Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 26


__ADS_3

Maria mengulurkan kotak perhiasan ke hadapan Comte Abellard yang langsung menatapnya bingung.


"Mlle Gaulle meminta saya mengantarkannya kepada anda dengan sebuah pesan."


"Pesan?"


"Ya, dengan mata yang menyiratkan luka, Mlle Gaulle mengatakan bahwa dia tak pantas menerima perhiasan anda yang sangat berharga. Mlle Gaulle tampak sangat menderita saat menatap kotak ini. Maafkan jika saya lancang, namun seperti itulah yang saya lihat, Monsieur."


Seperti mendengar gelegar petir yang menyambar, pria gagah bergelar Comte itu seketika menegang kaku.


Ternyata, Naeva merasa terluka dengan ucapannya tadi malam. Naeva yang dicintainya merasa terhina karena ia menyamakan gadis itu dengan perempuan penggila harta. Oh, sungguh ia tak bermaksud begitu. Ia bahkan tak akan pernah berpikir seperti itu tentang Naeva.


Ia hanya marah. Hatinya cemburu. Egonya tak ingin melihat Naeva didekati pria lain.


"Maria ... apa yang harus aku lakukan? Aku tak bermaksud menyakiti hatinya."


Maria menatap Abellard prihatin. Ternyata telah terjadi kesalahpahaman antara mereka.


"Anda hanya perlu meminta maaf dan menunjukkan maksud anda yang sebenarnya."


"Ya, aku akan menemuinya sekarang!" Abellard segera beranjak tanpa mengambil kotak perhiasan dari tangan Maria.


"Monsieur, anda tidak tahu dimana Mlle Gaulle berada sekarang," panggil wanita paruh baya itu.


"Bukankah Naeva di kamarnya?"


"Benar, tapi Mlle Gaulle sekarang telah menempati kamar di menara Selatan."


Wajah Abellard tampak terkejut dengan alis menyatu.


"Apa?! Apa itu perintah Mère?"


Maria mengangguk.


Abellard berbalik dengan tangan terkepal, kakinya kemudian melangkah lebar-lebar dengan hati yang meluap oleh rasa bersalah.


Ia telah membuat gadis yang dicintainya menderita. Setelah penghinaannya tadi malam, kini Naeva pun diasingkan oleh ibunya.


Laki-laki itu menaiki tangga menara setengah berlari. Hatinya sakit. Bagaimana Naeva bisa tinggal di tempat yang gelap dan lembab seperti ini? Ia tak akan membiarkannya. Tak akan!


Tok Tok


Abellard tiba di depan pintu kamar atas dengan napas yang memburu. Namun tangannya segera mengetuk dengan hati tak sabar. Beberapa detik kemudian pintu itu belum terbuka.


Pria itu kembali mengetuk lebih kencang. Namun Naeva tak kunjung membukanya. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Naeva di dalam sana?


Abellard seketika panik. Berbagai bayangan buruk menghampiri pikirannya. Jangan-jangan Naeva pingsan, atau jangan-jangan dia kelaparan hingga tak sanggup berdiri?


Tak bisa menunggu lagi, Abellard bersiap untuk mendobrak kayu penghalang antara dirinya dengan Naeva itu.


Namun baru saja kakinya terangkat, pintu itu terbuka perlahan. Memperlihatkan wajah cantik Naeva yang tampak pucat.

__ADS_1


"Kenapa kau tak membukanya dari tadi?" gusar pria itu dengan napas tertahan.


Naeva terpaku, menatap wajah marah Abellard dengan tatapan sedih bercampur bingung.


"Apa kau sengaja?!" bentak Abellard lagi.


"Aku ... aku takut memikirkan siapa yang datang. Karena ... Maria mengatakan kamar ini dulunya ditempati para pekerja pria. A-aku seorang diri di sini ...."


Belum selesai ucapan Naeva, Abellard telah menarik gadis itu kedalam pelukan.


"Maafkan aku. Aku telah membuatmu menderita, sayangku," ucap Abellard dengan suara bergetar.


Naeva berdiri kaku. Tak menduga Abellard akan memeluknya. Ia juga tak mengerti kenapa sikap Abellard berubah-ubah. Yang ia pahami saat ini adalah perasaannya sendiri. Ia merindukan Abellard, rindu aroma ini. Aroma mint dari tubuh Abellard yang memeluknya seperti saat jatuh ke dalam jurang dulu.


Tanpa sadar, Naeva memejamkan matanya. Merasakan hangatnya lingkaran lengan Abellard di tubuhnya, dan nyamannya dada bidang pria itu di depan wajahnya.


Tangannya yang terkulai ke bawah bergerak ragu, antara ingin membalas pelukan itu atau melepaskannya.


Namun tiba-tiba perlakuan menyakitkan dari Abellard tadi malam melintas lagi dalam benaknya. Hatinya kembali sakit. Apalagi sekarang pria itu datang dan membentaknya hanya karena terlambat membuka pintu. Seketika Naeva memberontak, melepaskan diri dari dekapan Abellard.


Abellard mengencangkan pelukannya. "Tidak. Jangan begini, aku mohon!"


"Kau membentak diriku!" ketus Naeva di depan dada laki-laki itu.


"Itu karena aku ketakutan, Sayangku. Melebihi takut yang kau rasakan. Aku mengira kau pingsan atau, entahlah ... dugaan-dugaan itu sungguh membuatku takut."


