih Naeva.
"Kenapa?" Abellard memperhatikan Naeva sejenak, "kau bahkan belum mengganti pakaian."
"Aku ... akan menggantinya sekarang," Naeva menelan salivanya dengan susah payah, "Abellard, sebenarnya aku ...."
"Kau tak perlu menjelaskannya. Aku paham semua wanita menyukai perhiasan dan rayuan manis seperti yang dikatakan Alfred. Aku ingin memberikan mu ini." Abellard menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang di tangannya.
Naeva menatap kotak itu dengan mengernyit.
"Ini perhiasan dariku. Kau bisa mengembalikan Bros itu padanya. Aku tak ingin kau memakai perhiasan dari laki-laki lain," ujar Abellard dengan mata menyiratkan kecemburuan. Suaranya terdengar dingin dan penuh penekanan.
"Abellard, aku ...." Naeva merasa suaranya tercekat di tenggorokan. Sungguh ia tak menduga Abellard akan berkata seperti itu. Ternyata pria ini benar-benar menilai dirinya wanita murahan!
"Ambillah, kau bisa memakainya seberapa banyak yang kau mau," Abellard kembali menyodorkan kotak perhiasan itu ke hadapan Naeva, "dan berikan Bros itu padaku, biar aku yang mengembalikannya!" suara Abellard semakin bernada tajam. Dan kata-katanya menyayat hati Naeva.
Rencana Naeva untuk menjelaskan perihal taruhan judi ayahnya pun buyar sudah. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Dadanya terasa sesak.
Melihat Naeva tak juga mengambil pemberiannya, Abellard meraih lengan gadis itu dan meletakkan kotak perhiasan di atas tangannya. Kemudian membuka Bros dari sarung tangan Naeva yang sebelahnya lagi dan menggantinya dengan sebuah cincin berliontin bunga aster.
Lalu berbalik dan meninggalkan Naeva yang masih mematung di ambang pintu.
__ADS_1
Naeva menatap punggung lebar Abellard dengan mata yang terasa perih. Namun ia bahkan tak sanggup mengerjapkan matanya, karena hatinya lebih merasakan perih.
Dengan tangan bergetar, gadis itu menutup kembali pintunya. Kakinya tak sanggup lagi berdiri. Lututnya seolah kehilangan tenaga. Ia bersandar di pintu, hingga tubuhnya kemudian melorot ke lantai.
Hatinya benar-benar sakit. Ia memang miskin dan tak pernah memakai perhiasan. Tapi sungguh tega Abellard menuduhnya tergoda dengan benda-benda berharga itu.
Tangan Naeva mencengkeram erat kotak di tangannya. Dadanya terlalu sesak, hingga tangisnya pun pecah tak tertahankan.
Dibukanya kotak perhiasan itu perlahan. Kotak kecil berharga tinggi yang telah berhasil melukai hatinya. Naeva sungguh tak menduga, Abellard menilai dirinya serendah itu.
***
Esok harinya.
Naeva duduk memeluk lutut di atas tempat tidurnya. Ia enggan keluar dan bertemu dengan Abellard.
Marc juga tak ada di luar. Pria itu tadi pagi datang memberitahu bahwa dirinya diajak ikut oleh pekerja di kastil untuk mengurus sesuatu.
Naeva tiba-tiba merasa kesepian dan terasing. Hingga kemudian ia mendengar suara bising-bising di depan pintu kamarnya, Dan ....
Ceklek!
Pintu kamarnya kembali dicoba buka dari luar. Bahkan kali ini orang yang membukanya begitu tak sabar sampai menggedor dan mendorong paksa.
Naeva mengernyit. Kenapa orang-orang di kastil ini malas mengetuk?
Gadis itu turun dari tempat tidurnya dan menghampiri pintu. Begitu ia membuka, seorang perempuan langsung menerobos masuk sampai menyenggol bahunya.
"Aww!!" Naeva tersentak dan refleks berteriak.
Namun seolah tak mendengarnya, perempuan yang menerobos itu malah memeriksa sekeliling kamar dengan matanya yang besar.
"Kenapa si Maria lancang sekali memberikan kamarku pada orang lain?!" ketusnya sembari melipat kedua tangan di depan dada.
Lalu berbalik menghadap Naeva.
"Sekarang juga kau harus mengemasi barang-barang mu dan keluar dari sini!" ketusnya.
Hidungnya sedikit bulat, sementara bibir tipisnya tampak melengkung ke bawah menunjukkan raut marah. Namun yang menarik perhatian adalah sebuah tompel sebesar jempol di pipi kirinya.
Gubrak!
Suara benda terjatuh terdengar dari belakang Naeva. Gadis itu segera berbalik, dan melihat seorang perempuan lain terjatuh bersama sebuah koper besar.
Naeva refleks mendekat dan membantunya berdiri. Namun begitu perempuan itu mengangkat wajahnya, Naeva seketika terlonjak kaget.
__ADS_1