Naeva kembali berusaha melepaskan dirinya.


"Kau menyakiti hatiku! Kau menganggapku wanita yang ...."


Abellard melepaskan pelukannya. Kedua tangannya kemudian terangkat dan menggenggam pundak Naeva.


"Aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini. Seandainya pun ingatanku tak hilang, aku tahu dengan pasti bahwa aku belum pernah merasakan cinta yang sedalam ini," Abellard menatap Naeva lekat-lekat, kemudian menengadahkan kepalanya, "oh, sayang ... Kau benar-benar membuatku kehilangan akal sehat. Aku bahkan cemburu melihatmu menggandeng tangan Marc."


Naeva menatap pria yang sedang meluapkan perasaannya itu, dengan takjub. Tak menyangka bahwa Abellard merasakan cemburu yang begitu besar. Sedalam itukah cinta Abellard padanya?


"Tapi kau akan menikah," lirih Naeva.


Abellard kembali menunduk, menatap Naeva dengan kening mengernyit.


"Menikah?"


"Ya, Comtesse yang mengatakannya."


Pria itu menggeleng dengan kuat.


"Tidak, itu tidak mungkin. Kecuali mempelai wanitanya adalah dirimu."


Naeva segera berpaling setelah mendengarnya. Pipinya serasa panas. Ada debaran kebahagiaan yang bergetar di dadanya. Dan ada harapan, yang kembali mengembang di hati gadis itu.


**

__ADS_1


Sore hari.


"Kemana saya harus membawa barang-barang anda ini, Monsieur?" tanya seorang pelayan laki-laki yang dipanggil Abellard ke dalam kamarnya.


"Ke Menara Selatan. Tapi tunggu sebentar, aku akan mengambil selimut juga."


Abellard bergegas membuka lemarinya lagi dengan raut sumringah.


"Pardon Monsieur, anda telah ditunggu Comtesse di ruang duduk." Seorang pelayan wanita datang memberitahu. Membuat Abellard yang sedang bersemangat merasa terganggu.


"Baik, aku akan ke sana sekarang," jawabnya. Lalu menyerahkan selimut pada pelayan laki-laki yang masih menunggu. "Bawakan ke kamar bawah menara Selatan. Ingat, kau tak perlu memberi tahu siapapun."


"Baik, Monsieur."


Abellard melangkah menuju ruang duduk, masih dengan suasana hati gembira. Ia akan menemani Naeva dengan tidur di kamar bawah Menara Selatan. Mereka berdua akan berada dalam satu menara yang sama. Hanya mereka berdua. Oh, membayangkannya saja sudah membuat hati Abellard meluap dengan kebahagiaan.


Begitu tiba di ruang duduk, langkah Abellard terhenti mendadak. Matanya menatap dingin pada dua manusia yang sedang duduk bersama ibunya. Angelia dan Alfred.


"Abellard, kemarilah! Mère membawa kabar baik untukmu," panggil Comtesse dengan senyuman lebar.


Abellard melangkah pelan, lalu duduk di samping ibunya.


"Kabar baik?" tanya pria itu kaku.


"Ya, Angelia akan tinggal di sini sampai hari pertunangan kalian tiba."


"Mère!" tukas Abellard sembari menegakkan punggungnya.


"Jangan sela dulu! Dengarkan ibumu sampai selesai!" tegas Mme Aamber cepat. "Orang tua Lady Angelia telah pulang ke Inggris untuk menyiapkan segala keperluan mereka untuk acara pertunangan ini. Sebagai calon mempelai, Lady Angelia tak boleh kelelahan karena pulang pergi. Jadi dia akan menunggu di sini bersama saudaranya, Alfred."


"Mereka bisa menunggu di penginapan seperti tadi malam!" Suara Abellard terdengar begitu dingin. Ia tak ingin Alfred mendekati Naeva lagi.


"Ma Fils! Jaga etika mu! Mereka akan tinggal di sini, tanpa bantahan siapapun!" tegas sang Comtesse marah.


"Maaf jika kami merepotkan," ucap Alfred.


"Itu jelas!" sambar Abellard.


"Tidak, sama sekali tidak merepotkan," bantah Mme Aamber cepat.


Alfred tampak tak terpengaruh dengan penolakan Abellard. Seolah teman bicaranya saat ini hanya adiknya dan Comtesse.


"Saya hanya berharap Angelia mendapatkan tempat beristirahat yang nyaman, tak perlu mewah. Sedangkan saya sendiri lebih suka tidur di keep menara. Kalau diperbolehkan, saya memilih Menara Selatan yang dekat dengan laut, karena saya sangat menyukai laut."


Abellard seketika tersentak.


Laki-laki itu pasti telah menyelidiki di mana kamar Naeva, dan sekarang dia ingin tidur di menara yang sama. Licik! Abellard sungguh membenci wajah pria Inggris yang memasang tampang bijaksana itu.


"Kau dengar? Betapa rendah hatinya mereka. Aku memang tak salah memilih," ujar Mme Aamber senang. Lalu beralih pada Alfred.


"Apapun yang anda inginkan, Lord Alfred sayangku. Aku akan meminta pelayan untuk membersihkan kamar itu."

__ADS_1


"Terimakasih, Ma'am." Alfred mengembangkan senyumnya. Seolah ada sesuatu yang baru dimenangkannya.


Sementara Abellard hanya bisa menatap keturunan dari Bangsawan Inggris itu dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.


__ADS_2